BRIN Punya Tabung Penyimpanan CNG Tekanan Rendah, Bisa Jadi Opsi Pengganti LPG

BRIN mengembangkan tabung yang mampu menyimpan CNG dengan tekanan sekitar 30 bar.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 12:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memamerkan teknologi penyimpanan compressed natural gas (CNG) bertekanan rendah. Teknologi ini mampu berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap liquified petroleum gas (LPG) yang mayoritas impor.

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, memaparkan teknologi tabung CNG itu ke hadapan Presiden Prabowo Subianto. Tabung yang dikembangkan BRIN ini mampu menyimpan CNG dengan tekanan sekitar 30 bar.

"Ini adalah alternative technology kami pak yang CNG, tapi tekanannya bisa sampai 30 bar pak tidak sampai 200 bar dan volumenya juga lebih banyak, satu setengah kalinya," kata Joddy saat mempresentasikan tabung CNG ke Presiden di Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip Sabtu (8/8/2026).

"Jadi kalau memang nanti masyarakat menggunakan ini, misalkan satu kali penggunaan seminggu, itu, LPG, ini (CNG) bisa satu, sepuluh hari, lima belas hari begitu, satu setengah kali untuk sementara," imbuh dia.

Bahan baku yang bisa disimpan yakni berupa gas alam atau natural gas C1 dan C2 yang pasokannya melimpah di Tanah Air. Sehingga, pemanfaatannya bisa mengurangi ketergantungan impor LPG.

Tampilan tabung berbeda dengan biasanya. Tabung CNG tersebut berbentuk semacam persegi. Ada keterangan material berongga atau Metal Organic Frameworks (MOF).

Pengembangan MOF

Mengutip laman resmi BRIN, Metal Organic Frameworks (MOF) menawarkan solusi penyimpanan gas alam (metana) yang menjanjikan sebagai pengganti LPG untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Hal ini karena kemampuannya menyimpan gas pada tekanan lebih rendah, potensi densitas energi volumetrik kompetitif, dan fleksibilitas.

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Joddy Arya Laksmono, menyampaikan bahwa saat ini BRIN telah berhasil membuat MOF dengan daya serap gas mendekati 95% dan pengujian sudah mencapai 700 kali siklus.

“Target kami 1000 siklus, artinya MOF bisa digunakan selama minimal 5 tahun. Setelah itu, hanya MOF-nya saja yang diganti tetapi tabung tetap sama,” kata Joddy, seperti dikutip.

 

Perbandingan Kinerja

Menurut Joddy, dalam pengembangan teknologi MOF ini tim peneliti juga membandingkan kinerja antara MOF, LPG maupun CNG, baik dari sisi teknis, efisiensi maupun keekonomiannya. LPG, CNG, dan ANG merupakan bahan bakar gas yang menawarkan emisi lebih rendah dibanding bahan bakar fosil konvensional.

LPG disimpan dalam bentuk cair pada tekanan relatif rendah sehingga memiliki kerapatan energi yang tinggi dan infrastruktur yang telah matang. CNG menggunakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan sangat tinggi (200–250 bar), menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah namun memerlukan tabung penyimpanan yang kuat dan mahal.

Sementara itu, ANG merupakan teknologi penyimpanan gas alam menggunakan material adsorben berpori seperti MOF (Metal-Organic Framework), sehingga gas dapat disimpan pada tekanan yang jauh lebih rendah dibanding CNG.

Hal ini memberikan keuntungan dari sisi keselamatan, efisiensi penyimpanan, dan potensi pengurangan biaya sistem, meskipun teknologi ANG masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk mencapai skala komersial yang luas.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6