9 Cara Membuat Rumah Terasa Lebih Tenang Tanpa Renovasi Besar Agar, Aktivitas Makin Nyaman

Simak cara membuat rumah terasa lebih tenang tanpa renovasi besar, mulai dari rapikan barang, redam kebisingan, hingga manfaatkan cahaya alami. Coba sekarang!

Diterbitkan 27 September 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rumah yang riuh dan berantakan bisa membuat pikiran ikut kacau setelah seharian beraktivitas. Padahal, cara membuat rumah terasa lebih tenang tanpa renovasi besar sebenarnya bisa dilakukan hanya dengan mengubah kebiasaan dan menata ulang ruang yang sudah ada.

Melansir Harvard Medicine Magazine, paparan kebisingan yang terus-menerus di lingkungan tempat tinggal dapat memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga masalah kardiovaskular. Suasana rumah yang bising dan penuh barang menumpuk ternyata bukan sekadar soal estetika, melainkan juga berkaitan langsung dengan kesehatan mental penghuninya.

Kabar baiknya, menghadirkan ketenangan di rumah tidak selalu butuh biaya besar atau proyek renovasi yang memakan waktu. Sejumlah penyesuaian sederhana pada tata ruang, pencahayaan, hingga kebiasaan sehari-hari terbukti mampu mengubah suasana rumah menjadi lebih nyaman dan menenangkan.

Berikut adalah cara membuat rumah terasa lebih tenang tanpa renovasi besar dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (27/9/2026).

1. Rapikan dan Kurangi Barang yang Tidak Perlu

Rumah yang penuh barang menumpuk cenderung membuat mata dan pikiran bekerja lebih keras untuk memprosesnya. Semakin banyak objek yang terlihat di satu ruangan, semakin besar pula beban visual yang harus diolah otak setiap hari.

Studi berjudul "No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol" oleh Darby E. Saxbe dan Rena Repetti (2010) yang dipublikasikan di jurnal Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa perempuan yang mendeskripsikan rumahnya sebagai berantakan dan belum selesai ditata memiliki pola kadar hormon kortisol harian yang lebih tinggi. Kortisol adalah hormon stres yang, jika terus-menerus tinggi, dapat memengaruhi suasana hati dan kesehatan jangka panjang.

Untuk mengatasinya, tidak perlu langsung membongkar seluruh isi rumah. Mulailah dari satu area kecil, misalnya meja kerja atau rak dekat pintu masuk, lalu pisahkan barang yang masih dipakai, yang bisa disumbangkan, dan yang sudah waktunya dibuang. Kebiasaan merapikan barang selama sepuluh hingga lima belas menit setiap hari jauh lebih efektif dibanding menunda hingga menumpuk.

Simpan barang yang jarang dipakai di tempat tertutup seperti kotak atau lemari, bukan dibiarkan menumpuk di permukaan yang terlihat. Ruangan yang lebih lega secara visual akan terasa lebih tenang meski luas rumah tidak berubah sama sekali.

2. Redam Sumber Kebisingan dari Luar dan Dalam Rumah

Suara yang datang silih berganti, seperti klakson kendaraan, suara televisi tetangga, atau dengungan alat elektronik, dapat memicu respons stres tubuh meski tidak disadari secara langsung. Otak tetap memproses suara tersebut sebagai potensi ancaman, sehingga tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus.

Harvard Medicine Magazine turut mencatat bahwa kebisingan lingkungan dapat memperberat risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, gangguan tidur, hingga masalah memori dan konsentrasi. Badan Lingkungan Eropa bahkan menyebut kebisingan sebagai ancaman kesehatan lingkungan terbesar kedua setelah polusi udara.

Tanpa perlu memasang peredam suara permanen, langkah sederhana bisa dimulai dari menutup celah di bawah pintu dengan door seal, menambahkan karpet atau permadani untuk menyerap pantulan suara, serta menggunakan tirai tebal yang juga berfungsi meredam bising dari jalan. Menata ulang posisi lemari buku atau rak besar di dekat dinding yang menghadap sumber suara juga dapat membantu meredam gema.

Jika kebisingan datang dari dalam rumah sendiri, seperti suara mesin cuci atau kulkas, meletakkan alas karet di bawah alat tersebut bisa mengurangi getaran dan dengungan yang merambat ke lantai maupun dinding.

3. Manfaatkan Cahaya Alami dan Perbaiki Sirkulasi Udara

Rumah yang gelap dan pengap cenderung terasa lebih sesak, meski ukurannya sebenarnya cukup luas. Sebaliknya, cahaya matahari dan udara yang mengalir lancar dapat membuat ruangan terasa lebih segar dan lapang secara psikologis.

Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan mensyaratkan setiap rumah memiliki ventilasi dan pencahayaan yang memadai sebagai bagian dari kebutuhan fisiologis maupun psikologis penghuni. Aturan itu diperkuat lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023, yang menetapkan rasio luas bukaan jendela minimal 20 persen dari luas lantai agar cahaya dan udara dapat masuk secara optimal.

Tanpa membongkar dinding, cara paling mudah adalah membuka jendela dan tirai setiap pagi selama minimal 15-30 menit untuk mengalirkan udara segar dan mengurangi kelembapan. Memindahkan furnitur besar yang menghalangi jendela juga membantu cahaya masuk lebih maksimal ke dalam ruangan.

Bagi rumah dengan bukaan terbatas, cermin besar yang diletakkan berhadapan dengan sumber cahaya dapat memantulkan sinar matahari ke sudut ruangan yang lebih gelap. Pemilihan tirai berbahan tipis dan berwarna terang di siang hari juga membantu cahaya tetap masuk tanpa mengorbankan privasi.

4. Hadirkan Tanaman Hijau di Sudut-Sudut Rumah

Kehadiran unsur alam di dalam ruangan terbukti membantu memulihkan fokus dan menurunkan tingkat stres psikologis. Konsep ini dikenal sebagai Attention Restoration Theory yang dikembangkan oleh psikolog Rachel dan Stephen Kaplan, yang menjelaskan bahwa lingkungan alami memiliki empat karakteristik pemulihan: menimbulkan ketertarikan, memberi jeda dari rutinitas, memiliki keluasan, serta selaras dengan kebutuhan seseorang.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Environmental Health and Preventive Medicine (dimuat di National Library of Medicine, PMC) menemukan bahwa keberadaan tanaman hijau di ruang tinggal maupun ruang kerja turut meningkatkan emosi positif dan menurunkan stres psikologis, terutama pada masa-masa penuh tekanan berkepanjangan. Semakin baik kondisi pertumbuhan tanaman tersebut, semakin besar pula efek pemulihan mentalnya bagi penghuni ruangan.

Tidak perlu taman luas untuk merasakan manfaat ini. Satu atau dua tanaman berdaun hijau seperti lidah mertua, sirih gading, atau monstera yang diletakkan di meja kerja, ruang tamu, atau dekat jendela sudah cukup memberikan efek menenangkan. Merawat tanaman secara rutin, seperti menyiram dan membersihkan daunnya, juga bisa menjadi aktivitas relaksasi tersendiri di sela kesibukan.

5. Pilih Warna dan Pencahayaan yang Menenangkan

Warna dinding dan intensitas cahaya lampu ternyata turut berkontribusi terhadap suasana emosional penghuni rumah. Warna-warna dingin seperti biru muda, hijau sage, dan abu-abu lembut umumnya memberi kesan tenang dan lapang, sementara warna terlalu terang dan mencolok bisa memicu kelelahan visual jika digunakan berlebihan di ruang istirahat.

Mengganti cat dinding satu ruangan saja, misalnya kamar tidur atau ruang keluarga, sudah cukup mengubah suasana tanpa perlu merombak seluruh rumah. Untuk pencahayaan, gunakan lampu dengan suhu warna hangat (warm white) di ruang santai dan kamar tidur, karena cahaya yang terlalu terang dan kebiruan pada malam hari dapat mengganggu ritme tidur alami tubuh.

Menambahkan lampu meja kecil atau lampu tidur sebagai pencahayaan tambahan di malam hari juga membantu menciptakan suasana yang lebih hangat dan tidak menyilaukan dibanding hanya mengandalkan lampu utama yang terlalu terang.

6. Gunakan Aroma yang Menenangkan

Indra penciuman memiliki jalur langsung ke bagian otak yang mengatur emosi, sehingga aroma tertentu dapat memengaruhi suasana hati dengan cepat. Aroma seperti lavender, chamomile, dan kayu cendana kerap dikaitkan dengan efek relaksasi dan membantu menurunkan tingkat kecemasan ringan.

Menghadirkan aroma menenangkan tidak harus lewat produk mahal. Diffuser minyak esensial, lilin aromaterapi, atau sekadar menaruh potpourri kering di sudut ruangan sudah cukup untuk mengubah suasana rumah. Membuka jendela setelah memasak juga membantu menghilangkan bau menyengat yang bisa memicu ketidaknyamanan.

Pastikan penggunaan aroma tidak berlebihan, terutama bagi penghuni yang memiliki riwayat asma atau alergi pernapasan, karena aroma yang terlalu pekat justru bisa memicu ketidaknyamanan alih-alih menenangkan. Bila memiliki keluhan pernapasan tertentu, ada baiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan aromaterapi secara rutin.

7. Ciptakan Sudut Relaksasi Khusus

Memiliki satu sudut kecil yang didedikasikan khusus untuk beristirahat dapat membantu otak mengasosiasikan area tersebut dengan ketenangan. Sudut ini bisa berupa kursi nyaman di dekat jendela, bantal lantai dengan pencahayaan lembut, atau sekadar meja kecil untuk membaca dan menulis jurnal.

Konsistensi penggunaan area ini penting agar otak membentuk kebiasaan baru: begitu duduk di sudut tersebut, tubuh secara otomatis mulai rileks. Hindari meletakkan pekerjaan atau gawai di area ini agar fungsinya sebagai ruang jeda tetap terjaga.

Sudut relaksasi tidak harus besar. Area seluas satu meter persegi dengan pencahayaan hangat, satu tanaman, dan tempat duduk yang nyaman sudah cukup untuk menciptakan ritual ketenangan harian.

8. Batasi Gangguan Gadget dan Notifikasi Digital

Notifikasi yang terus berbunyi dari ponsel dan perangkat elektronik lain dapat membuat rumah terasa "berisik" secara psikologis, meski suasana fisiknya sunyi. Otak yang terus-menerus dipicu oleh notifikasi cenderung sulit benar-benar beristirahat, bahkan saat berada di rumah.

Menetapkan jam bebas gawai, misalnya satu jam sebelum tidur atau saat waktu makan bersama keluarga, dapat membantu menurunkan tingkat stimulasi berlebih dari layar. Meletakkan keranjang kecil di dekat pintu masuk sebagai tempat menyimpan ponsel saat waktu istirahat keluarga juga menjadi cara sederhana untuk membangun batasan yang jelas.

Mematikan notifikasi yang tidak penting dan mengaktifkan mode senyap pada jam-jam tertentu turut membantu menjaga suasana rumah tetap tenang tanpa gangguan bunyi elektronik yang berulang.

9. Libatkan Seluruh Anggota Keluarga Menjaga Kebiasaan

Ketenangan rumah sulit bertahan lama jika hanya diusahakan oleh satu orang saja. Melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak, dalam menjaga kerapian dan kebiasaan baik akan membuat suasana tenang lebih konsisten terjaga.

Membagi tugas rumah tangga sederhana, seperti merapikan mainan sebelum tidur atau menata sepatu di rak yang sama, membantu mengurangi penumpukan barang yang menjadi salah satu pemicu utama stres di rumah. Komunikasi terbuka antaranggota keluarga soal kebutuhan privasi dan waktu tenang masing-masing juga penting agar rumah benar-benar terasa sebagai tempat berlindung, bukan sumber tekanan baru.

Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama secara konsisten, meski sederhana, pada akhirnya memberi dampak lebih besar dibanding proyek renovasi mahal yang hanya mengubah tampilan tanpa menyentuh kebiasaan sehari-hari penghuninya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Membuat Rumah Tenang

1. Apakah cara membuat rumah terasa lebih tenang tanpa renovasi besar benar-benar efektif?

Efektif jika dilakukan konsisten. Studi UCLA (Saxbe & Repetti, 2010) menunjukkan rumah yang rapi dan tertata berkaitan dengan pola kortisol yang lebih rendah dibanding rumah yang berantakan.

2. Berapa lama hasilnya bisa dirasakan?

Sebagian perubahan seperti membuka jendela di pagi hari atau merapikan satu sudut ruangan bisa terasa dampaknya dalam hitungan hari, sementara kebiasaan seperti menata warna atau sudut relaksasi butuh waktu lebih panjang agar terasa maksimal.

3. Apakah menambahkan tanaman benar-benar membantu menenangkan pikiran?

Menurut Attention Restoration Theory dan penelitian yang dimuat di PMC/NCBI, kehadiran tanaman hijau di dalam ruangan terbukti membantu memulihkan fokus dan menurunkan stres psikologis, terutama saat digunakan secara rutin.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6