Liputan6.com, Jakarta Pernah memperhatikan seseorang yang langsung mencolokkan charger padahal baterai ponselnya masih di angka 70 persen? Kebiasaan itu ternyata bisa dijelaskan, dan memahami ciri orang yang selalu charge HP meski baterai masih banyak menurut psikologi bisa membantu Anda mengenali pola diri sendiri.
Mengacu pada survei LG, istilah low battery anxiety diperkenalkan setelah survei pada 2016 menemukan hampir 90 persen orang takut kehabisan daya, dan sembilan dari sepuluh merasa panik saat baterai turun ke 20 persen atau lebih rendah. Kecemasan itulah yang mendorong sebagian orang mengisi daya sesering mungkin.
Kabar baiknya, kebiasaan ini jarang berbahaya dan lebih banyak bercerita soal karakter serta cara Anda mengelola rasa aman. Lewat ulasan ciri orang yang selalu charge HP meski baterai masih banyak menurut psikologi berikut, Anda bisa memahami akar perilakunya sekaligus cara menyikapinya.
Advertisement
Apa Itu Kebiasaan Selalu Charge HP Meski Baterai Masih Banyak?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360093/original/070126000_1790589594-16255.jpg)
Sebelum masuk ke daftar cirinya, penting memahami dulu apa yang dimaksud. Selalu charge HP meski baterai masih banyak adalah pola perilaku ketika seseorang mengisi daya padahal indikator masih menunjukkan kapasitas aman, misalnya 60 hingga 80 persen. Dorongannya bukan semata teknis, melainkan psikologis, yaitu kebutuhan untuk merasa siap dan tenang.
Secara ilmiah, kebiasaan ini bersinggungan dengan istilah nomophobia. Merujuk studi yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information (NCBI), nomophobia didefinisikan sebagai "rasa takut kehilangan kontak dengan ponsel serta kecemasan saat tidak dapat menggunakan perangkat tersebut." Ponsel yang selalu penuh menjadi cara meredam kecemasan itu.
Menariknya, perilaku ini adalah kebalikan dari tipe orang santai yang tetap tenang meski baterai sudah merah, bahkan sengaja menghabiskan baterai HP sampai nol. Jika tipe santai cenderung spontan, tipe "selalu penuh" justru antisipatif dan tidak nyaman menghadapi ketidakpastian.Â
Manfaat utama memahami pola ini adalah Anda bisa membedakan mana kebiasaan yang sehat dan mana yang mulai mengganggu. Contoh sederhananya, mengisi daya saat ada kesempatan itu wajar; tetapi bila Anda menolak keluar rumah sebelum baterai 100 persen, itu sinyal kecemasan yang perlu dikelola.
Advertisement
Ciri Orang yang Selalu Charge HP Meski Baterai Masih Banyak Menurut Psikologi
Lalu, seperti apa sebenarnya ciri orang yang selalu charge HP meski baterai masih banyak menurut psikologi? Kebiasaan kecil ini kerap mencerminkan cara seseorang menjaga rasa aman, mengatur diri, dan merespons kemungkinan buruk.
Sebagaimana diungkapkan Simply Psychology,tanda khas kecemasan terhadap ponsel meliputi panik saat baterai lemah, sulit menunggu tanpa layar, serta kebiasaan mengecek yang muncul otomatis sebelum ada keputusan sadar. Dari sana, beberapa karakter berikut biasanya menonjol.
- Butuh rasa aman dan kontrol. Baterai penuh memberi rasa kendali atas hari yang belum pasti. Dorongannya mirip alasan psikologis di balik kebiasaan menyimpan kardus barang elektronik sebagai bentuk berjaga-jaga.
- Kepribadian teliti (conscientiousness). Orang yang cinta keteraturan tidak nyaman melihat indikator baterai rendah. Ulasan soal cara menggunakan HP dan kepribadian menyebut orang teliti cenderung menjaga daya tetap tinggi.
- Rentan low battery anxiety. Angka baterai yang turun memicu gelisah, sehingga mengisi daya jadi cara cepat menenangkan diri.
- Selalu bersiap dan antisipatif. Mereka biasanya membawa powerbank dan kabel cadangan. Tips singkat, letakkan satu kabel di tas dan satu di meja kerja agar dorongan mengecas tersalurkan tanpa panik.
- Takut tidak bisa dihubungi. Ada rasa khawatir menjadi orang yang tak terjangkau saat dibutuhkan, sehingga ponsel wajib selalu siaga.
- Cenderung perfeksionis. Mereka ingin semua serba siap sebelum memulai hari, termasuk baterai di angka 100 persen.
- Keterikatan erat pada ponsel. Bagi sebagian orang, ponsel menjadi objek yang menenangkan; kebiasaan tidak pernah mematikan data seluler pun sering menyertai.
- Sering memantau level baterai (hypervigilance). Mata mereka kerap melirik persentase; begitu turun sedikit, tangan otomatis mencari colokan.
Â
Nomophobia dan Low Battery Anxiety di Balik Kebiasaan Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360094/original/078216900_1790589594-13956.jpg)
Kebiasaan mengisi daya berlebihan tidak bisa dilepaskan dari fenomena nomophobia. Nomophobia adalah singkatan dari no mobile phone phobia yang menggambarkan kecemasan saat seseorang tidak memiliki akses ke ponselnya, dan remaja disebut kelompok yang paling terpengaruh.Â
Low battery anxiety adalah bentuk kecemasan yang lebih spesifik terhadap daya yang menipis. Secara fisiologis, tubuh dapat bereaksi seperti menghadapi ancaman, misalnya detak jantung meningkat dan muncul rasa gelisah. Untuk meredakannya, otak mendorong satu solusi cepat, yaitu segera mengisi daya.
Dari sisi psikologi, ponsel berfungsi seperti basis rasa aman yang disentuh saat cemas. Studi memperkirakan sekitar sebagian besar pengguna ponsel mengalami nomophobia. Tak heran, kebiasaan ini kerap berdampingan dengan pola mengecek HP meski tidak ada notifikasi.
Pola serupa muncul pada kebiasaan membuka aplikasi yang sama berulang kali, yang sama-sama berakar pada dorongan mencari kepastian dan kenyamanan. Mengisi daya pun menjadi ritual kecil yang menautkan rasa tenang dengan angka baterai.
Advertisement
Tips Menyeimbangkan Kebiasaan Mengisi Daya
Kebiasaan mengisi daya sesering mungkin tidak perlu dihilangkan total; yang penting adalah mengelolanya agar tidak berubah menjadi kecemasan. Berikut langkah praktis yang bisa Anda coba secara bertahap.
- Bangun rutinitas tetap. Isi daya pada jam yang sama setiap hari, misalnya malam hari sebelum tidur, agar otak berhenti "memikirkan" baterai sepanjang siang.
- Letakkan charger di tempat strategis. Simpan di meja kerja dan dekat tempat tidur supaya Anda tidak panik mencari colokan.
- Bawa powerbank sebagai jaring pengaman. Dengan cadangan daya, Anda tidak lagi terpaku pada colokan dinding di mana pun berada.
- Latih toleransi secara bertahap. Coba biarkan baterai bertahan di 30 sampai 40 persen tanpa langsung mengisi, lalu naikkan tantangannya perlahan.
- Alihkan perhatian dari angka. Sembunyikan tampilan persentase baterai bila Anda terlalu sering melirik dan cemas karenanya.
- Sisihkan waktu tanpa ponsel. Mulai dari 15 hingga 30 menit untuk membiasakan diri merasa nyaman saat sejenak "terputus".
Tips tambahan, jika kecemasan sampai mengganggu aktivitas, tidur, atau hubungan Anda, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog agar penanganannya lebih tepat.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Charge HP
Apakah selalu charge HP meski baterai masih banyak termasuk gangguan psikologis?
Tidak secara langsung. Kebiasaan ini lebih mencerminkan gaya kepribadian, kebutuhan akan rasa aman, dan cara mengelola kecemasan, bukan sebuah diagnosis klinis. Barulah perlu perhatian khusus jika dorongannya sudah mengganggu keseharian.
Apakah sering mengisi daya merusak baterai HP?
Umumnya tidak separah anggapan lama, karena ponsel modern menghentikan pengisian otomatis saat mencapai 100 persen. Untuk menjaga usia baterai lithium-ion, banyak yang menyarankan mempertahankan daya di kisaran 20 sampai 80 persen dan menghindari panas berlebih.
Bagaimana cara mengurangi kecemasan terhadap baterai?
Bangun rutinitas mengisi daya yang konsisten, sediakan powerbank sebagai cadangan, dan latih diri menoleransi baterai rendah sedikit demi sedikit. Membatasi kebiasaan mengecek persentase juga membantu meredakan dorongan mengecas terus-menerus.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426401/original/044620800_1764304062-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-28T112538.162.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360171/original/015599500_1790593922-Cek_Fakta_-_Sri_Mulyani_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290555/original/019424000_1753145219-1000011471.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360092/original/062765500_1790589594-pexels-julio-lopez-75309646-18780712.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354885/original/079098700_1790065306-Oqdb3fSj8sP8hfoLdVTIN72qBw1Rz7LewN3ZFm8C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354884/original/074616300_1790065305-vBD1GH9aBYSPCU4P2bIwb6gLjZeheUG5pFpMr23V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355432/original/088591300_1790131412-12e1a11c-e037-49dd-8866-ecb496f19555.jpg)