Kulit Buah dan Sayur yang Aman Dimakan, Ada yang Justru Kaya Nutrisi

Kulit buah dan sayur yang aman dimakan, ada yang justru kaya nutrisi dan tak perlu selalu dikupas.

Diterbitkan 15 September 2026, 12:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengupas buah dan sayur sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Padahal, kulitnya sering mengandung vitamin, serat, dan antioksidan sehingga mengupasnya bisa membuat sebagian nutrisi ikut terbuang.

Meski begitu, tidak semua buah dan sayur perlu dimakan bersama kulitnya. Mengupas tetap boleh dilakukan, terutama jika cara ini membantu memenuhi anjuran konsumsi lima porsi buah dan sayuran setiap hari. Yang penting, ketahui kulit mana yang aman dimakan dan mana yang sebaiknya dibuang.

Berikut jenis kulit buah dan sayur yang aman dikonsumsi, bagian yang sebaiknya tidak dimakan, serta cara mencucinya dengan benar jika kulitnya akan ikut dikonsumsi. Informasinya dikutip dari laman Martha Stewart, Selasa (15/9).

Kulit Buah dan Sayur yang Aman Dimakan

Apel dan Pir

Kulit apel dan pir mengandung serat serta antioksidan dalam jumlah cukup tinggi, terutama quercetin. Senyawa polifenol ini memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat membantu mengurangi peradangan serta mendukung kesehatan jantung dan otak.

Jika apel atau pir akan dimakan bersama kulitnya, pastikan buah sudah dicuci terlebih dahulu.

Persik, Nektarin, dan Plum

Kulit buah berbiji seperti persik, nektarin, dan plum, baik yang berbulu maupun halus, sebenarnya dapat dimakan. Kulitnya juga mengandung serat dan antioksidan.

Sama seperti apel dan pir, buah-buahan tersebut perlu dibilas dengan baik sebelum dikonsumsi bersama kulitnya.

Kentang dan Ubi Jalar

Kulit kentang merupakan sumber serat dan kalium yang baik. Kentang dapat digosok hingga bersih di bawah air mengalir, kemudian dimasak bersama kulitnya, misalnya dengan cara dipanggang atau dibakar. Ubi jalar juga dapat dimasak tanpa perlu dikupas terlebih dahulu.

Namun, pastikan kentang yang digunakan belum mengalami kerusakan. Kentang yang sudah banyak berubah warna menjadi hijau atau terlalu banyak bertunas dapat mengandung glikoalkaloid dalam konsentrasi tinggi, terutama pada bagian kulit, tunas, dan area yang berwarna hijau.

Kandungan glikoalkaloid yang tinggi dapat menyebabkan gejala pada saluran pencernaan dan sistem saraf. Kondisi tersebut merupakan persoalan keamanan pangan, bukan sekadar masalah rasa.

Wortel

Wortel umumnya cukup dibersihkan dengan menyikat permukaannya sebentar. Mengupas wortel lebih berkaitan dengan pilihan tekstur daripada kebutuhan atau keamanan pangan.

Mentimun

Kulit mentimun dapat menambah serat dan asupan vitamin K. Jika permukaannya terasa seperti dilapisi lilin, mentimun tetap dapat dikonsumsi setelah dicuci dan digosok hingga bersih.

Terong

Kulit terong dapat dimakan dan mengandung sebagian besar antioksidan yang terdapat pada sayuran ini, termasuk nasunin.

Namun, terong yang berukuran sangat besar atau sudah tua bisa memiliki kulit yang lebih keras sehingga mengupasnya dapat menjadi pilihan.

Zucchini dan Labu Kuning

Zucchini dan labu kuning memiliki kulit yang tipis dan empuk sehingga tidak perlu dikupas sebelum dimasak atau dikonsumsi.

Labu Musim Dingin

Beberapa jenis labu musim dingin memiliki kulit yang dapat dimakan setelah dimasak. Kulit labu acorn, delicata, honeynut, dan sweet dumpling biasanya akan melunak saat dipanggang sehingga dapat ikut dimakan.

Jika setelah dimasak kulitnya masih terasa keras dan berserat, sebaiknya bagian tersebut dibuang. Sementara itu, beberapa varietas lain seperti kabocha dan Hubbard memiliki kulit yang terlalu tebal sehingga kurang menarik untuk dimakan.

Labu spaghetti memiliki kulit yang paling keras dan paling tidak menarik di antara jenis-jenis tersebut. Adapun kulit labu butternut berada di tengah-tengah. Sebagian orang mungkin menyukai teksturnya setelah dipanggang, tetapi sebagian lainnya tidak.

Kiwi

Meski memiliki permukaan berbulu, kulit kiwi sebenarnya dapat dimakan. Bagian tersebut juga memberikan tambahan serat dan vitamin C.

Namun, banyak orang memilih menggosok bulu pada permukaan kiwi terlebih dahulu, mengupas kulitnya, atau mengolah buah bersama kulitnya ke dalam smoothie.

Pada orang yang alergi terhadap kiwi atau memiliki riwayat sindrom lateks-buah maupun sindrom alergi oral, kulit kiwi dapat memicu rasa gatal, kesemutan, atau reaksi yang menyerupai alergi.

Kulit Buah dan Sayur yang Sebaiknya Tidak Dimakan

Sebagian besar kulit buah dan sayuran yang umum dikonsumsi sebenarnya tidak selalu beracun atau berbahaya. Alasan kulit tersebut biasanya tidak dimakan lebih berkaitan dengan rasa yang pahit, tekstur yang keras, sulit dibersihkan, atau sulit dicerna.

Namun, terdapat pengecualian, yaitu kulit buah ackee serta kentang yang sudah berwarna hijau atau terlalu banyak bertunas. Mengonsumsi kulit dari kedua jenis bahan tersebut dalam jumlah besar dapat menyebabkan keracunan.

Kulit Alpukat

Kulit alpukat memiliki tekstur keras, rasa pahit, dan sulit dicerna. Meski tidak beracun dalam jumlah kecil, tidak ada manfaat yang membuat kulit alpukat perlu dikonsumsi.

Kulit Pisang

Kulit pisang secara teknis dapat dimakan setelah dimasak. Namun, kulit pisang mentah memiliki tekstur berserat dan rasa pahit, serta dapat mengandung residu pestisida.

Kulit Nanas

Kulit nanas memiliki tekstur tajam dan berserat serta pada dasarnya tidak dapat dicerna. Karena itu, kulit nanas sebaiknya tidak dikonsumsi.

Kulit Mangga

Kulit mangga secara teknis dapat dimakan, tetapi teksturnya berserat dan rasanya bisa pahit. Kulit mangga juga mengandung urushiol, senyawa yang juga terdapat pada tanaman poison ivy dan dapat memicu reaksi pada kulit atau mulut pada orang yang sensitif.

Kondisi tersebut dianggap jarang terjadi. Namun, bagi seseorang yang memiliki riwayat sensitivitas terhadap tanaman poison ivy, kulit mangga sebaiknya dikupas menggunakan pisau sebelum buah dimakan.

Kulit Melon

Kulit cantaloupe dan honeydew memiliki permukaan kasar sehingga umumnya tidak dimakan. Daging buah yang berada tepat di bawah kulit justru mengandung serat paling banyak.

Kulit semangka menjadi pengecualian. Setelah bagian luarnya yang hijau dan keras dikupas, bagian putih kulit semangka dapat dimakan setelah dimasak atau diasamkan.

Kulit semangka dapat digunakan sebagai makanan, sedangkan kulit cantaloupe yang kasar dan memiliki permukaan seperti jaring membutuhkan pertimbangan keamanan pangan yang berbeda karena permukaannya dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri.

Bagaimana dengan Kulit Buah Jeruk?

Kulit jeruk, lemon, limau, dan jeruk bali secara teknis dapat dimakan. Namun, bagian tersebut tentu bukan jenis kulit yang biasanya dimakan begitu saja.

Lapisan luarnya mengandung minyak dan rasa jeruk yang pekat. Karena itu, kulit biasanya diparut terlebih dahulu, kemudian digunakan untuk menambah cita rasa pada kue, saus salad, atau koktail.

Di bawah lapisan luar terdapat bagian putih yang disebut pith. Bagian ini memiliki rasa sangat pahit. Meskipun mengandung serat dan senyawa tumbuhan yang bermanfaat, pith biasanya tidak dimakan.

Jika ingin mengonsumsi bagian tersebut, salah satu caranya adalah membuat kulit jeruk manisan. Kulit jeruk dimasak bersama gula sehingga rasa pahitnya berkurang.

Cara Mencuci Buah dan Sayur Jika Kulitnya Dimakan

Jika kulit buah dan sayur akan ikut dikonsumsi, pencucian menjadi bagian penting yang tidak boleh dilewatkan. Semua buah dan sayuran perlu dicuci menggunakan air mengalir yang bersih tepat sebelum dimakan atau dimasak, termasuk produk yang memiliki label organik karena tetap dapat memiliki residu pestisida atau kontaminan lainnya.

Untuk buah dan sayur bertekstur keras seperti kentang, wortel, dan mentimun, permukaannya dapat digosok menggunakan sikat buah dan sayur yang bersih. Cara ini membantu membersihkan kotoran atau residu yang mungkin berada di celah-celah permukaannya.

Sabun, deterjen, maupun pembersih buah dan sayur komersial sebaiknya tidak digunakan. Air biasa dan, bila diperlukan, tindakan menggosok permukaan umumnya sudah menjadi cara yang direkomendasikan untuk membersihkan buah dan sayuran.

Membilas buah dan sayur di bawah air mengalir dapat membantu menghilangkan residu pestisida. Perendaman singkat dalam larutan soda kue atau cuka yang telah diencerkan juga dapat membantu mengurangi residu pestisida.

Buah dan sayur juga tetap perlu dicuci meskipun nantinya akan dikupas. Pasalnya, ketika buah atau sayuran yang belum dicuci dipotong, pisau dapat membawa bakteri atau residu dari permukaan kulit menuju bagian daging buah.

Selain itu, penelitian pada melon menunjukkan adanya perpindahan organisme seperti Salmonella dan Listeria dari permukaan kulit ke daging buah selama proses pemotongan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kulit Buah dan Sayur yang Aman Dimakan

Apakah semua kulit buah dan sayur aman dimakan?

Tidak. Beberapa kulit aman dikonsumsi, seperti apel, pir, kiwi, wortel, mentimun, dan terong. Sementara itu, kulit alpukat, nanas, serta kentang yang sudah hijau atau terlalu banyak bertunas sebaiknya tidak dimakan.

Apakah buah dan sayur perlu dicuci sebelum dikupas?

Ya. Buah dan sayur tetap perlu dicuci dengan air mengalir meskipun akan dikupas. Cara ini membantu mencegah bakteri atau residu dari permukaan kulit berpindah ke bagian dalam saat dipotong.

Bagaimana cara mencuci buah dan sayur yang kulitnya akan dimakan?

Cuci dengan air mengalir dan gosok permukaannya jika diperlukan, terutama pada buah dan sayur yang keras. Hindari sabun, deterjen, atau pembersih khusus buah dan sayur. Perendaman singkat dalam larutan soda kue atau cuka yang telah diencerkan juga dapat membantu mengurangi residu pestisida.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6