The Fed Kerek Suku Bunga, Dana Asing Terancam Kabur dari RI

The Fed resmi naikkan suku bunga ke 4%. Investor asing berpotensi tarik modal dari RI dan bikin Rupiah tertekan.

Diterbitkan 17 September 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4%. Langkah ini diperkirakan bakal memicu kaburnya modal asing (capital outflow) dari Indonesia.

Kepala Makroekonomi Indef, Rizal Taufikurrahman, menilai kenaikan Fed Funds Rate akan langsung memengaruhi perhitungan para investor asing di Indonesia. Imbal hasil yang lebih menggiurkan di AS berpotensi membuat mereka menarik dananya dari pasar domestik.

"Bagi investor, kenaikan Fed Rate mengubah kalkulasi risk-return aset Indonesia. Investor asing akan menuntut yield dan premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset Rupiah, sehingga arus modal menjadi lebih sensitif terhadap stabilitas Rupiah, kredibilitas fiskal, dan prospek ekonomi domestik," kata Rizal saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (17/9/2026).

Menurut Rizal, kondisi ini berpotensi menekan kurs Rupiah sekaligus memicu keluarnya modal asing karena imbal hasil Dolar AS dianggap lebih menarik.

Pandangan serupa disampaikan Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia, Teuku Riefky. Ia mengamini bahwa penyesuaian suku bunga AS ini bisa menjadi pemicu pelemahan Rupiah, meski dampaknya terhadap capital outflow diprediksi hanya bersifat sementara.

"Naiknya suku bunga the Fed memicu naiknya capital outflow yang akan mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah. Pengaruh terhadap kredit Indonesia tidak ada dampak langsung, nampaknya tidak akan naik kredit," urainya.

Picu Kenaikan Suku Bunga BI

Di sisi lain, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, memproyeksikan penguatan Dolar AS terhadap Rupiah masih akan berlanjut. Jika tekanan terhadap Rupiah makin tajam dan menyentuh level tertentu, Bank Indonesia (BI) mau tidak mau bisa saja ikut menaikkan suku bunga acuannya.

"Kalau Rupiah masuk lagi ke atas Rp 18.000, BI mungkin akan berpikir lagi untuk menaikan suku bunga acuannya dan ini akan berpengaruh ke kenaikan suku bunga kredit, obligasi, ekonomi Indonesia bisa mengalami tekanan," ucap dia.

"Investor asing mungkin bisa lebih memilih memarkirkan uangnya ke aset-aset AS karena tingkat imbal hasilnya naik," sambung dia.

The Fed Kerek Suku Bunga

Langkah The Fed menaikkan suku bunga ini merupakan yang pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Tak hanya itu, bank sentral AS tersebut memberi sinyal bahwa peluang kenaikan lanjutan masih terbuka lebar tahun ini.

Keputusan yang sudah diantisipasi pasar ini disetujui secara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Hasilnya, federal funds rate kini berada di level 3,75%–4%.

"Inflasi masih tinggi," kata komite dalam pernyataan singkat setelah rapat, dikutip dari CNBC, Kamis (17/9/2026).

"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target Komite sebesar 2%. Komite akan mewujudkan stabilitas harga."

Dalam sesi konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa laju inflasi saat ini masih tergolong tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. "Inflasi terlalu tinggi, terlalu lama," ujar Warsh.

Menurutnya, The Fed harus memastikan inflasi bergerak turun mendekati target secara konsisten dan dengan kecepatan yang memadai. "Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju tujuan kita dengan jelas dan pada kecepatan yang memadai," katanya.

"Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6