Harga Minyak Dunia Turun, Arab Saudi Usulkan Koalisi Amankan Jalur Perdagangan

Harga minyak Brent turun hampir 2% ke US$ 89,03 per barel setelah Arab Saudi mengusulkan koalisi untuk mengamankan jalur pelayaran.

Diterbitkan 31 Juli 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada perdagangan Kamis setelah Arab Saudi mengusulkan koalisi angkatan laut untuk melindungi jalur perdagangan utama dari serangan Iran dan sekutunya di Laut Merah serta Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Jumat (31/7/2026), harga minyak Brent turun hampir 2% menjadi US$ 89,03 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS melemah sekitar 1% menjadi US$ 83,59 per barel.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebut lebih dari 40 negara menghadiri pertemuan untuk membahas "penguatan kerja sama pertahanan maritim dan penyatuan upaya untuk melindungi keamanan jalur pelayaran."

Rencana tersebut muncul setelah kelompok Houthi di Yaman, sekutu Iran, mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pekan lalu. Iran juga berulang kali menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Sebelumnya, Brent melonjak hampir 8% pada Rabu seiring eskalasi konflik Timur Tengah. AS melancarkan "gelombang serangan besar" terhadap Iran sebagai balasan atas serangan rudal terhadap pasukan Amerika.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengancam akan meningkatkan serangan sebagai respons.

 

Konflik AS-Iran Kembali Memanas

Ketegangan juga terjadi di Mesir. Dua kapal dilaporkan terkena serangan drone di Pelabuhan Damietta di kawasan Mediterania, lokasi pusat gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.

Serangan tersebut menambah ketidakpastian setelah konflik sejak akhir Februari mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz.

AS sebelumnya menghentikan serangan terhadap target Iran pada akhir pekan lalu setelah berlangsung dua pekan untuk memberikan "ruang" bagi pembicaraan damai. Namun, serangan kembali dilakukan setelah pasukan Amerika menjadi sasaran.

"Kami akan menyerang mereka dengan keras. Mereka akan mendapat pukulan," ujar Presiden AS Donald Trump kepada reporter Fox News.

Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyebut operasi tersebut sebagai "respons kuat" terhadap upaya serangan Iran.

Operasi selama sekitar dua jam itu menyasar puluhan target IRGC, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, pertahanan pesisir, serta kemampuan maritim.

Eskalasi konflik menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pengiriman energi dan pasokan minyak global.

 

Pasar Tunggu Keputusan OPEC+

Di tengah ketegangan Timur Tengah, pelaku pasar menantikan pertemuan OPEC+ pada Minggu. Kelompok produsen minyak tersebut diperkirakan mengumumkan tambahan pasokan 188.000 barel per hari untuk September.

Pasar kini menghadapi dua faktor yang dapat menentukan harga minyak, yakni risiko gangguan pasokan akibat konflik dan potensi peningkatan produksi OPEC+.

Strategis ING menilai kebijakan kelompok produsen tersebut akan menjadi salah satu ketidakpastian pasar hingga 2027.

"Ketidakpastian besar hingga 2027 akan berkaitan dengan kebijakan kelompok tersebut, dengan adanya potensi penolakan terhadap kuota produksi," tulis strategis ING.

Selat Hormuz tetap menjadi perhatian karena memiliki peran penting dalam perdagangan energi global. Gangguan pelayaran di jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan mendorong volatilitas harga minyak.

Sementara itu, rencana koalisi angkatan laut Arab Saudi berpotensi meredakan kekhawatiran apabila mampu meningkatkan keamanan jalur perdagangan.

Arah harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran, keamanan pelayaran di Timur Tengah, serta keputusan produksi OPEC+ untuk September.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6