7 Ciri Orang yang Hanya Berpura-Pura Peduli, Waspadai Tindakan Ini

Kenali ciri-ciri orang yang hanya berpura-pura peduli menurut psikologi, mulai dari bersikap manipulatif, tidak konsisten.

Diterbitkan 13 September 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyadari bahwa seseorang di sekitar kita tidak benar-benar tulus sering kali menjadi pengalaman yang mengecewakan dan menguras energi. Ada individu yang tampak sangat manis dan tahu persis kata-kata apa yang harus diucapkan untuk membuat kita merasa tenang, namun tindakan mereka justru menunjukkan hal sebaliknya. Perbedaan antara kehadiran yang tulus dan sekadar performa sosial sering kali terlihat dari konsistensi, motif tersembunyi, serta bagaimana mereka bersikap saat kita membutuhkan bantuan.

Menurut psikolog klinis Dr. Aimee Daramus, orang yang berpura-pura peduli kerap kali bertindak seolah-olah mereka adalah teman yang baik, tetapi sebenarnya mereka hanya berfokus pada kebutuhan mereka sendiri. Mereka cenderung tidak konsisten, minim empati, dan baru muncul ketika ada keuntungan yang bisa diambil. Memahami pola perilaku manipulatif ini sangat penting agar kita dapat melindungi diri dari hubungan yang toksik.

Artikel ini membahas secara mendalam kumpulan ciri orang yang hanya berpura-pura peduli berdasarkan perspektif psikologi dan literatur kesehatan mental. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini untuk mengenali gelagat mereka sejak dini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Minggu (13/9/2026).

1. Hanya Menghubungi Saat Membutuhkan Sesuatu (Conditional Friendship)

Orang yang tidak tulus biasanya hanya aktif mencari kontak ketika mereka memiliki kepentingan atau butuh pertolongan. Mereka bisa jadi sangat rajin membalas pesan atau terlihat antusias, namun tujuannya murni untuk memanfaatkan bantuan Anda, seperti meminta tolong pindahan rumah atau urusan mendadak lainnya. Setelah urusan mereka selesai, mereka akan kembali menghilang tanpa kabar. Pola hubungan transaksional semacam ini menunjukkan bahwa mereka tidak tertarik membangun hubungan yang timbal balik (reciprocal).

2. Konsisten Menghilang Saat Anda Berada dalam Masa Sulit

Konsistensi adalah tolok ukur utama ketulusan seseorang. Individu yang berpura-pura peduli akan mendadak sulit dihubungi atau mencari-cari alasan ketika Anda sedang menghadapi masa-masa sulit dan membutuhkan dukungan nyata. Mereka hanya ingin hadir di bagian yang menyenangkan atau saat situasi sedang baik-baik saja (dikenal sebagai fair-weather friend). Sebaliknya, mereka akan menghindari beban emosional yang Anda miliki karena dianggap merepotkan batasan energi mereka yang terbatas.

3. Monopoli Percakapan dan Selalu Menjadikan Diri Sendiri sebagai Pusat Perhatian

Setiap kali Anda mencoba menceritakan kondisi atau masalah Anda, mereka dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan kembali kepada diri mereka sendiri. Mereka akan menggunakan kesempatan tersebut untuk mengeluhkan masalah mereka, menceritakan pencapaian mereka, atau menjadikan Anda sebagai tempat pembuangan emosi (emotional dumping ground) tanpa pernah balik bertanya, "Bagaimana kabarmu?" Interaksi ini terasa sangat satu arah dan membuat Anda merasa lelah secara emosional setelah berbicara dengan mereka.

4. Menawarkan Dukungan yang Sangat Superfisial dan Kosong

Ketika Anda mencurahkan isi hati mengenai hal-hal yang menyulitkan hidup Anda, respons yang diberikan biasanya sangat minim, seperti sekadar kata "wah, kasihan ya" lalu langsung mengganti topik. Jika Anda meminta bantuan yang membutuhkan sedikit tenaga atau waktu, mereka lebih memilih memberikan dukacita simbolis seperti "doa terbaik" alih-alih memberikan uluran tangan nyata. Mereka senang terlihat peduli di permukaan saja, tetapi menolak mengeluarkan energi lebih jika hal tersebut merepotkan diri mereka.

5. Mengabaikan atau Melupakan Hal-Hal Penting dalam Hidup Anda

Ketidaktertarikan mereka yang sesungguhnya sering kali terlihat dari ketidakpedulian mereka pada detail-detail kecil yang penting bagi Anda. Mereka kerap melupakan hari ulang tahun Anda, tanggal penting, atau pencapaian besar yang diraih, sementara mereka akan sangat marah jika Anda melupakan hari penting mereka. Ketidakpedulian ini terjadi karena bagi mereka, apa pun yang tidak memberikan keuntungan langsung bagi hidup mereka tidak layak untuk diingat.

6. Bersikap Baik di Depan Publik Namun Menjatuhkan di Belakang

Ada tipe orang yang sangat manis ketika hanya berdua di ruang privat, namun berubah drastis menjadi sosok yang suka merendahkan atau mengolok-olok Anda di depan orang lain. Mereka tidak ragu menjadikan kelemahan atau rahasia Anda sebagai bahan lelucon di kelompok sosial demi mendongkrak status sosial mereka sendiri. Ketika Anda menegur tindakan tersebut, mereka sering kali berlindung di balik kalimat "kan cuma bercanda" tanpa merasa bersalah telah merusak kepercayaan.

7. Memberikan Permintaan Maaf Palsu Saat Ditegur (Non-Apology)

Ketika Anda menyampaikan bahwa tindakan atau perkataan mereka telah melukai perasaan Anda, mereka jarang sekali memberikan permohonan maaf yang tulus dan bertanggung jawab. Respons umum yang sering mereka tunjukkan adalah bersikap defensif, menuduh Anda terlalu baper, atau melontarkan kalimat manipulatif seperti "aku minta maaf kalau kamu merasa tersinggung" (non-apology). Alih-alih memperbaiki hubungan, mereka justru memilih menghindar atau mendiamkan Anda (ghosting) karena merasa tidak ingin disalahkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Ciri Orang yang Hanya Berpura-pura peduli

Q: Mengapa seseorang berpura-pura peduli kepada orang lain?

A: Menurut tinjauan psikologis, motif di balik perilaku ini biasanya meliputi manajemen reputasi, kebutuhan akan keuntungan instan (instrumental gain), upaya menghindari konflik, atau sekadar melakukan peniruan sosial (social mimicry) untuk mendapatkan penerimaan kelompok.

Q: Bagaimana cara terbaik menghadapi orang yang hanya berpura-pura peduli?

A: Langkah paling efektif adalah mempercayai intuisi Anda jika merasa ada yang janggal, menetapkan batasan diri yang tegas (boundaries), membatasi komunikasi (limit contact), dan mengalihkan energi untuk merawat hubungan yang tulus dengan orang-orang yang benar-benar mendukung Anda.

Q: Apakah orang yang berpura-pura peduli bisa dikategorikan sebagai orang toksik?

A: Ya, sebagian besar dari mereka bertindak sebagai pengisap energi (energy vampires) yang dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu keraguan diri (self-doubt), serta memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental jika terus dibiarkan berada di lingkaran terdekat Anda.