Kebiasaan Orang Makan Es Batu, Kenali Penyebab dan Dampaknya

Kebiasaan orang makan es batu secara kompulsif dikenal sebagai pagofagia, bentuk pica yang bisa mengindikasikan anemia, stres emosional, atau dehidrasi.

Diterbitkan 28 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan orang makan es batu sering dilakukan untuk mendapatkan sensasi dingin dan menyegarkan, terutama saat cuaca panas. Mengonsumsi es sesekali umumnya bukan masalah, tetapi dorongan untuk terus mengunyah es secara berlebihan perlu diperhatikan.

Pada kondisi tertentu, kebiasaan orang makan es batu dapat berkaitan dengan kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi. Keinginan mengonsumsi es secara terus-menerus juga dikenal sebagai pagophagia, salah satu bentuk pica yang ditandai dengan dorongan mengonsumsi benda tanpa nilai gizi.

Selain berkaitan dengan kondisi tubuh, kebiasaan orang makan es batu terlalu sering dapat berdampak pada kesehatan gigi. Es yang keras berisiko merusak enamel, membuat gigi retak atau patah, serta meningkatkan sensitivitas apabila terus-menerus dikunyah.

Berikut Liputan6.com merangkum dari Medical News Today dan Healthline tentang kebiasaan orang makan es batu, Senin (28/9/2026).

Kebiasaan Makan Es Batu

Makan atau mengunyah es batu sesekali umumnya dilakukan untuk mendapatkan sensasi dingin dan menyegarkan, terutama ketika cuaca sedang panas. Sebagian orang juga mengisap es batu untuk membantu meredakan mulut kering atau rasa haus. Namun, kebiasaan mengonsumsi es secara terus-menerus, terutama karena adanya dorongan kuat untuk mengunyahnya, perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dikenal sebagai pagophagia.

Pagophagia merupakan istilah medis untuk kebiasaan mengonsumsi es secara kompulsif dan termasuk salah satu bentuk pica, yaitu kondisi yang ditandai dengan dorongan mengonsumsi benda tanpa nilai gizi. Keinginan makan atau mengunyah es yang berlangsung lebih dari satu bulan dapat menjadi tanda adanya kondisi tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Meski begitu, tidak semua orang yang suka makan es batu mengalami gangguan kesehatan.

Alasan Seseorang Sering Makan Es Batu

Salah satu kondisi yang paling sering dikaitkan dengan kebiasaan mengunyah es adalah kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi. Hubungan antara keduanya telah ditemukan dalam sejumlah penelitian, meskipun alasan mengapa kekurangan zat besi dapat memicu keinginan makan es belum sepenuhnya dipahami. Pada orang yang mengalami anemia defisiensi besi, penanganan terhadap kekurangan zat besi dapat membantu mengurangi keinginan tersebut.

Selain anemia, kebiasaan mengonsumsi es dapat berkaitan dengan stres emosional atau kondisi psikologis tertentu. Sebagian orang mungkin merasa lebih nyaman setelah mengunyah es. Dehidrasi juga dapat membuat seseorang lebih sering mengisap es karena sensasi dinginnya membantu menyegarkan tubuh, mengurangi rasa haus, atau melembapkan mulut dan bibir yang kering.

Pada beberapa kasus, pica, termasuk kebiasaan makan es, juga dapat muncul bersamaan dengan autisme, terutama pada anak-anak. Karena penyebabnya dapat berbeda pada setiap orang, kebiasaan mengonsumsi es secara kompulsif sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda satu kondisi tertentu.

Dampak Terlalu Sering Mengunyah Es Batu

Mengunyah es batu secara rutin dapat memberikan tekanan kuat dan berulang pada gigi. Kebiasaan ini berisiko merusak enamel, menyebabkan gigi retak atau terkelupas, serta meningkatkan sensitivitas terhadap makanan dan minuman panas maupun dingin.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kerusakan tersebut juga dapat memicu nyeri pada gigi dan meningkatkan risiko gigi berlubang. Pada penggunaan yang berlebihan, tambalan atau restorasi gigi dapat mengalami kerusakan hingga terlepas.

Konsumsi es batu sendiri umumnya tidak menyebabkan kerusakan pada organ dalam. Namun, jika kebiasaan tersebut merupakan bagian dari pica, seseorang mungkin juga memiliki dorongan untuk mengonsumsi benda nonmakanan lainnya.

Jenis pica tersebut dapat menimbulkan risiko kesehatan yang berbeda, tergantung benda yang dikonsumsi, seperti gangguan pada saluran pencernaan, infeksi, keracunan, hingga tersedak. Karena itu, kebiasaan mengonsumsi benda nonmakanan secara kompulsif perlu diperhatikan dan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Kapan Kebiasaan Makan Es Batu Perlu Diperiksa?

Jika keinginan makan atau mengunyah es berlangsung terus-menerus selama lebih dari satu bulan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mencari kemungkinan penyebabnya. Pemeriksaan dapat mencakup tes darah apabila terdapat dugaan kekurangan zat besi atau anemia. Penanganan kemudian disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya.

Sementara itu, jika kebiasaan mengunyah es sudah menyebabkan sakit gigi, gigi retak, tambalan rusak, atau sensitivitas, pemeriksaan ke dokter gigi dapat dilakukan. Mengatasi penyebab yang mendasari tidak hanya membantu mengurangi dorongan mengonsumsi es, tetapi juga mencegah masalah pada gigi berkembang menjadi lebih serius.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Orang Makan Es Batu

Apakah makan es batu sesekali berbahaya?

Makan atau mengisap es batu sesekali umumnya tidak berbahaya. Kebiasaan tersebut dapat dilakukan untuk menyegarkan tubuh, mengurangi rasa haus, atau membantu meredakan mulut kering. Yang perlu diperhatikan adalah dorongan mengonsumsi es secara terus-menerus dan sulit dikendalikan.

Apa itu pagofagia?

Pagofagia adalah istilah medis untuk kebiasaan mengonsumsi es secara kompulsif. Kondisi ini merupakan salah satu bentuk pica, yaitu dorongan mengonsumsi benda yang tidak memiliki nilai gizi. Keinginan makan atau mengunyah es yang menetap selama lebih dari satu bulan perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.

Apa saja penyebab seseorang memiliki kebiasaan makan es batu?

Kebiasaan tersebut sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi. Selain itu, keinginan mengunyah es dapat berkaitan dengan stres emosional, kondisi psikologis tertentu, atau dehidrasi. Pada beberapa kasus, perilaku pica termasuk makan es juga dapat muncul bersamaan dengan autisme.

Apa risiko kesehatan dari mengunyah es batu secara berlebihan?

Mengunyah es terlalu sering dapat memberikan tekanan pada gigi dan merusak enamel. Dampaknya dapat berupa gigi retak atau terkelupas, sensitivitas terhadap suhu, sakit gigi, hingga meningkatnya risiko gigi berlubang. Tambalan atau restorasi gigi juga dapat rusak akibat kebiasaan tersebut.

Kapan kebiasaan makan es batu perlu diperiksakan?

Jika keinginan mengonsumsi es berlangsung lebih dari satu bulan atau terasa sulit dikendalikan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan, termasuk tes darah, dapat dilakukan jika ada dugaan kekurangan zat besi. Ibu hamil yang mengalami keinginan makan es juga sebaiknya segera berkonsultasi karena kondisi tersebut dapat berkaitan dengan anemia.