Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, Minggu sore bisa terasa kurang menyenangkan karena bayangan hari Senin mulai muncul. Memikirkan pekerjaan, jadwal yang padat, target yang belum selesai, atau harus kembali menjalani rutinitas setelah akhir pekan terkadang sudah cukup membuat seseorang merasa berat. Namun, ada pula orang yang justru dapat menghadapi Senin dengan lebih tenang tanpa terlalu banyak mencemaskan apa yang akan terjadi.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti seseorang memiliki pekerjaan yang lebih mudah atau hidup tanpa tekanan. Cara seseorang memandang hari Senin juga dapat dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari, cara mengelola pikiran, serta bagaimana ia mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab. Ketika seseorang tidak terlalu larut dalam kekhawatiran tentang awal pekan, Senin pun mungkin terasa sebagai bagian biasa dari rutinitas, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Dari sudut pandang psikologi, pola pikir seperti ini menarik untuk diperhatikan karena kebiasaan kecil dapat memengaruhi cara seseorang merespons tekanan dan perubahan rutinitas. Lantas apa saja kebiasaan orang yang tidak takut menghadapi hari senin? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (15/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Tidak Menganggap Senin sebagai Sesuatu yang Harus Ditakuti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189100/original/097640900_1744738230-Perfeksionisme.jpg)
Orang yang tidak terlalu takut menghadapi hari Senin biasanya tidak menghabiskan banyak waktu untuk membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum minggu kerja benar-benar dimulai. Mereka tetap bisa merasa malas, lelah, atau kurang bersemangat, tetapi tidak langsung menganggap Senin sebagai sesuatu yang mengancam. Bagi mereka, Senin merupakan bagian dari rutinitas yang harus dijalani, bukan sebuah masalah besar yang harus dicemaskan sejak Minggu.
Cara memandang seperti ini berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons sesuatu yang belum terjadi. Ketika pikiran terus memprediksi pekerjaan menumpuk, atasan yang mungkin marah, rapat yang melelahkan, atau berbagai persoalan lain, tubuh dapat ikut merespons seolah-olah masalah tersebut sudah terjadi. Sebaliknya, seseorang yang mampu memisahkan antara fakta dan kekhawatiran dapat menghadapi awal pekan dengan pikiran yang lebih proporsional.
Advertisement
2. Suka Mempersiapkan Hal Penting Sebelum Senin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323865/original/092945400_1786678061-pexels-yankrukov-7640428.jpg)
Salah satu kebiasaan yang dapat membuat awal pekan terasa lebih ringan adalah mempersiapkan beberapa kebutuhan sebelum Senin tiba. Misalnya, mereka sudah mengetahui pekerjaan apa yang harus diselesaikan, menyiapkan pakaian, merapikan meja kerja, atau mencatat beberapa tugas yang perlu menjadi prioritas. Persiapan sederhana tersebut dapat mengurangi perasaan harus menghadapi semuanya sekaligus pada Senin pagi.
Menariknya, persiapan seperti ini bukan semata-mata tentang menjadi orang yang sangat produktif. Tujuannya justru menciptakan rasa memiliki kendali terhadap sesuatu yang sebelumnya terasa tidak pasti. Ketika seseorang mengetahui apa yang akan dilakukan terlebih dahulu, pikirannya tidak perlu terus menerus mencari jawaban atas pertanyaan seperti “besok harus mulai dari mana?”
Dalam artikel 11 Strategies to Help Combat Monday Work Dread, Psychology Today menyarankan membuat rencana untuk minggu yang akan datang karena perencanaan yang proaktif dapat membantu menciptakan rasa kontrol dan ketenangan. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa menuliskan rencana dapat membantu seseorang memperjelas apa yang ingin dicapai.
3. Tidak Membawa Urusan Pekerjaan Sepanjang Akhir Pekan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758817/original/010302600_1709289434-Ilustrasi_ngobrol__nongkrong__kumpul_bareng_teman__akhir_pekan__santai.jpg)
Orang yang tidak takut menghadapi Senin biasanya mampu memberikan batas yang cukup jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Mereka tidak merasa harus terus-menerus memeriksa email, pesan pekerjaan, atau daftar tugas selama akhir pekan jika memang tidak mendesak. Dengan begitu, otak mendapatkan kesempatan untuk benar-benar beristirahat sebelum kembali menghadapi rutinitas.
Kebiasaan ini penting karena terus memikirkan pekerjaan justru dapat membuat seseorang merasa seolah-olah tidak pernah benar-benar meninggalkan kantor. Bahkan ketika sedang berada di rumah atau menikmati waktu bersama keluarga, sebagian perhatian masih tertuju pada pekerjaan yang akan datang. Akibatnya, waktu istirahat tidak terasa sebagai istirahat yang sebenarnya.
Psychology Today juga membahas pentingnya batasan dengan pekerjaan pada akhir pekan, termasuk menghindari kebiasaan memeriksa email secara terus-menerus. Membatasi kapan pekerjaan boleh diakses dapat membantu mencegah kecemasan terkait pekerjaan semakin menguasai waktu pribadi.
Dengan batas yang lebih sehat, seseorang dapat memasuki Senin dengan kondisi yang lebih siap. Ia tidak merasa bahwa akhir pekan sudah habis untuk memikirkan pekerjaan. Justru karena memiliki waktu untuk berhenti sejenak, transisi kembali menuju rutinitas kerja bisa terasa lebih wajar.
Advertisement
4. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3974966/original/087712300_1648200953-brooke-cagle-JBwcenOuRCg-unsplash__2_.jpg)
Salah satu perbedaan antara orang yang tenang menghadapi Senin dan orang yang terus mencemaskannya dapat terlihat dari fokus pikirannya. Mereka cenderung memikirkan hal-hal yang memang bisa dilakukan sekarang, bukan berusaha mengendalikan semua kemungkinan yang mungkin terjadi pada minggu depan.
Misalnya, seseorang mungkin tidak dapat mengendalikan apakah rapat Senin akan berjalan lancar, bagaimana respons atasannya terhadap sebuah pekerjaan, atau apakah ada tugas tambahan yang tiba-tiba muncul. Namun, ia masih dapat mengendalikan persiapan, waktu tidur, perlengkapan kerja, serta prioritas yang ingin dikerjakan terlebih dahulu.
Dalam pembahasannya mengenai Sunday Scaries, Dr. Kia-Rai Prewitt, PhD, psikolog di Cleveland Clinic menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bentuk anticipatory anxiety, yaitu kecemasan terhadap sesuatu yang akan terjadi. Ia menyarankan agar seseorang lebih berfokus pada hal yang dapat dikendalikan saat ini daripada terus mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi.
Pola pikir tersebut dapat membuat hari Senin terasa lebih sederhana. Alih-alih memikirkan seluruh persoalan dalam satu waktu, seseorang cukup menentukan langkah yang memang dapat dilakukan. Cara ini tidak menghilangkan semua sumber stres, tetapi membantu pikiran agar tidak memperbesar masalah sebelum masalah tersebut benar-benar muncul.
5. Tetap Memiliki Sesuatu yang Dinantikan pada Hari Senin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5233020/original/051185700_1748260367-steptodown.com977184.jpg)
Orang yang tidak takut menghadapi Senin biasanya tidak membuat awal pekan hanya berisi pekerjaan dan kewajiban. Mereka masih menyisakan sesuatu yang menyenangkan, meskipun kecil. Bisa berupa sarapan favorit, membeli kopi sebelum bekerja, makan siang bersama teman, berolahraga setelah pulang kerja, atau meluangkan waktu untuk melakukan hobi.
Kebiasaan tersebut membuat Senin tidak sepenuhnya diasosiasikan dengan hal-hal yang melelahkan. Ketika seseorang mengetahui bahwa setelah menjalani rutinitas masih ada sesuatu yang menyenangkan, pikirannya memiliki pengalaman positif yang dapat dinantikan. Hal sederhana seperti ini bisa membuat hari yang sebelumnya dianggap membosankan terasa sedikit lebih menarik.
Salah satu strategi yang disarankan adalah merencanakan aktivitas menyenangkan selama minggu kerja. Aktivitas tersebut tidak harus besar atau mahal, karena hal sederhana yang membuat seseorang senang pun dapat menjadi sesuatu yang dinantikan.
Karena itu, orang yang santai menghadapi Senin bukan berarti mereka selalu menyukai pekerjaan atau rutinitasnya. Mereka mungkin hanya tidak membiarkan pekerjaan menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan hari tersebut. Ada ruang untuk menikmati hal-hal kecil yang membuat kehidupan tetap terasa seimbang.
Advertisement
6. Tidak Menganggap Rasa Malas sebagai Pertanda Semuanya Buruk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235851/original/072546600_1748437174-happy-young-asian-woman-feel-success-winning-celebrating-sitting-with-laptop-smartphone-c.jpg)
Merasa malas pada Minggu malam atau Senin pagi sebenarnya tidak otomatis berarti seseorang membenci pekerjaannya. Orang yang memiliki pola pikir lebih realistis memahami bahwa perubahan dari waktu santai menuju rutinitas memang dapat terasa berat. Mereka tidak langsung menyimpulkan bahwa dirinya gagal, tidak produktif, atau salah memilih kehidupan hanya karena tidak bersemangat pada awal pekan.
Kemampuan untuk menerima perasaan tersebut dapat mencegah munculnya masalah tambahan. Bayangkan seseorang merasa sedikit malas pada Minggu malam, kemudian mulai menyalahkan dirinya sendiri karena “seharusnya” bersemangat. Rasa bersalah tersebut justru dapat menambah tekanan sehingga kecemasan semakin besar.
Orang yang lebih tenang biasanya dapat mengatakan kepada dirinya bahwa rasa berat tersebut hanya sebuah perasaan yang akan berlalu. Ia tetap dapat melakukan apa yang harus dilakukan tanpa harus menunggu suasana hati menjadi sempurna. Dengan begitu, emosi tidak sepenuhnya menentukan tindakan.
Namun, apabila rasa takut menghadapi pekerjaan muncul terus-menerus dan sampai mengganggu tidur, kesehatan, hubungan sosial, atau kehidupan sehari-hari, hal tersebut sebaiknya tidak dianggap sekadar “benci Senin”. Dr. Prewitt juga menyarankan untuk melihat faktor yang mendasari stres, misalnya jam kerja yang terlalu panjang atau lingkungan kerja yang bermasalah.
7. Menjaga Rutinitas Tidur dan Istirahat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4702920/original/063186800_1704000820-bruce-mars-s8PTWCu5maQ-unsplash.jpg)
Orang yang tidak terlalu takut menghadapi Senin juga cenderung tidak membuat perubahan ekstrem pada pola hidup selama akhir pekan. Mereka tetap memberikan tubuh waktu untuk beristirahat, tetapi tidak selalu menggeser jam tidur dan bangun terlalu jauh dari rutinitas hari kerja. Kebiasaan tersebut dapat membuat transisi menuju Senin terasa lebih mulus.
Sebaliknya, jika seseorang tidur sangat larut selama dua hari kemudian harus kembali bangun pagi pada Senin, tubuh dapat membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, Senin pagi terasa jauh lebih berat bahkan sebelum pekerjaan dimulai. Rasa lelah tersebut kemudian bisa memperkuat persepsi bahwa Senin adalah hari yang menyebalkan.
Istirahat yang cukup juga memberikan ruang bagi seseorang untuk benar-benar menikmati akhir pekan. Tujuannya bukan membuat setiap jam menjadi produktif, tetapi memastikan bahwa akhir pekan benar-benar memberikan pemulihan. Seseorang tetap dapat bersantai, bertemu teman, bermain bersama keluarga, atau melakukan hobi tanpa harus mengorbankan waktu tidur secara berlebihan.
Dengan ritme yang lebih konsisten, perpindahan dari Minggu menuju Senin tidak terasa seperti perubahan yang terlalu drastis. Inilah salah satu alasan mengapa kebiasaan sehari-hari, bukan hanya cara seseorang memandang pekerjaan, dapat memengaruhi bagaimana awal pekan dirasakan.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kebiasaan Orang yang Tidak Takut Menghadapi Hari Senin
1. Mengapa ada orang yang tidak takut menghadapi hari Senin?
Cara seseorang memandang Senin dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, pengalaman, kondisi pekerjaan, serta pola pikirnya. Orang yang terbiasa mempersiapkan diri, memiliki batas antara pekerjaan dan waktu pribadi, serta tidak terlalu memikirkan hal yang belum terjadi mungkin lebih mudah menghadapi awal pekan dengan tenang.
2. Apa yang dimaksud dengan Monday blues?
Monday blues merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan perasaan kurang bersemangat, sedih, cemas, atau berat ketika menghadapi awal pekan. Intensitasnya dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu berarti seseorang mengalami masalah psikologis.
3. Apakah takut menghadapi hari Senin berarti seseorang tidak menyukai pekerjaannya?
Belum tentu. Rasa berat menjelang Senin dapat muncul karena berbagai faktor, termasuk kurang tidur, perubahan rutinitas setelah akhir pekan, beban pekerjaan, atau kekhawatiran terhadap tugas tertentu. Namun, jika perasaan tersebut sangat kuat dan berlangsung terus-menerus, kondisi pekerjaan maupun faktor lain yang menjadi pemicunya layak diperhatikan.
4. Apakah kebiasaan mempersiapkan pekerjaan pada hari Minggu bisa membantu menghadapi Senin?
Bagi sebagian orang, persiapan sederhana dapat membantu mengurangi ketidakpastian. Menentukan prioritas, menyiapkan perlengkapan, atau mencatat tugas penting dapat membuat seseorang mengetahui langkah pertama yang harus dilakukan ketika Senin tiba. Namun, persiapan sebaiknya tidak berubah menjadi bekerja sepanjang akhir pekan.
5. Mengapa orang yang memiliki batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa lebih tenang menghadapi Senin?
Batasan tersebut memberikan kesempatan untuk benar-benar beristirahat dari pekerjaan. Ketika seseorang tidak terus-menerus memeriksa pesan atau memikirkan tugas selama waktu pribadi, ia memiliki kesempatan untuk memulihkan energi sebelum kembali bekerja.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4274994/original/087837900_1672212290-Ma_ruf1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5489908/original/070071700_1769946135-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-01T182051.705.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5260255/original/062425500_1750565237-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323057/original/029470100_1786598614-cek_fakta_-_jusuf_kalla_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348468/original/026603600_1789445351-Gemini_Generated_Image_9op2469op2469op2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733309/original/079855900_1706884503-pexels-liza-summer-6383200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347964/original/092098900_1789376857-pexels-cottonbro-6551697.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348071/original/079097500_1789380666-15e5e33d-96e7-477b-97ed-fa3cf9bc7e5c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346633/original/066317100_1789187017-jonas-leupe-wK-elt11pF0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347943/original/021232700_1789376047-cded3454-7561-4b4d-ba88-d9dd5b2b7809.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337798/original/023406700_1788257449-01M1DQDFQCPGFH4SWPDP2WDK4K.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337799/original/030991000_1788257450-01M1DQDHHM7RP0JKYGAPKXAS0E.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340395/original/036189700_1788504646-kZoRfusKEFCvcaRnRp2w5mIQDYpa7XOi59LDqSDc.jpg)