Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasa tidak baik-baik saja, tetapi kesulitan menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan? Tanda seseorang kurang mengenali perasaannya sendiri sering kali tidak terlihat dari luar. Seseorang bisa tampak tenang, produktif, dan mampu mengatasi berbagai persoalan, tetapi sebenarnya masih bingung membaca emosi yang muncul di dalam dirinya.
Kemampuan mengenali perasaan sendiri merupakan bagian dari emotional self-awareness, yaitu kemampuan untuk menyadari emosi, memberi nama yang tepat pada perasaan tersebut, lalu memahami apa yang mungkin memicunya. Kemampuan ini penting karena emosi dapat memberikan informasi tentang kebutuhan, batas pribadi, tekanan, maupun hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan.
Masalahnya, emosi tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Rasa kecewa bisa muncul sebagai mudah marah, kesepian dapat terasa seperti kelelahan, sementara kecemasan terkadang membuat seseorang terus mencari kesibukan. Mengutip ulasan Cottonwood Psychology, terdapat sejumlah blind spots atau titik buta yang dapat muncul ketika seseorang kurang memiliki kesadaran terhadap emosinya sendiri. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (13/8/2026).
Advertisement
1. Sulit Menjelaskan Perasaan dengan Spesifik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312447/original/079392600_1785493170-stocksnap-guy-2617866_1920.jpg)
Salah satu tanda yang cukup mudah ditemui adalah kebiasaan menggunakan kata-kata yang sangat umum untuk menjelaskan kondisi emosional. Misalnya, seseorang hanya mengatakan dirinya sedang “aneh”, “capek”, “stres”, “tidak nyaman”, atau “lagi enggak mood”.
Kata-kata tersebut tentu tidak selalu salah. Masalahnya muncul ketika seseorang hampir tidak pernah bisa menjelaskan apa yang berada di balik perasaan tersebut. “Aku lagi capek” bisa berarti kelelahan secara fisik, tetapi juga bisa menyembunyikan rasa kecewa, kewalahan, kesepian, atau frustrasi.
Cottonwood Psychology menyoroti kecenderungan menggunakan bahasa yang samar sebagai salah satu blind spot dalam kesadaran emosional. Semakin spesifik seseorang mampu menyebutkan emosinya, semakin mudah pula ia memahami persoalan yang sedang dihadapi.
Alih-alih berhenti pada “aku merasa tidak enak”, seseorang dapat mencoba bertanya, “Apakah aku sebenarnya kecewa?”, “Apakah aku merasa ditolak?”, atau “Apakah aku sedang marah karena batasanku dilanggar?” Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu memperjelas apa yang sedang terjadi.
2. Selalu Ingin Mencari Solusi Sebelum Memahami Perasaan
Ada orang yang begitu merasa tidak nyaman langsung mencari cara untuk menghilangkan perasaan tersebut. Ketika kecewa, ia buru-buru mencari alasan agar tidak kecewa. Ketika cemas, ia memaksa diri untuk segera tenang. Ketika sedih, ia merasa harus segera kembali produktif.
Padahal, perasaan tidak selalu membutuhkan solusi secepat mungkin. Ada kalanya emosi perlu dikenali terlebih dahulu sebelum seseorang menentukan apa yang harus dilakukan.
Dalam ulasannya, Cottonwood Psychology menggambarkan kecenderungan untuk “memperbaiki” emosi sebelum memahami penyebabnya sebagai salah satu titik buta. Rasa sedih, misalnya, mungkin berkaitan dengan kehilangan. Rasa kesal dapat muncul karena batas pribadi berulang kali dilanggar. Kecemasan juga dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami tekanan atau kelelahan.
Memberi jeda bukan berarti membiarkan diri larut dalam emosi. Jeda justru memberikan kesempatan untuk bertanya, “Apa yang terjadi sebelum perasaan ini muncul?” Dari sana, seseorang dapat melihat masalah dengan lebih jelas sebelum menentukan respons.
Advertisement
3. Merasa Bersalah karena Memiliki Emosi Tertentu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4934677/original/090864400_1725272501-Ilustrasi_minta_maaf__merasa_bersalah__menyesal.jpg)
Marah kepada orang yang disayangi, iri kepada teman, merasa lega setelah meninggalkan situasi yang melelahkan, atau merasa sedih ketika orang lain tampak bahagia bukan berarti seseorang otomatis menjadi pribadi yang buruk.
Salah satu tanda seseorang kurang mengenali perasaannya sendiri adalah kecenderungan menghakimi emosi sebelum memahami penyebabnya. Perasaan marah langsung dianggap sebagai bukti bahwa dirinya jahat. Rasa iri dianggap memalukan. Kesedihan dianggap sebagai kelemahan.
Pola seperti ini membuat seseorang menghadapi dua persoalan sekaligus. Pertama, ia harus berhadapan dengan emosi awal. Kedua, ia menambahkan kritik terhadap dirinya sendiri karena memiliki emosi tersebut.
Padahal, merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu berdasarkan perasaan tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat mengakui bahwa dirinya sedang marah tanpa harus menyakiti orang lain.
Kesadaran emosional justru berkembang ketika seseorang mampu berkata, “Aku memang sedang marah,” tanpa langsung menyimpulkan, “Berarti aku orang yang buruk.” Perasaan dapat menjadi informasi untuk dipahami, bukan vonis terhadap karakter seseorang.
4. Terus Mencari Kesibukan untuk Menghindari Perasaan
Kesibukan juga dapat menjadi bentuk pengalihan emosi. Seseorang mungkin terus bekerja, bermain media sosial, berbelanja, menonton film, mencari hiburan, atau memenuhi jadwal dengan berbagai aktivitas setiap kali mulai merasa tidak nyaman.
Aktivitas tersebut pada dasarnya tidak selalu bermasalah. Persoalannya adalah ketika kesibukan digunakan secara terus-menerus agar seseorang tidak perlu berhadapan dengan perasaan yang sebenarnya sedang muncul.
Cottonwood Psychology menggambarkan penghindaran sebagai pola yang dapat memberikan rasa lega dalam jangka pendek. Ketika perhatian dialihkan, emosi terasa mengecil untuk sementara. Namun, persoalan yang belum dipahami dapat kembali muncul dalam bentuk lain, seperti mudah tersinggung, merasa hampa, mati rasa secara emosional, atau terus merasa tidak tenang.
Karena itu, seseorang dapat mulai memperhatikan dorongan untuk melarikan diri setiap kali emosi tertentu muncul. Ketika ingin segera membuka ponsel setelah percakapan yang tidak menyenangkan, misalnya, coba beri sedikit waktu untuk bertanya apa yang sebenarnya dirasakan.
Mengenali perasaan tidak berarti harus terus memikirkannya sepanjang hari. Tujuannya adalah memberi ruang yang cukup agar emosi tersebut dapat dipahami sebelum buru-buru disingkirkan.
5. Menganggap Emosi yang Kuat Selalu Berarti Kebenaran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5181194/original/014921500_1743916905-young-owner-small-business-woman-looking-labtop-feel-headache-with-her-business-losses-business-losses-concept-idea.jpg)
Perasaan yang sangat kuat memang nyata, tetapi belum tentu seluruh cerita di balik perasaan tersebut benar. Inilah salah satu perbedaan penting antara merasakan emosi dan menafsirkan situasi berdasarkan emosi.
Seseorang mungkin merasa sangat cemas ketika hendak mengirim pesan penting. Karena rasa cemasnya begitu kuat, ia kemudian menyimpulkan bahwa mengirim pesan tersebut pasti merupakan keputusan yang buruk. Orang lain mungkin merasa sangat tidak aman ketika pesan dari pasangan belum dibalas dan langsung menganggap dirinya sedang diabaikan.
Perasaannya nyata. Namun, kesimpulan yang muncul setelahnya belum tentu akurat.
Cottonwood Psychology menekankan pentingnya membedakan intensitas emosi dengan kebenaran dari cerita yang muncul bersamanya. Rasa takut dapat menjadi informasi tanpa otomatis membuktikan bahwa sesuatu berbahaya. Rasa malu juga bisa terasa sangat kuat tanpa berarti seseorang benar-benar melakukan kesalahan.
Jeda dapat membantu dalam situasi seperti ini. Ketika emosi sedang berada pada titik paling kuat, seseorang tidak harus langsung mengambil keputusan. Beri kesempatan agar intensitasnya menurun, kemudian lihat kembali situasinya berdasarkan fakta dan konteks yang lebih lengkap.
6. Membiarkan Emosi Sesaat Mengalahkan Nilai yang Diyakini
Setiap orang biasanya memiliki nilai yang ingin dijadikan pedoman, seperti kejujuran, kesabaran, kesetiaan, keberanian, tanggung jawab, atau kepedulian terhadap keluarga. Tantangannya muncul ketika nilai tersebut bertabrakan dengan emosi yang sedang kuat.
Seseorang mungkin ingin menjadi pasangan yang komunikatif, tetapi memilih diam berjam-jam karena sedang marah. Ada pula yang ingin menjadi pribadi sabar, tetapi mudah membentak ketika kelelahan. Seseorang mungkin ingin terbuka dalam hubungan, tetapi memilih berbohong karena takut menghadapi percakapan yang sulit.
Dalam situasi seperti itu, emosi sesaat dapat mengambil alih keputusan. Menurut pembahasan Cottonwood Psychology, kurangnya kesadaran emosional dapat membuat seseorang lebih sulit melihat jarak antara reaksi spontan dan nilai yang sebenarnya ingin ia jalani.
Salah satu cara menciptakan jarak tersebut adalah dengan bertanya, “Apakah keputusan ini masih terasa tepat ketika emosiku sudah lebih tenang?”
Pertanyaan tersebut bukan berarti mengabaikan emosi. Sebaliknya, emosi tetap didengarkan, tetapi tidak dibiarkan menjadi satu-satunya penentu tindakan. Dengan begitu, seseorang dapat merespons situasi berdasarkan perasaan sekaligus nilai yang lebih mendalam.
Advertisement
Apa Itu Emotional Self-Awareness?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4810284/original/012742800_1713863744-young-pretty-woman-home-look-mirror-enjoying-herself.jpg)
Emotional self-awareness secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengetahui apa yang sedang dirasakan dan memahami alasan di balik perasaan tersebut. Bukan sekadar mengetahui bahwa diri sedang “tidak enak hati”, kemampuan ini juga mencakup usaha memperjelas apakah perasaan tersebut sebenarnya berupa kecewa, sedih, takut, malu, kesepian, marah, atau emosi lainnya.
Kemampuan ini tidak berarti seseorang harus selalu mampu mengendalikan emosinya. Mengenali emosi juga berbeda dengan menuruti setiap perasaan yang muncul. Seseorang dapat menyadari bahwa dirinya sedang marah tanpa harus melampiaskan kemarahan tersebut kepada orang lain.
Dalam materi tentang emosi, American Psychological Association (APA) juga menjelaskan bahwa emosi berkaitan dengan perasaan sekaligus keterlibatan seseorang dengan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, memahami emosi dapat membantu seseorang membaca bagaimana dirinya merespons berbagai situasi.
Mengapa Mengenali Perasaan Sendiri Penting?
Mengenali emosi dapat membantu seseorang memahami kebutuhan dan batas dirinya dengan lebih baik. Ketika mampu membedakan antara marah, kecewa, lelah, takut, dan sedih, seseorang memiliki informasi yang lebih jelas untuk menentukan respons.
Kesadaran tersebut juga dapat membantu komunikasi dalam hubungan. Daripada mengatakan “kamu bikin aku enggak nyaman”, seseorang dapat menjelaskan bahwa dirinya merasa kecewa karena janji yang dibuat tidak dipenuhi. Penjelasan yang lebih spesifik memberi orang lain kesempatan untuk memahami persoalan sebenarnya.
Self-awareness juga bukan kemampuan yang harus dimiliki secara sempurna. Kemampuan tersebut dapat berkembang melalui kebiasaan memperhatikan diri, mengenali pola emosi, dan memberikan jeda sebelum bereaksi.
Jika beberapa tanda di atas terasa familiar, hal tersebut tidak perlu dianggap sebagai label atau kekurangan permanen. Justru, mengenali pola tersebut merupakan bagian dari proses membangun kesadaran diri. Tujuannya bukan menghilangkan emosi, melainkan memahami apa yang sedang dirasakan agar dapat merespons kehidupan dengan lebih sadar.
Pertanyaan Seputar Self-Awareness
1. Apa yang dimaksud dengan self-awareness?
Self-awareness adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami diri sendiri, termasuk pikiran, perasaan, kebutuhan, nilai, serta pola perilaku. Dalam konteks emosi, emotional self-awareness secara khusus berkaitan dengan kemampuan menyadari dan memahami perasaan yang sedang dialami.
2. Apa tanda seseorang memiliki self-awareness yang baik?
Seseorang dengan self-awareness yang baik cenderung mampu mengenali emosinya, memahami hal yang memicunya, menyadari kekuatan dan keterbatasan diri, serta mempertimbangkan dampak perilakunya. Ia juga tidak selalu bereaksi secara spontan terhadap setiap emosi yang muncul.
3. Apakah sulit mengenali perasaan sendiri berarti seseorang tidak memiliki self-awareness?
Tidak selalu. Kemampuan mengenali emosi dapat berbeda pada setiap orang dan dapat berubah tergantung situasi. Seseorang mungkin sangat memahami dirinya dalam pekerjaan, tetapi kesulitan mengenali perasaannya ketika menghadapi konflik dalam hubungan.
4. Bagaimana cara meningkatkan emotional self-awareness?
Mulailah dengan memberi jeda sebelum bereaksi, kemudian coba beri nama pada emosi yang sedang muncul. Tanyakan apa yang terjadi sebelum emosi tersebut muncul, apa kebutuhan yang mungkin berada di baliknya, dan apakah interpretasi terhadap situasi sesuai dengan fakta. Menulis jurnal juga dapat membantu melihat pola emosi yang berulang.
5. Apakah mengenali emosi berarti harus selalu mengikuti perasaan?
Tidak. Mengenali emosi berbeda dengan mengikuti semua dorongan yang muncul. Kesadaran emosional justru membantu seseorang memahami perasaan sebelum menentukan tindakan. Emosi dapat menjadi informasi, sementara keputusan tetap perlu mempertimbangkan fakta, nilai, konsekuensi, dan situasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323057/original/029470100_1786598614-cek_fakta_-_jusuf_kalla_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322343/original/021494700_1786525018-HOAX__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542212/original/065975700_1774936641-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3217043/original/099770000_1598248459-woman-2696408_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323105/original/038502300_1786601242-365aad51-d631-4792-8bf8-24ece092b5e5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4537600/original/041670700_1692018376-Hari-Pramuka-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8928545/original/069471700_1782959067-ChatGPT_Image_Jul_2__2026__09_23_09_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3992213/original/087054000_1649681581-philip-veater-X4DAtPvhgwo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322997/original/060328400_1786596217-f12e1990-c2e0-496f-b8fb-0637974e9fe0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382886/original/032494500_1760606550-Depositphotos_250985464_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322888/original/013061800_1786592542-pexels-ameliacui-8507297.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323160/original/074737000_1786603378-ChatGPT_Image_Aug_13__2026__01_40_55_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322994/original/037904400_1786595993-Gemini_Generated_Image_p4x51p4x51p4x51p.jpg)