Harga Minyak Dunia Makin Mahal di Tengah Serangan Houthi dan Iran

Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan setelah serangan Houthi ke Arab Saudi dan aksi Iran terhadap kapal di Teluk.

Diterbitkan 15 September 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melanjutkan kenaikan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) di tengah laporan serangan baru kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan aksi Iran terhadap sejumlah kapal di kawasan Teluk.

Mengutip CNBC, Selasa (15/9/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 1,25% menjadi US$ 107 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Oktober menguat 1,27% menjadi US$ 102,68 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Arab Saudi menutup jalur pipa East-West yang menjadi jalur penting untuk menghindari Selat Hormuz. Penutupan dilakukan setelah serangan drone yang diluncurkan dari Irak merusak pipa tersebut.

Gangguan ini menambah tekanan terhadap pasokan minyak global ketika kondisi pasar sudah ketat.

Al Jazeera melaporkan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyebut 13 warga sipil terluka pada Senin (14/9/2026), setelah pasukan Houthi melancarkan serangkaian serangan rudal balistik dan drone ke wilayah Arab Saudi.

Iran Serang Drone Amerika Serikat

Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah menghancurkan drone Amerika Serikat di atas Selat Hormuz. Aksi tersebut terjadi setelah serangkaian operasi Iran terhadap sistem drone angkatan laut AS di kawasan Teluk.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu (13/9/2026) mengatakan Amerika Serikat dapat melanjutkan kampanyenya terhadap Iran dan mengambil alih minyak negara tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga membantah klaim Iran bahwa kapal tanker minyak berbendera Panama, El Gaia, menabrak ranjau laut di Selat Hormuz.

“Kapal tanker minyak El Gaia berbendera Panama terkena rudal Iran pada bulan lalu dan mengalami kerusakan sehingga tidak dapat beroperasi,” kata CENTCOM.

“Inflasi akan meningkat, mengingat jaringan pipa minyak diserang dan pipa East-West Arab Saudi ditutup,” kata Presiden Sri-Kumar Global Strategies, Komal Sri-Kumar, kepada CNBC.

“Selain itu, ada perang tarif yang semakin meningkat, dan hal tersebut akan memberikan tekanan terhadap kenaikan harga dan pada akhirnya terhadap imbal hasil obligasi,” tambah Sri-Kumar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6