Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang selalu terlihat tenang ketika berada di tengah banyak orang. Mereka tidak buru-buru mengangkat tangan saat diminta maju, merasa kurang nyaman ketika semua mata tertuju kepadanya, atau justru memilih memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara lebih dulu. Namun, sikap seperti ini tidak selalu berarti seseorang pemalu atau kurang percaya diri. Bisa saja mereka memang merasa lebih nyaman ketika tidak menjadi pusat perhatian.
Keengganan menjadi sorotan juga dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang sebenarnya aktif berbicara dalam kelompok kecil, tetapi mendadak canggung ketika harus tampil di depan banyak orang. Ada pula yang mampu menyampaikan pendapat dengan baik, tetapi tidak suka mendapatkan pujian berlebihan atau menjadi bahan pembicaraan. Mereka bukan berarti tidak memiliki kemampuan bersosialisasi, melainkan lebih menyukai situasi yang membuat mereka tidak perlu terus-menerus mendapatkan perhatian dari orang lain.
Karena itu, penting untuk tidak terburu-buru memberikan label kepada seseorang hanya karena ia menghindari sorotan. Cara seseorang merespons perhatian bisa dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman, kenyamanan sosial, hingga preferensi pribadi. Lantas bagaimana saja cara mengenali orang yang tidak suka jadi pusat perhatian? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (14/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Lebih Nyaman Berada di Balik Layar daripada Menjadi Sorotan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5401696/original/009208100_1762226501-pexels-rdne-4911182.jpg)
Orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian sering kali justru merasa paling nyaman ketika kontribusinya tidak terlalu terlihat. Dalam sebuah kegiatan, misalnya, ia mungkin lebih memilih mengatur perlengkapan, membuat konsep, menyusun data, atau membantu orang lain daripada menjadi pembawa acara. Bukan karena ia tidak mampu tampil, melainkan karena ia merasa kontribusinya tetap bisa diberikan tanpa harus mendapatkan sorotan dari banyak orang.
Kecenderungan ini juga dapat terlihat di lingkungan pekerjaan. Seseorang mungkin memiliki ide yang bagus dan kemampuan yang mumpuni, tetapi lebih senang menyelesaikan tugas secara mandiri daripada tampil mempresentasikan hasilnya di depan banyak orang. Ketika mendapatkan pujian, ia mungkin lebih nyaman mengakui kontribusi tim daripada menjadikan dirinya sebagai tokoh utama. Perhatian bukan sesuatu yang selalu ia cari untuk mendapatkan kepuasan.
Namun, perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Bisa saja ia justru sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki, tetapi tidak membutuhkan pengakuan publik untuk merasa berhasil. Ia dapat merasa puas ketika pekerjaannya selesai dengan baik meskipun namanya tidak disebut atau tidak mendapatkan banyak pujian.
Advertisement
2. Tidak Nyaman Ketika Mendadak Menjadi Bahan Pembicaraan
Salah satu tanda yang cukup mudah terlihat adalah perubahan sikap ketika seseorang tiba-tiba menjadi topik pembicaraan. Misalnya, teman-temannya membahas keberhasilannya, memberikan pujian di depan banyak orang, atau menceritakan sesuatu tentang dirinya tanpa persiapan. Ia mungkin tertawa canggung, mengalihkan pembicaraan, atau berusaha mengembalikan fokus kepada orang lain.
Hal ini berbeda dengan seseorang yang benar-benar tidak mampu berkomunikasi. Orang tersebut mungkin tetap dapat berbicara dengan lancar dalam situasi lain, tetapi merasa tidak nyaman ketika pembicaraan secara khusus berpusat pada dirinya. Terlebih jika perhatian tersebut datang secara mendadak dan melibatkan banyak orang. Ia membutuhkan ruang untuk menentukan sendiri seberapa banyak hal tentang dirinya yang ingin dibagikan.
Meski demikian, respons setiap orang dapat berbeda. Ada yang langsung bercanda untuk mencairkan suasana, ada yang memilih diam, sementara lainnya mengubah topik pembicaraan. Yang perlu diperhatikan bukan satu respons tertentu, melainkan pola yang berulang ketika perhatian publik diarahkan kepadanya.
3. Lebih Suka Mendapat Pujian Secara Personal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326768/original/021210500_1756111326-pexels-juanpphotoandvideo-951290.jpg)
Orang yang tidak nyaman menjadi pusat perhatian biasanya tidak selalu menolak apresiasi. Mereka tetap dapat merasa senang ketika hasil kerja atau usahanya dihargai, tetapi mungkin lebih menyukai pujian yang disampaikan secara pribadi daripada di depan banyak orang. Pujian empat mata dapat terasa lebih nyaman karena tidak membuat mereka menjadi sorotan seluruh kelompok.
Misalnya, seseorang berhasil menyelesaikan pekerjaan yang sulit. Ketika atasannya memujinya secara pribadi, ia dapat menerima apresiasi tersebut dengan santai. Namun, ketika keberhasilannya diumumkan di depan seluruh tim dan semua orang diminta memberikan tepuk tangan, ia mungkin terlihat kurang nyaman. Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada pujian, melainkan pada intensitas perhatian yang menyertainya.
Kondisi ini juga dapat terlihat dalam hubungan pertemanan. Ia mungkin senang menerima ucapan ulang tahun dari teman dekat, tetapi tidak terlalu menyukai kejutan besar yang membuat banyak orang berkumpul dan memusatkan perhatian kepadanya. Bagi orang seperti ini, bentuk apresiasi yang sederhana dan personal sering terasa lebih tulus serta nyaman.
Advertisement
4. Tidak Terlalu Suka Memamerkan Pencapaian di Media Sosial
Kebiasaan lain yang mungkin terlihat adalah cara seseorang membagikan pencapaian. Orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian dapat saja memiliki banyak prestasi, tetapi tidak merasa perlu membagikan semuanya kepada publik. Ia mungkin jarang mengunggah keberhasilan pekerjaan, penghargaan, kehidupan pribadi, atau momen-momen yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa seseorang yang jarang mengunggah pencapaian pasti tidak percaya diri. Aktivitas di media sosial sangat dipengaruhi oleh preferensi pribadi. Ada orang yang memang lebih suka menjaga kehidupan pribadinya tetap privat, sementara yang lain merasa tidak perlu mendapatkan validasi dari media sosial untuk mengakui keberhasilannya sendiri.
Jika seseorang sebenarnya aktif dan komunikatif tetapi tidak terlalu tertarik mempublikasikan pencapaiannya, hal tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa ia lebih nyaman menikmati keberhasilan secara pribadi. Ia mungkin lebih memilih menceritakannya kepada orang-orang terdekat atau sekadar menyimpannya sebagai pencapaian pribadi daripada menjadikannya konsumsi publik.
5. Sering Memberikan Kesempatan kepada Orang Lain untuk Tampil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3165868/original/000307600_1593488287-woman-wearing-pink-collared-half-sleeved-top-1036623.jpg)
Dalam kelompok, orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian sering terlihat memberikan ruang kepada orang lain. Ketika ada kesempatan untuk memimpin presentasi, berbicara di depan kelompok, atau menjadi perwakilan, ia mungkin justru menawarkan kesempatan tersebut kepada teman yang lebih nyaman tampil. Menariknya, ia tetap bisa aktif berkontribusi dalam proses persiapan.
Sikap ini terkadang disalahartikan sebagai kurang memiliki kemampuan memimpin. Padahal, kepemimpinan tidak selalu harus diwujudkan dengan menjadi orang yang paling banyak berbicara. Seseorang dapat menjadi pengatur strategi, penyusun konsep, pemberi masukan, atau orang yang memastikan semua anggota kelompok bekerja dengan baik tanpa harus berada di panggung.
Yang membedakan adalah bagaimana ia bertindak ketika memang dibutuhkan. Jika tugas mengharuskannya berbicara, ia mungkin tetap mampu melakukannya meskipun tidak menjadikannya sebagai pilihan pertama. Artinya, ia bukan tidak bisa tampil, tetapi tidak memiliki kebutuhan untuk selalu menjadi orang yang paling menonjol.
Advertisement
6. Lebih Nyaman Berbicara dalam Kelompok Kecil
Seseorang yang tidak suka menjadi pusat perhatian sering kali merasa lebih nyaman ketika berinteraksi dalam kelompok kecil. Dalam percakapan yang hanya melibatkan dua atau tiga orang, ia dapat berbicara dengan santai, bercanda, menyampaikan pendapat, bahkan menjadi orang yang cukup aktif. Namun, ketika jumlah orang bertambah dan perhatian mulai terpusat kepadanya, sikapnya bisa berubah.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kenyamanan sosial tidak selalu berkaitan dengan kemampuan bersosialisasi. Seseorang bisa sangat komunikatif dalam lingkungan yang dirasanya aman dan terkendali, tetapi tidak menikmati situasi ketika harus berbicara di hadapan puluhan orang. Ia mungkin lebih menyukai percakapan yang memungkinkan setiap orang berinteraksi secara seimbang.
Karena itu, jangan langsung menyebut seseorang pemalu hanya karena ia tidak banyak bicara dalam kelompok besar. Perhatikan bagaimana ia berkomunikasi dalam situasi yang lebih kecil. Jika ia ternyata dapat berbicara dengan lancar ketika tidak menjadi sorotan, kemungkinan masalahnya bukan ketidakmampuan berkomunikasi, melainkan preferensi terhadap suasana interaksi yang lebih tenang dan tidak terlalu menyorot dirinya.
7. Cenderung Menghindari Situasi yang Membuat Semua Mata Tertuju Padanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4769530/original/065571400_1710221317-lady-with-red-lips-holding-clapperboard-black-background-happy-woman-luxury-silk-dress-smiling-posing-isolated-backdrop.jpg)
Orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian biasanya dapat merasa kurang nyaman dalam situasi yang membuat seluruh perhatian tertuju kepadanya. Contohnya adalah diminta memberikan pidato mendadak, disuruh berdiri di depan ruangan tanpa persiapan, menjadi objek lelucon dalam kelompok, atau diminta menceritakan kehidupan pribadi di hadapan banyak orang.
Responsnya tidak selalu berupa penolakan langsung. Ia mungkin mencoba mencari cara agar tugas tersebut bisa dibagi dengan orang lain, meminta waktu untuk mempersiapkan diri, atau memilih peran yang tidak terlalu menonjol. Jika situasinya tidak bisa dihindari, ia tetap mungkin menjalankannya, tetapi terlihat lebih lega ketika perhatian akhirnya beralih kepada orang lain.
Hal ini perlu dibedakan dari rasa takut sosial yang intens. Tidak nyaman menjadi pusat perhatian merupakan preferensi yang cukup umum dan tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan atau masalah psikologis. Jika rasa takut terhadap penilaian orang lain sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, konteksnya tentu berbeda dan tidak sebaiknya disimpulkan hanya berdasarkan perilaku sederhana.
Advertisement
8. Tidak Banyak Membicarakan Kehidupan Pribadi kepada Banyak Orang
Orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian biasanya cukup selektif dalam membagikan informasi tentang dirinya. Ia mungkin tidak keberatan berbicara mengenai pekerjaan, hobi, atau topik umum, tetapi lebih berhati-hati ketika percakapan mulai masuk ke kehidupan pribadi. Ia cenderung memilih orang tertentu yang dianggap dapat dipercaya untuk mengetahui cerita yang lebih mendalam.
Sikap tersebut dapat terlihat ketika teman-temannya saling bertukar cerita pribadi. Ia mungkin lebih banyak mendengarkan daripada menceritakan kisahnya sendiri. Jika ditanya, ia dapat memberikan jawaban secukupnya tanpa menjelaskan terlalu banyak detail. Bagi dirinya, menjaga batas privasi merupakan cara untuk mempertahankan kenyamanan.
Namun, sifat tertutup juga tidak selalu berarti seseorang tidak mempercayai orang lain. Ada orang yang memang membutuhkan waktu lebih lama sebelum merasa nyaman berbagi cerita. Setelah memiliki hubungan yang dekat dan rasa percaya yang kuat, ia justru bisa menjadi sangat terbuka. Jadi, jangan menilai kedalaman hubungan hanya berdasarkan seberapa banyak informasi pribadi yang seseorang bagikan di depan umum.
9. Tetap Percaya Diri meski Tidak Banyak Mencari Pengakuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3508128/original/009551500_1626075077-thisisengineering-raeng-TXxiFuQLBKQ-unsplash_Fotor.jpg)
Salah satu ciri yang paling penting adalah seseorang dapat tetap percaya diri meskipun tidak berusaha mendapatkan perhatian. Ia mengetahui kemampuan dan nilai dirinya tanpa harus selalu mendapatkan pujian, pengakuan, atau validasi dari orang lain. Ketika hasil kerjanya bagus, ia dapat merasa puas meskipun tidak ada banyak orang yang mengetahuinya.
Misalnya, seseorang memiliki kemampuan yang sangat baik dalam bidang tertentu, tetapi tidak tertarik menjadi tokoh utama dalam sebuah kelompok. Ia mungkin lebih senang mengerjakan tugas, menyelesaikan masalah, lalu kembali menjalani aktivitasnya tanpa membutuhkan banyak apresiasi. Jika diberi kesempatan untuk tampil, ia bisa melakukannya, tetapi tidak merasa harus terus-menerus mendapatkan panggung.
Inilah alasan mengapa tidak suka menjadi pusat perhatian tidak boleh langsung disamakan dengan rendah diri. Orang yang rendah diri mungkin meragukan kemampuan dirinya, sedangkan orang yang tidak suka menjadi sorotan bisa saja sangat mengenal kemampuan dirinya. Perbedaannya terletak pada kebutuhan terhadap perhatian dan pengakuan, bukan semata-mata pada seberapa banyak seseorang berbicara.
Advertisement
10. Lebih Memilih Dikenal dari Hasil Kerja daripada Popularitas
Tanda terakhir dapat terlihat dari cara seseorang memandang keberhasilan. Ia mungkin lebih peduli pada hasil pekerjaan daripada seberapa terkenal dirinya di lingkungan tersebut. Baginya, menyelesaikan tugas dengan baik, membantu kelompok mencapai tujuan, atau menghasilkan sesuatu yang berkualitas jauh lebih penting daripada mendapatkan perhatian.
Dalam lingkungan kerja, misalnya, orang seperti ini mungkin tidak terlalu aktif membangun citra diri, tetapi konsisten menyelesaikan tanggung jawabnya. Ia mungkin bukan orang yang paling sering berbicara dalam rapat, tetapi ketika menyampaikan pendapat, isinya cukup berbobot. Dalam kelompok pertemanan, ia juga dapat menjadi orang yang jarang terlihat menonjol tetapi selalu bisa diandalkan ketika dibutuhkan.
Kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki cara berbeda dalam memperoleh kepuasan. Tidak semua orang membutuhkan popularitas atau perhatian untuk merasa dirinya berharga. Sebagian justru merasa lebih nyaman ketika dapat bekerja dengan tenang, memberikan kontribusi yang nyata, dan membiarkan hasil berbicara untuk dirinya. Karena itu, orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian tidak seharusnya dianggap kurang berani, kurang mampu, atau otomatis pemalu.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Mengenali Orang yang Tidak Suka Jadi Pusat Perhatian
1. Apa ciri orang yang tidak suka jadi pusat perhatian?
Orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian biasanya lebih nyaman berada di balik layar, tidak terlalu suka ketika pencapaiannya diumumkan di depan banyak orang, dan cenderung memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil. Mereka juga bisa lebih memilih berbicara dalam kelompok kecil serta menjaga kehidupan pribadinya agar tidak terlalu terekspos.
2. Apakah orang yang tidak suka jadi pusat perhatian berarti pemalu?
Belum tentu. Tidak suka menjadi pusat perhatian lebih berkaitan dengan preferensi terhadap tingkat perhatian yang diterima, sedangkan pemalu dapat melibatkan rasa canggung atau khawatir ketika berinteraksi dengan orang lain. Seseorang bisa saja percaya diri dan pandai berkomunikasi, tetapi tetap tidak nyaman ketika menjadi sorotan.
3. Apakah orang yang tidak suka perhatian berarti tidak percaya diri?
Tidak. Ada orang yang sangat percaya diri dengan kemampuan dirinya, tetapi tidak membutuhkan pujian atau pengakuan dari banyak orang. Mereka dapat mengetahui kelebihan dan pencapaiannya sendiri tanpa harus menjadikannya bahan pembicaraan publik.
4. Mengapa ada orang yang tidak nyaman ketika dipuji di depan banyak orang?
Sebagian orang memang lebih menyukai apresiasi yang diberikan secara pribadi. Pujian di depan banyak orang dapat membuat mereka merasa menjadi sorotan secara tiba-tiba. Mereka tetap bisa menghargai pujian tersebut, tetapi mungkin lebih nyaman menerimanya dalam suasana yang lebih tenang dan personal.
5. Apakah orang yang tidak suka jadi pusat perhatian bisa pandai bersosialisasi?
Bisa. Seseorang dapat sangat komunikatif ketika berbicara dengan teman dekat atau dalam kelompok kecil, tetapi kurang nyaman ketika harus tampil di hadapan banyak orang. Jadi, kemampuan bersosialisasi tidak dapat dinilai hanya dari seberapa sering seseorang tampil atau berbicara di depan umum.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542214/original/027883300_1774936645-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8048512/original/040765400_1780894974-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-08T120236.131.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4842263/original/039942900_1716616217-Gorengan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305541/original/012313500_1784796799-Screenshot_2026-07-23_151441.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5203304/original/080500900_1745925021-gathering-home_1098-15699.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323778/original/051028800_1786674883-5ba512ec-0b4f-4e2f-b73a-5be92ed6bf08.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2710708/original/060756000_1548219714-ilustrasi-wawancara-kerja.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323519/original/032441800_1786617681-2704d138-08bd-4642-be8d-401a4540199b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5255462/original/086682000_1750161189-gloomy-asian-female-student-sitting-bored-with-laptop-home-tired-bored-studying-having-onli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524359/original/072346100_1772943134-mix_and_match_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323431/original/056393800_1786612261-2149354291.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323288/original/064602100_1786608194-238b5113-3dcb-4b6e-921c-08fd7ce42194.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3217043/original/099770000_1598248459-woman-2696408_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5326033/original/090766100_1756083081-0SnmlzVR5a.jpg)