Nilai Tukar Rupiah Kembali Tertekan, Investor Tunggu Keputusan BI

Nilai tukar rupiah hari ini melemah 32 poin ke 17.879 per dolar AS jelang keputusan suku bunga Bank Indonesia.

Diterbitkan 22 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah hari ini melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (22/9/2026). Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap wait and see investor menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), serta sentimen global dan harga minyak yang masih tinggi.

Rupiah dibuka di level 17.879 per dolar AS, melemah 32 poin atau 0,18 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar 17.847 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelaku pasar masih mencermati keputusan BI terkait arah suku bunga acuan.

“Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh domestik sikap wait and see pelaku pasar terkait keputusan RDG BI besok. Walaupun diperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan, namun beberapa negara cenderung sudah menaikkan suku bunga dan kekhawatiran melebarnya defisit neraca berjalan,” ucapnya dikutip dari Antara. 

Menurut Rully, BI berpotensi mempertahankan suku bunga untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Selain itu, sejumlah bauran kebijakan BI seperti lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), swap point, hingga intervensi di pasar obligasi dinilai masih efektif menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek.

Di sisi lain, Bank Sentral AS The Fed, Bank of Japan (BoJ), dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25 basis poin pada September 2026.

 

Harga Minyak

Selain kebijakan suku bunga, harga minyak juga menjadi perhatian pasar karena masih berada di atas asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni US$ 70 per barel.

Harga minyak yang tetap tinggi dikhawatirkan memberikan tekanan terhadap defisit anggaran dan neraca perdagangan Indonesia. Meski demikian, harga minyak mulai menunjukkan tren penurunan.

Mengutip Anadolu, harga minyak turun lebih dari 2 persen pada Senin (21/9/2026). Penurunan dipicu harapan dimulainya kembali perundingan AS-Iran serta pemulihan ekspor minyak mentah Arab Saudi.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November sempat berada di US$ 101,68 per barel, turun 2,12 persen dari penutupan sebelumnya US$ 103,87 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 2,32 persen menjadi US$ 93,85 per barel, dari sebelumnya US$ 96,08 per barel.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang 17.800 per dolar AS-17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6