Rupiah Tertekan, Sektor Saham Ini Bakal Diuntungkan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di kisaran 18.100. Di tengah pelemahan rupiah, ada sektor saham dan saham bisa dicermati.

Diterbitkan 04 November 2026, 16:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pekan lalu saja, rupiah melemah 0,39% ke level 18.127 per dolar Amerika Serikat. Di tengah pelemahan rupiah, sektor dan saham apa saja yang berpotensi diuntungkan?

Adapun tekanan terhadap rupiah masih tertekan. Berdasarkan data RTI, pada Rabu, (4/11/2026) saat dipantau pukuk 13.46 WIB, posisi dolar AS terhadap rupiah di 18.140. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi kedua, IHSG melemah 0,77% menjadi 4.866. Indeks saham LQ45 tergelincir 0,11% menjadi 496.

Di tengah pelemahan IHSG dan rupiah, sektor dan saham apa yang menarik untuk dicermati?

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia,Nafan Aji menuturkan, sektor saham komoditas berorientasi ekspor akan diuntungkan dari pelemahan rupiah. Seiring hal itu, saham-saham yang akan berdampak antara lain saham PT Alamtri Resources Minerals Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT PP London Sumatera Tbk (LSIP).

"Emiten tersebut berpotensi memperoleh manfaat dari pendapatan berbasis dolar Amerika Serikat, terutama apabila pelemahan rupiah tidak diikuti penurunan harga jual komoditas yang signifikan,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com, dikutip Rabu, (4/11/2026).

Ia menambahkan, saham konsumer defensif seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF),dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga dapat dicermati. Nafan menilai, permintaan produk dari emiten itu relatif stabil.

 

Pelemahan Rupiah Dapat Dongkrak Biaya Bahan Baku

Sedangkan saham perbankan kapitalisasi besar antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), menurut Nafan berpotensi menjadi pilihan bagi investor yang mencari emiten dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.

"Kendati demikian, pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya bahan baku impor dan beban utang valuta asing bagi sejumlah perusahaan,” kata dia,

Seiring hal itu, Nafan menuturkan, investor perlu memperhatikan eksposur valuta asing, kinerja keuangan, valuasi serta kekautan harga relatif masing-masing saham. Ia juga mengingatkan saham-saham itu tidak otomatis mengaut saat IHSG melemah, terutama jika tekanan pasar dipicu oleh arus keluar dana asing dan meningkatnya risiko investasi di Indonesia.