Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan orang tua bikin anak merasa dihargai sering kali bukan soal hadiah mahal atau pujian berlebihan. Anak justru lebih mudah merasa berarti ketika kehadiran, cerita, dan usahanya benar-benar diperhatikan.
Melansir dari UNICEF Parenting, mendengarkan secara aktif membantu anak merasa didengar dan dipahami. Kementerian Kesehatan RI melalui laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan juga menyebut bahwa pola asuh yang tepat dapat memberikan efek positif bagi kesehatan mental anak.
Anak yang merasa dihargai cenderung lebih percaya diri, berani bercerita, dan mudah diajak bekerja sama. Rasa dihargai tumbuh dari perhatian dalam keseharian.
Advertisement
Kemenkes menjelaskan bahwa komunikasi dan cara mendisiplinkan anak berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Pola asuh yang terlalu keras dan minim apresiasi dapat membuat anak takut, mudah marah, sulit mengontrol diri, dan kurang percaya diri.
Menghargai anak bukan berarti memanjakannya. Kabar baiknya, membangun rasa dihargai tidak membutuhkan waktu berjam-jam. Berikut adalah kebiasaan orang tua bikin anak merasa dihargai dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (28/9/2026).
Â
Â
1. Tanyakan Hal-Hal Kecil dalam Keseharian Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
Pertanyaan "Bagaimana sekolahmu hari ini?" memang membuka percakapan. Namun anak sering menjawab singkat, "biasa saja". Cobalah bertanya lebih spesifik agar anak merasa keseharian dan minatnya penting untuk diketahui.
Contoh pertanyaan yang bisa dicoba:
- "Gambar apa yang kamu buat hari ini?"
- "Permainan apa yang paling seru tadi?"
- "Ada teman yang bilang sesuatu yang lucu?"
UNICEF menyarankan orang tua bertanya "apa", "mengapa", dan "bagaimana" untuk menunjukkan bahwa mereka mendengarkan. Cara ini juga membantu anak belajar menceritakan sesuatu dengan runtut.
Percakapan dua arah pun punya manfaat nyata. Laporan UNICEF Innocenti berjudul How Listening Develops and Affects Well-being Throughout Childhood (2021) merujuk studi Romeo dan rekan (2018). Semakin sering anak mengalami percakapan bolak-balik di rumah, semakin besar aktivitas otaknya saat mendengarkan cerita.
Advertisement
2. Beri Perhatian Penuh Selama Beberapa Menit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
Anak tidak selalu butuh waktu berjam-jam. Beberapa menit tanpa gangguan sering kali lebih bermakna daripada satu hari penuh yang diisi sambil membuka ponsel.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, mendengarkan aktif berarti memberi perhatian penuh, menatap mata anak, menghentikan pekerjaan lain, dan menyejajarkan posisi dengan anak. Raising Children Network dari Australia menambahkan agar orang tua mematikan televisi dan meletakkan ponsel saat anak berbicara.
Biarkan anak menyelesaikan ceritanya dulu sebelum Ayah atau Ibu memberi nasihat. Cerita tentang pensil patah atau bertengkar kecil di tempat bermain mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa. Bagi anak, itu bisa menjadi hal besar.
3. Puji Usaha, Bukan Sekadar Hasil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Pujian "bagus sekali" boleh saja. Namun pujian yang spesifik terasa lebih tulus dan lebih berarti. CDC menyebut bahwa pujian spesifik, misalnya "Ibu lihat kamu merapikan mainanmu sendiri!", membuat anak tahu persis perilaku apa yang disukai orang tua.
Ada pula bukti ilmiah tentang jenis pujian. Dalam jurnal Praise for Intelligence Can Undermine Children's Motivation and Performance (1998) karya Claudia M. Mueller dan Carol S. Dweck, enam studi menunjukkan bahwa pujian atas kecerdasan berdampak lebih buruk pada motivasi belajar dibanding pujian atas usaha. Anak yang dipuji pintar cenderung kurang gigih dan kurang menikmati tugas setelah mengalami kegagalan.
Studi jangka panjang memperkuat temuan ini. Peneliti University of Chicago dan Stanford menemukan bahwa porsi pujian proses dari orang tua pada anak usia 1-3 tahun memprediksi sikap anak terhadap tantangan lima tahun kemudian. Contohnya, "Kamu tidak mudah menyerah, ya, padahal puzzle-nya sulit."
Advertisement
4. Akui dan Beri Nama pada Perasaan Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327076/original/024795700_1787050135-IMG_2449.jpeg)
Anak merasa dihargai ketika perasaannya tidak diremehkan. Kalimat seperti "Begitu saja kok nangis" membuatnya merasa perasaannya salah.
CDC memberi contoh sederhana. Saat anak mengadu karena dipukul kakaknya, orang tua berhenti dari kegiatannya, menatap anak, lalu merangkum perasaannya: "Sepertinya kamu sedih karena kakak memukul dan berkata kasar." Cara ini membuat anak tahu bahwa emosinya penting bagi orang tua.
UNICEF juga mengingatkan risiko sebaliknya. Jika orang tua tidak mendengarkan dengan baik, anak bisa merasa kekhawatirannya diabaikan dan perasaannya dianggap tidak sah. Akibatnya, anak bisa merasa defensif, kesal, atau sendirian.
5. Pertahankan Satu Kebiasaan Kecil yang Menjadi Milik Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5424229/original/056901700_1764136776-jcomp__2_.jpg)
Ritual tidak harus mahal atau rumit. Bisa berupa mengobrol lima menit sebelum lampu kamar dimatikan, jalan pagi bersama setiap Minggu, atau salam khusus sebelum berangkat sekolah.
Raising Children Network menjelaskan bahwa tradisi dan ritual keluarga menguatkan ikatan dan membantu anak merasa aman, terutama pada masa penuh perubahan. Menurut lembaga yang sama, rutinitas menciptakan lingkungan rumah yang teratur dan dapat diprediksi sehingga anak merasa aman dan diperhatikan.
Kunci ritual ada pada konsistensinya. Anak belajar bahwa ada waktu tertentu yang khusus untuk terhubung dengan orang tua. Kebiasaan kecil yang rutin biasanya lebih lama diingat daripada acara besar yang jarang terjadi.
Advertisement
6. Libatkan Anak dalam Kehidupan Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4096665/original/032090000_1658410272-pexels-emma-bauso-2253879.jpg)
Anak merasa dihargai ketika ia dianggap bagian dari keluarga, bukan sekadar penerima perintah. Minta pendapatnya soal menu makan malam, penataan kamar, atau rencana akhir pekan. Berikan tugas ringan sesuai usia, seperti menata piring atau menyiram tanaman.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memuat contoh serupa dalam siaran persnya. Perwakilan Forum Anak Nasional menyebut bentuk partisipasi anak bisa dimulai dari keluarga, misalnya saat menentukan menu masakan, memilih sekolah, dan merenovasi rumah.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Perlu diingat, melibatkan anak bukan berarti anak memegang keputusan akhir. Orang tua tetap menentukan batas, tetapi suara anak diberi ruang. Kegiatan bersama juga bisa jadi hadiah. CDC menyebut membaca cerita atau membantu menyiapkan makan malam sebagai contoh waktu bersama yang bermakna bagi anak.
7. Dengarkan Pendapat Anak, Meski Berbeda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325524/original/073170300_1756002900-front-view-beautiful-family-chatting.jpg)
Menghargai bukan berarti selalu setuju. Anak perlu tahu bahwa pendapatnya boleh disampaikan dan akan didengar dengan hormat.
KemenPPPAÂ (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)Â menegaskan bahwa partisipasi anak adalah hak anak untuk didengar suara dan pandangannya oleh orang dewasa, termasuk orang tua. Dalam siaran pers yang sama, kementerian merujuk Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang mendorong upaya agar anak bebas menyatakan pendapat.
Â
UNICEF menyampaikan pesan senada untuk orang tua remaja. Pendengar yang baik tetap peduli dan tidak menghakimi, bahkan ketika tidak sependapat. Saat anak salah, dengarkan alasannya lebih dulu, baru arahkan.
Advertisement
8. Jaga Nada dan Cara Bicara saat Anak Berbuat Salah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5038399/original/043864800_1733462367-Gambar_WhatsApp_2024-12-06_pukul_11.16.11_c5ee6ee8.jpg)
Cara menegur menentukan apakah anak merasa dihargai atau direndahkan. Kritik pada perilaku, bukan pada pribadi. Ucapkan "Adik menangis karena mainannya kamu ambil", bukan "Kamu memang nakal".
Tulisan Kemenkes tadi mengingatkan bahwa pengasuhan yang serba memaksa dan sering menghukum berisiko membuat anak sulit mengontrol emosi dan kurang mandiri. Aturan tetap perlu ada, tetapi disampaikan dengan tenang dan jelas.
Beberapa langkah praktis:
- Tarik napas dulu sebelum menegur.
- Jelaskan alasan aturan dengan bahasa sederhana.
- Tegur di tempat yang tidak mempermalukan anak di depan orang lain.
- Akhiri dengan arahan tentang apa yang sebaiknya dilakukan.
9. Jadi Teladan Sikap Saling Menghargai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5536575/original/051898300_1774330677-pexels-elly-fairytale-3806962.jpg)
Anak belajar menghargai orang lain dari cara orang tua memperlakukannya. UNICEF menyebut bahwa orang tua yang menghormati pandangan anak membantu anak menghormati pandangan orang tua juga.
Tunjukkan lewat hal kecil. Ucapkan "tolong" dan "terima kasih", tepati janji yang dibuat, dan minta maaf bila Ayah atau Ibu keliru. Saat orang tua mengakui kesalahan, anak belajar bahwa setiap orang berhak dihargai, termasuk dirinya.
Advertisement
Ganti Ucapan Umum dengan yang Lebih Bermakna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6596423/original/010718000_1779434304-pexels-rdne-7605909.jpg)
| Yang Biasa Diucapkan | Alternatif yang Lebih Menghargai | Alasannya |
|---|---|---|
| "Bagaimana sekolahmu?" | "Apa hal paling lucu hari ini?" | Memancing cerita spesifik |
| "Bagus sekali!" | "Kamu tidak menyerah meski soalnya sulit." | Mengakui usaha, bukan hanya hasil |
| "Begitu saja kok nangis." | "Kamu kelihatan sedih, mau cerita?" | Mengakui perasaan anak |
| "Sudah, Ibu sibuk." | "Beri Ibu lima menit, lalu Ibu dengarkan." | Menunjukkan anak diprioritaskan |
| "Pokoknya harus begini!" | "Menurutmu, bagaimana baiknya?" | Memberi ruang berpendapat |
Tidak Harus Sempurna, yang Penting Konsisten
Tidak ada orang tua yang selalu berhasil. Ada hari ketika Ayah dan Ibu lelah, ponsel berbunyi, atau emosi ikut naik. Itu wajar.
Lembaga perlindungan anak Childhelp menegaskan bahwa anak tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan orang dewasa yang dapat diandalkan dan hadir dengan kasih, kesabaran, dan perhatian. Jika kemarin terlewat, mulai lagi hari ini dengan satu kebiasaan kecil.
Ke Mana Mencari Bantuan Pengasuhan?
Bila terasa sulit berkomunikasi dengan anak, orang tua tidak perlu berjalan sendiri. KemenPPPA menyebut adanya Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang memberi edukasi dan konsultasi konseling pengasuhan bagi keluarga oleh konselor dan psikolog. Dalam siaran pers Januari 2023, KemenPPPA mencatat 257 PUSPAGA. Jumlah dan lokasinya dapat berubah, jadi periksa informasi terbaru di laman resmi KemenPPPA atau dinas setempat.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang menetap, seperti sangat murung atau menarik diri, konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau psikolog.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Membuat Anak Merasa Dihargai
1. Apakah memuji anak akan membuatnya manja?
Tidak selalu. Yang perlu dihindari adalah pujian yang berlebihan dan tidak spesifik. Pujian atas usaha dan perilaku tertentu justru membantu anak paham hal baik yang perlu diulang.
2. Bagaimana jika orang tua sangat sibuk bekerja?
Kualitas perhatian lebih penting daripada lamanya waktu. Lima menit tanpa ponsel, dengan tatapan dan simpati penuh, sudah bermakna bagi anak.
3. Sejak usia berapa anak bisa dilibatkan dalam keputusan keluarga?
Sejak dini, sesuai kemampuan anak. Anak kecil bisa memilih antara dua pilihan menu, sedangkan anak yang lebih besar bisa dimintai pendapat soal rencana keluarga.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359742/original/014720700_1790573611-HOAX__26_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359880/original/077733700_1790582075-Cek_fakta_-_Romo_Koko_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360026/original/045804200_1790587492-pexels-freestockpro-12940853.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355946/original/054486000_1790148838-332__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355902/original/030503500_1790146463-c04bc17d-8684-43f2-9068-07999fe85942.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353536/original/012125000_1789968723-20260919_091409.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347895/original/044766700_1789374736-7f5a2402-d1f4-44a5-9786-e9a2e1101812.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/960372/original/069033200_1439981589-Untitled.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344830/original/076268300_1789007262-48227bb0-a74b-44ed-acdb-f6bb89649b73.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342730/original/031913900_1788795688-1000628310.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5434064/original/062926800_1764911468-Lifestylememory.jpg)