Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai membayangi aktivitas sektor riil. Dampaknya terasa hingga ke meja produksi, termasuk bagi perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada kedelai impor.
Ketika dolar semakin mahal, biaya pembelian bahan baku ikut meningkat. Namun, perajin tidak leluasa menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, mengatakan pelemahan rupiah langsung menambah beban operasional pengusaha tahu dan tempe.
Advertisement
"Ketika rupiah melemah, harga kedelai impor semakin mahal. Kondisi ini membuat biaya produksi pengusaha tahu dan tempe meningkat, sementara kami tidak bisa sembarangan menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Wibowo kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).
Tekanan tersebut semakin terasa seiring pelemahan rupiah sepanjang 2026. Berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia, kurs dolar AS naik dari Rp 16.725 pada 2 Januari menjadi Rp 18.140 pada Rabu (4/11/2026), atau meningkat sekitar 8,46%.
Bukan Hanya Kedelai, Industri Nasional Bergantung pada Impor
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563925/original/023437400_1776920404-1.jpg)
Persoalan yang dihadapi perajin tahu dan tempe hanya sebagian kecil dari tantangan industri nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku dan barang modal impor membuat banyak sektor rentan terhadap pelemahan rupiah.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mencatat impor bahan baku dan barang penolong mencapai US$ 150,57 miliar atau sekitar 71,5% dari total impor nasional. Sementara impor barang modal mencapai US$ 41,55 miliar atau sekitar 19,7%.
“Impor bahan baku dan barang penolong tercatat mencapai US$ 150,57 miliar atau sekitar 71,5% dari total impor nasional, dengan pertumbuhan sebesar 21,11%. Sementara itu, impor barang modal mencapai US$ 41,55 miliar atau sekitar 19,7% dari total impor, tumbuh 16,49%,” kata Shinta.
Industri tekstil, alas kaki, elektronik, otomotif, kimia, hingga farmasi termasuk yang rentan. Sektor makanan dan minuman juga membutuhkan bahan impor seperti gandum, kedelai, susu bubuk, serta material kemasan.
"Perusahaan yang sebagian besar pendapatannya berasal dari pasar domestik dalam rupiah, tetapi harus membayar bahan baku, barang modal, atau kewajiban pembiayaan dalam dolar AS, tentu menghadapi tekanan lebih besar," jelasnya.
Advertisement
Perusahaan Terjepit, Harga Jual Sulit Dinaikkan
Kenaikan biaya produksi tidak selalu bisa diteruskan kepada konsumen. Perusahaan harus mempertimbangkan risiko penurunan permintaan jika harga jual dinaikkan. Sebaliknya, mempertahankan harga berarti menerima margin keuntungan yang semakin tipis.
Dampak tersebut juga menjalar ke sektor transportasi, logistik, konstruksi, properti, hingga industri digital. Kebutuhan mesin, suku cadang, baja, perangkat keras, lisensi perangkat lunak, dan layanan komputasi awan yang dibayar dalam dolar AS membuat biaya operasional semakin berat.
Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira, mengatakan tingkat ketergantungan terhadap komponen berdenominasi valuta asing menjadi penentu besarnya tekanan.
"Jadi, ukuran dampaknya bukan hanya apakah suatu usaha melakukan ekspor atau impor, tetapi seberapa besar ketergantungannya pada komponen berdenominasi valuta asing,” ujar Anggawira.
Tekanan tersebut bahkan dapat menjalar kepada perusahaan yang tidak mengimpor langsung karena pemasok domestik ikut menaikkan harga.
Shinta mengingatkan, jika berlangsung lama, kondisi ini dapat mendorong perusahaan mengurangi produksi, menunda investasi, hingga menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja.
UMKM Diminta Rela Untung Tipis agar Tidak Gulung Tikar
Tekanan pelemahan rupiah juga membayangi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbeda dengan perusahaan besar, pelaku usaha kecil umumnya memiliki ruang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya bahan baku.
Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, mengingatkan kenaikan biaya produksi dan potensi pelemahan daya beli masyarakat dapat menekan keberlangsungan usaha.
"Kalau UMKM-nya ambruk, UMKM-nya collapse, ekonomi Indonesia akan collapse. Dan itu kita tidak mau. Kita tidak mau Indonesia collapse,” ujar Edy kepada Liputan6.com, Rabu (4/11/2026).
Untuk bertahan, dia menyarankan pelaku UMKM menyesuaikan margin keuntungan daripada terburu-buru menaikkan harga jual.
"Yang tadinya misalnya profit-nya bisa 15%, kenapa dengan kita mengurangi profit menjadi 8% atau 9%? Tidak apa-apa. Tapi 8% atau 9% itu masih mampu membuat kita bertahan," katanya.
Edy juga meminta pemerintah mempermudah akses pembiayaan dan perizinan. Selain itu, masyarakat diharapkan meningkatkan pembelian produk lokal agar permintaan terhadap produk UMKM tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi.
Advertisement
Ada yang Tertekan, Ada yang Justru Mendapat Peluang
Di tengah tekanan biaya produksi, pelemahan rupiah ternyata tidak selalu merugikan seluruh pelaku usaha. UMKM berorientasi ekspor dan sektor pariwisata justru berpeluang mendapatkan keuntungan lebih besar.
Pendapatan dalam dolar AS akan memiliki nilai konversi lebih tinggi ketika ditukar ke rupiah. Peluang ini semakin besar bagi pengusaha yang menggunakan bahan baku lokal dan memiliki biaya operasional dalam negeri.
Edy Misero dari Akumindo menilai ekspor dan pariwisata menjadi dua sektor yang berpotensi menikmati keuntungan tersebut.
"UMKM yang bekerja di sektor ekspor, UMKM yang bekerja di sektor pariwisata, itu tetap terbuka peluangnya untuk mendapatkan profit yang lebih baik,” ujarnya.
Ketua Umum Aspebindo Anggawira juga melihat pelemahan rupiah sebagai momentum memperkuat substitusi impor melalui pengembangan bahan baku, komponen, dan teknologi lokal.
Namun, peluang tersebut membutuhkan dukungan pemerintah, mulai dari kepastian kebijakan, akses pembiayaan, hingga fasilitas lindung nilai.
Pada akhirnya, pelemahan rupiah menjadi ujian bagi daya tahan industri nasional. Penguatan rantai pasok domestik menjadi pekerjaan penting agar gejolak nilai tukar tidak terus-menerus membebani dunia usaha, UMKM, dan lapangan kerja.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390112/original/030554700_1793783300-cek_fakta_-_petugas_haji_terbaru.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389848/original/059413000_1793775328-WhatsApp_Image_2026-11-04_at_12.15.43.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3464676/original/093645700_1621928371-20210525-Pabrik-Tahu-TALLO-6.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493900/original/029057900_1770271595-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579576/original/026720500_1778057267-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4430073/original/042665900_1684234026-Hari_ini_IHSG_ditutup_melemah-ANGGA_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3285859/original/062073000_1604404965-20201103-pembebasan-tarif-bea-masuk-permudah-umkm-ekspor-produk-ke-AS-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331357/original/032414900_1787539603-sho2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331356/original/099301900_1787539602-sho3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291090/original/060643400_1604902998-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2970772/original/032944800_1574070739-20191118-Perdagangan-Awal-Pekan-IHSG-Ditutup-di-Zona-Merah-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282581/original/072799000_1672910732-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_1.jpg)