Ice Facial, Tren Kompres Es untuk Wajah Lebih Segar dan Kencang

Tren ice facial dikenal melalui media sosial, karena dianggap praktis dan dapat dilakukan tanpa banyak perlengkapan.

Diterbitkan 04 September 2026, 23:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Es batu kini tidak hanya menjadi pelengkap minuman dingin, tapi juga mulai digunakan sebagai bagian dari rutinitas perawatan wajah. Teknik yang dikenal sebagai ice facial tersebut dilakukan dengan memberikan paparan dingin pada permukaan kulit menggunakan es atau alat khusus seperti ice roller.

Perawatan berbasis suhu dingin sebenarnya bukan hal baru dalam dunia kesehatan. Cold therapy atau krioterapi telah digunakan untuk membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan pada bagian tubuh tertentu. Prinsip serupa kemudian diterapkan dalam perawatan wajah dengan harapan dapat memberikan tampilan kulit yang lebih segar.

Popularitas ice facial turut didorong oleh kesederhanaannya. Tidak diperlukan rangkaian produk khusus untuk mencoba teknik tersebut, sehingga perawatan ini mudah masuk ke dalam rutinitas pagi maupun malam.

Sejumlah facialist, penata rias, dan model menggunakan teknik dingin sebagai bagian dari persiapan wajah, terutama untuk memberikan kesan lebih segar sebelum beraktivitas, melansir Vogue, Jumat (4/9/2026).

Fenomena tersebut membuat ice facial menarik bagi mereka yang ingin menghadirkan ritual singkat sebelum memulai hari.

Wajah yang terlihat sembap setelah bangun tidur menjadi salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan penggunaan kompres dingin, meski penelitian khusus mengenai efektivitas icing pada pembengkakan wajah masih belum tersedia.

Kompres dingin dapat membantu mengurangi pembengkakan dengan menyebabkan pembuluh darah menyempit sehingga cairan dan respons peradangan pada area tersebut berkurang untuk sementara.

Dari Wajah Sembap hingga Tampilan Kulit Lebih Bercahaya

Area sekitar mata juga sering menjadi sasaran karena kulit di bagian tersebut dapat terlihat lebih bengkak ketika tubuh mengalami kelelahan. Tampilan kulit yang lebih bercahaya menjadi manfaat lain yang kerap dikaitkan dengan teknik ini.

Sejumlah facialist menggunakan suhu dingin untuk membantu meningkatkan kesan segar pada wajah melalui perubahan sirkulasi. Jerawat yang mengalami peradangan menjadi salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan kompres dingin.

Suhu dingin berpotensi membantu meredakan sensasi nyeri dan inflamasi pada jerawat yang meradang, meski ice facial tidak dapat menggantikan rutinitas perawatan kulit atau pengobatan jerawat yang sesuai.

Tampilan garis halus dapat terlihat lebih samar setelah kulit mendapatkan efek dingin. Namun, perubahan tersebut bersifat sementara dan tidak mengatasi penyebab utama penuaan kulit seperti berkurangnya kolagen dan kerusakan akibat paparan sinar matahari.

Esnya Bisa Dibuat Lebih Variatif

Air bukan satu-satunya bahan yang digunakan dalam tren ice facial. Sejumlah penggemar teknik ini membuat es dari bahan lain, seperti teh hijau, kopi, dan lidah buaya, untuk memberikan sensasi perawatan berbeda. Meski demikian, manfaat penggunaannya secara khusus sebagai es wajah masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Teh hijau populer karena mengandung katekin dengan potensi sifat antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Sementara itu, lidah buaya dikenal dalam perawatan kulit karena berpotensi membantu pemulihan, termasuk pada luka bakar dan kondisi jerawat.

Kopi dan bahan berkafein juga digunakan dalam variasi skin icing. Kafein dapat membantu menyempitkan pembuluh darah sehingga berpotensi mengurangi tampilan bengkak. Namun, bahan-bahan tersebut tetap bukan pengganti produk perawatan yang telah terbukti efektif untuk kebutuhan kulit tertentu.

Cara Mencoba Ice Facial Tanpa Mengganggu Skin Barrier

Wajah sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu sebelum menjalani ice facial. Es perlu dibungkus menggunakan kain lembut, tisu, atau lapisan pelindung lain agar tidak bersentuhan langsung dengan kulit. Lakukan gerakan memijat secara perlahan selama sekitar satu hingga dua menit atau sekitar lima hingga sepuluh menit dengan tetap menggunakan pembatas antara es dan kulit.

Orang dengan kondisi seperti eksim atau skin barrier yang sedang terganggu dapat mengalami iritasi lebih mudah, sementara area sekitar mata membutuhkan gerakan yang lebih lembut karena kulitnya lebih tipis dan rentan.

Penggunaan sekali sehari sudah cukup, sementara beberapa kali dalam seminggu dapat menjadi pilihan bagi mereka yang merasa lebih nyaman dengan rutinitas tersebut.

Efek yang diharapkan pun sebaiknya tetap realistis karena ice facial tidak terbukti mampu mengecilkan pori-pori secara permanen, mengontrol produksi minyak, atau mengatasi noda hitam.