Karakter Orang yang Selalu Menutup Semua Aplikasi Setelah Dipakai

Karakter orang yang selalu menutup semua aplikasi setelah dipakai ini ternyata mencerminkan kepribadian dan kebiasaan digitalnya.

Diterbitkan 14 September 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Karakter orang yang selalu menutup semua aplikasi setelah dipakai ini ternyata cukup menarik untuk disimak, terutama bagi yang penasaran kenapa kebiasaan ini masih bertahan di tengah kemajuan teknologi ponsel pintar. Setiap kali selesai menggunakan aplikasi, sebagian orang punya kebiasaan langsung menutupnya lewat app switcher sebelum berpindah ke aplikasi lain.

Kebiasaan ini sering dianggap sebagai cara menghemat baterai atau membuat ponsel bekerja lebih ringan. Padahal, menurut penjelasan resmi Apple, kebiasaan ini pada praktiknya tidak memberikan dampak signifikan terhadap daya tahan baterai karena sistem operasi modern sudah mengatur aplikasi latar belakang secara otomatis.

Meski begitu, kebiasaan menutup semua aplikasi tetap bertahan pada banyak orang, dan hal ini ternyata bisa mencerminkan sisi kepribadian tertentu. Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber delapan karakter orang yang selalu menutup semua aplikasi setelah dipakai, lengkap dengan alasan psikologis di baliknya.

1. Si Perfeksionis yang Ingin Semua Serba Rapi

Karakter pertama adalah orang yang tidak bisa membiarkan tampilan app switcher penuh dengan aplikasi yang masih terbuka. Bagi tipe ini, layar yang berantakan terasa seperti representasi hidup yang tidak terkendali, sehingga menutup semua aplikasi menjadi semacam ritual kecil untuk menjaga rasa rapi.

Menurut ulasan Grazia USA soal kebiasaan digital dan kepribadian, orang dengan trait conscientiousness cenderung disiplin, terorganisir, dan tidak nyaman dengan hal-hal yang terasa "menumpuk", termasuk urusan sekecil daftar aplikasi yang masih terbuka di ponsel. Kebiasaan menutup aplikasi jadi salah satu bentuk kecil dari kebutuhan akan keteraturan tersebut.

2. Si Pemegang Kendali atas Masalah Kecil

Ada juga tipe orang yang menutup semua aplikasi karena ingin merasa memegang kendali penuh atas perangkatnya sendiri. Bagi mereka, membiarkan banyak aplikasi berjalan di latar belakang terasa seperti kehilangan kendali atas sesuatu yang sebenarnya bisa diatur.

Kebutuhan akan kontrol semacam ini kerap muncul pada momen-momen kecil sehari-hari, termasuk cara seseorang mengelola ponselnya. Menutup aplikasi satu per satu memberi rasa puas tersendiri, meski secara teknis tidak benar-benar diperlukan untuk menjaga performa perangkat.

3. Si Percaya Mitos Baterai Boros

Karakter ini menutup semua aplikasi karena masih meyakini bahwa aplikasi yang dibiarkan terbuka akan terus menyedot daya baterai. Kepercayaan ini sudah bertahan lama di kalangan pengguna ponsel pintar, bahkan sebelum sistem operasi modern dirancang untuk mengelola aplikasi latar belakang secara otomatis.

Craig Federighi, eksekutif senior Apple yang membawahi rekayasa perangkat lunak, pernah ditanya langsung soal kebiasaan menutup aplikasi demi menghemat baterai. Ia menjawab singkat bahwa hal itu tidak perlu dan tidak berdampak, sebagaimana dikutip TechRadar. Aplikasi yang tidak aktif pada dasarnya sudah dibekukan sistem dan nyaris tidak memakan daya baterai maupun kinerja prosesor.

4. Penganut Digital Minimalism

Sebagian orang menutup semua aplikasi bukan karena alasan baterai, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup digital minimalism, yaitu upaya mengurangi kekacauan digital yang dianggap bisa memengaruhi fokus dan ketenangan pikiran. Bagi kelompok ini, layar ponsel yang bersih dari aplikasi terbuka membantu mengurangi godaan untuk terus berpindah-pindah aplikasi tanpa tujuan jelas.

Menutup aplikasi setelah dipakai menjadi semacam batas simbolis antara satu aktivitas dengan aktivitas berikutnya. Kebiasaan ini sejalan dengan tren digital minimalism yang belakangan semakin banyak dibahas sebagai cara menjaga kesehatan mental di tengah tingginya paparan layar setiap hari.

5. Si Mudah Cemas dengan Notifikasi Menumpuk

Karakter ini menutup aplikasi karena merasa lebih tenang saat tidak melihat banyak ikon aplikasi berjejer di app switcher. Bagi tipe ini, aplikasi yang masih terbuka terasa seperti pekerjaan yang belum selesai, meski sebenarnya aplikasi tersebut sudah tidak digunakan lagi.

Riset psikologi soal perilaku penggunaan ponsel, sebagaimana diulas Psychology Today, menunjukkan bahwa pola interaksi seseorang dengan ponselnya bisa berkaitan dengan trait kepribadian, termasuk kecenderungan terhadap kecemasan atau kebutuhan akan rasa aman secara emosional. Menutup aplikasi jadi salah satu cara kecil untuk meredakan rasa tidak nyaman tersebut.

6. Si Suka Ritual Kecil Sebelum Berpindah Aktivitas

Ada juga orang yang menutup aplikasi bukan karena alasan teknis atau emosional, melainkan sekadar sudah menjadi kebiasaan otomatis, semacam ritual kecil setiap kali berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Gerakan menutup aplikasi terasa seperti menutup buku sebelum membuka buku baru.

Kebiasaan semacam ini biasanya terbentuk dari pengulangan selama bertahun-tahun, sehingga dilakukan hampir tanpa disadari. Meski tidak selalu berdampak besar secara teknis, ritual kecil seperti ini bisa memberi rasa penutupan atau closure sebelum berpindah fokus ke hal lain.

7. Generasi yang Terbiasa dari Kebiasaan Komputer Lama

Karakter ini biasanya berasal dari generasi yang lebih dulu akrab dengan komputer sebelum era smartphone, ketika membiarkan banyak program berjalan sekaligus memang bisa membuat perangkat melambat. Kebiasaan menutup program setelah selesai digunakan terbawa hingga ke penggunaan ponsel pintar saat ini.

Padahal, cara kerja sistem operasi ponsel modern berbeda jauh dari komputer lama. Aplikasi yang tidak aktif di ponsel pintar umumnya dibekukan secara otomatis oleh sistem, bukan terus berjalan penuh seperti program di komputer generasi awal, sehingga kebiasaan lama ini sebenarnya sudah tidak relevan lagi.

8. Si Peduli Privasi dan Keamanan Digital

Karakter terakhir adalah orang yang menutup semua aplikasi karena alasan privasi, bukan performa maupun baterai. Bagi tipe ini, aplikasi yang masih terbuka di latar belakang terasa seperti celah yang berpotensi diakses tanpa sepengetahuannya, meski secara teknis risiko tersebut sangat kecil pada sistem operasi modern.

Kebiasaan ini biasanya muncul pada orang yang cukup berhati-hati soal data pribadi, terutama setelah maraknya pemberitaan seputar kebocoran data dan pelacakan aplikasi. Menutup aplikasi menjadi salah satu cara sederhana untuk merasa lebih aman, meski langkah lain seperti mengatur izin aplikasi biasanya jauh lebih efektif secara teknis.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Menutup Semua Aplikasi

1. Apa saja 8 karakter orang yang selalu menutup semua aplikasi setelah dipakai? Si perfeksionis, si butuh kontrol, si percaya mitos baterai, penganut digital minimalism, si mudah cemas notifikasi, si suka ritual kecil, generasi kebiasaan komputer lama, dan si peduli privasi.

2. Apakah menutup semua aplikasi benar-benar menghemat baterai? Menurut penjelasan Apple, kebiasaan ini pada dasarnya tidak signifikan menghemat baterai karena sistem sudah mengelola aplikasi latar belakang secara otomatis.

3. Kenapa ada orang yang tetap menutup semua aplikasi meski tahu itu mitos? Karena kebiasaan ini sering berakar dari kebutuhan psikologis akan kontrol dan keteraturan, bukan semata pertimbangan teknis baterai.

4. Apakah kebiasaan menutup aplikasi berkaitan dengan kepribadian conscientiousness? Bisa jadi, karena penelitian psikologi menunjukkan pola penggunaan ponsel berkaitan dengan trait kepribadian, termasuk conscientiousness.

5. Apakah kebiasaan menutup semua aplikasi termasuk hal yang buruk? Tidak selalu buruk, meski tidak berdampak signifikan pada baterai, kebiasaan ini bisa jadi cara menjaga rasa tenang dan keteraturan digital.