10 Ciri Teman yang Sebenarnya Pura-Pura Baik, Suka Menusuk dari Belakang dengan Cara Ini

10 ciri teman yang sebenarnya pura-pura baik. Apakah ada temanmu dengan ciri ini?

Diterbitkan 12 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam pertemanan, tidak semua sikap yang terlihat ramah menunjukkan hubungan yang tulus. Ada perilaku tertentu yang awalnya terasa biasa saja, tetapi perlahan membuat seseorang bertanya-tanya di hubungan sosial yang dekat itu. Oleh sebab itu informasi ciri teman yang sebenarnya pura-pura baik perlu disimak dengan saksama.

Hal seperti ini sering baru terasa ketika sebuah cerita pribadi tiba-tiba diketahui orang lain, candaan mulai terasa keterlaluan, atau seseorang merasa tidak lagi diperlakukan seperti sebelumnya. Namun, satu kejadian belum cukup untuk menilai maksud seseorang. Pola perilaku dan situasi yang menyertainya tetap perlu diperhatikan sebelum menyimpulkan.

Lantas, apa yang sebenarnya perlu diperhatikan ketika hubungan pertemanan mulai terasa berbeda? Apakah salah satu pihak hanya pura-pura baik semata? Untuk mengetahuinya, berikut Liputan6 ulas Ciri Teman yang Sebenarnya Pura-Pura Baik, Sabtu (12/9).

1. Sering Membicarakan Teman di Belakang

Teman yang sering membicarakan kekurangan orang lain ketika orang tersebut tidak ada perlu diperhatikan. Kebiasaan ini menjadi masalah ketika pembicaraan berubah menjadi bahan untuk menjatuhkan atau membuat orang lain memiliki pandangan buruk.

Gosip tidak selalu digunakan untuk menyakiti seseorang. Namun, American Psychological Association menjelaskan bahwa agresi relasional dapat mencakup gosip, penghinaan, dan tindakan yang merusak hubungan.

Jika perilaku yang sama dilakukan kepada banyak orang, ada kemungkinan pola tersebut juga terjadi ketika seseorang sedang tidak berada di hadapannya. Karena itu, perhatikan cara teman membicarakan orang lain.

2. Membocorkan Rahasia yang Dipercayakan

Rahasia yang diberikan kepada teman biasanya mengandung harapan bahwa informasi tersebut tidak disampaikan kepada orang lain. Ketika informasi pribadi justru menjadi bahan percakapan, kepercayaan dalam hubungan bisa terganggu.

American Psychological Association memasukkan pengungkapan rahasia kepada pihak luar sebagai salah satu bentuk pengkhianatan dalam hubungan. Pengkhianatan juga dapat berupa kebohongan, tidak menepati janji, dan tindakan yang sengaja merugikan.

Karena itu, membocorkan cerita pribadi bukan sekadar masalah komunikasi. Jika dilakukan berulang, tindakan tersebut bisa menjadi tanda bahwa batas kepercayaan tidak dihargai.

3. Mengadu Domba Teman

Mengadu domba dapat terjadi ketika seseorang menyampaikan informasi berbeda kepada dua pihak agar muncul perselisihan. Cara ini bisa membuat seseorang sulit mengetahui informasi mana yang sebenarnya disampaikan.

Perilaku tersebut berkaitan dengan tindakan yang memanfaatkan hubungan sosial untuk menimbulkan masalah. Agresi relasional dalam psikologi juga mencakup perilaku yang memanipulasi atau merusak hubungan antarmanusia.

Jika seorang teman terus membawa cerita dari satu orang kepada orang lain dan membuat keduanya saling curiga, pola tersebut perlu diperhatikan. Jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum memeriksa informasi dari pihak terkait.

4. Sengaja Mengucilkan Saat Ada Kepentingan

Teman yang tiba-tiba menjauh atau mengajak orang lain meninggalkan seseorang ketika sedang membutuhkan sesuatu dapat membuat hubungan terasa tidak seimbang. Pola tersebut perlu dilihat dari frekuensi dan situasinya.

Pengucilan termasuk salah satu bentuk perilaku yang dapat digunakan untuk memengaruhi hubungan sosial. American Psychological Association juga membahas penarikan hubungan sebagai salah satu bentuk agresi relasional.

Perbedaan antara menjaga jarak dan mengucilkan terletak pada pola serta tujuan perilakunya. Karena itu, seseorang sebaiknya melihat situasi secara utuh sebelum menilai hubungan pertemanannya.

5. Mempermalukan Teman di Depan Orang Lain

Candaan dapat menjadi bagian dari pertemanan, tetapi candaan yang berulang dan menjadikan seseorang sebagai sasaran dapat menimbulkan masalah. Terlebih jika dilakukan di depan banyak orang untuk membuat korban terlihat buruk.

APA mendefinisikan agresi relasional sebagai perilaku yang dapat mencakup penghinaan dan tindakan yang merusak hubungan.

Jika seseorang sudah menyampaikan bahwa candaan tersebut membuatnya tidak nyaman, tetapi tindakan itu terus dilakukan, batasan tersebut patut diperhatikan. Teman yang menghargai hubungan seharusnya mampu menerima batasan tersebut.

6. Membuat Teman Merasa Bersalah

Rasa bersalah dapat muncul dalam hubungan pertemanan ketika seseorang terus menerus membuat temannya merasa harus mengikuti keinginannya. Misalnya, seseorang dianggap tidak peduli hanya karena menolak permintaan.

Perilaku seperti ini perlu dibedakan dari perbedaan pendapat biasa. Masalah muncul ketika rasa bersalah digunakan berulang kali untuk mengendalikan keputusan teman.

Dalam hubungan yang sehat, setiap orang tetap memiliki ruang untuk mengatakan tidak. Jika penolakan selalu dibalas dengan tekanan atau tuduhan, pola komunikasi tersebut perlu diperhatikan.

7. Tidak Senang Ketika Teman Mendapat Kesempatan

Persaingan dapat muncul dalam pertemanan, tetapi masalah terjadi ketika keberhasilan seseorang justru diikuti usaha untuk meremehkan atau menghambatnya.

Perilaku tersebut bisa terlihat melalui komentar yang mengurangi pencapaian teman atau usaha mengalihkan pembicaraan ketika teman memperoleh kesempatan.

Karena itu, perhatikan respons seseorang ketika temannya mendapat kabar baik. Dukungan tidak harus berupa pujian, tetapi hubungan pertemanan membutuhkan penghargaan terhadap kesempatan yang diterima masing-masing pihak.

8. Menggunakan Informasi Pribadi untuk Menyerang

Informasi pribadi yang diketahui melalui hubungan pertemanan seharusnya tidak digunakan untuk menyerang ketika terjadi perbedaan pendapat. Ketika hal tersebut terjadi, masalahnya bukan lagi sekadar pertengkaran.

Pengkhianatan dalam hubungan, menurut APA, dapat mencakup tindakan yang melanggar harapan mengenai kepercayaan dan perhatian terhadap pihak lain.

Jika informasi yang pernah disampaikan secara pribadi kemudian digunakan untuk mempermalukan atau merugikan, seseorang dapat mempertimbangkan kembali batas informasi yang dibagikan kepada teman tersebut.

9. Bersikap Berbeda di Depan dan di Belakang

Dalam pertemanan, perilaku ini tidak selalu terlihat sebagai pertengkaran, tetapi bisa muncul ketika seseorang menunjukkan sikap berbeda saat berada di depan dan di belakang temannya.

Hal ini sejalan dengan penelitian Naomi C. Z. Andrews, Laura D. Hanish, dan Debra J. Pepler dalam A Dyadic Perspective on Aggressive Behavior Between Friends di jurnal Aggressive Behavior. Penelitian terhadap 952 pelajar menunjukkan bahwa agresi dapat terjadi di antara teman, sementara orang yang menjadi sasaran melaporkan kepuasan pertemanan yang lebih rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kedekatan dalam pertemanan tidak selalu mencegah perilaku yang merugikan. Karena itu, jika seseorang terus menunjukkan dukungan ketika berhadapan langsung, tetapi merendahkan, menyebarkan cerita, atau merugikan temannya ketika tidak ada, pola tersebut patut diperhatikan.

10. Terus Mengulangi Perilaku yang Merusak Kepercayaan

Ciri terakhir bukan terletak pada satu tindakan, melainkan pengulangan perilaku. Kesalahan bisa terjadi dalam setiap hubungan, tetapi masalah muncul ketika tindakan yang sama terus dilakukan setelah seseorang mengetahui dampaknya.

Hubungan pertemanan yang mengalami pola perilaku merugikan dapat memengaruhi kepuasan terhadap hubungan tersebut. APA juga menjelaskan bahwa pola perilaku yang merusak hubungan dapat terjadi dalam berbagai hubungan, termasuk pertemanan.

Karena itu, jangan menilai seseorang hanya berdasarkan satu kejadian. Perhatikan apakah ada pola, apakah batasan sudah disampaikan, dan apakah orang tersebut berusaha memperbaiki perilakunya setelah mengetahui dampaknya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Teman yang Sebenarnya Pura-Pura Baik

Apa ciri teman yang sebenarnya pura-pura baik?

Ciri yang perlu diperhatikan antara lain sering membicarakan teman di belakang, membocorkan rahasia, mengadu domba, mempermalukan, dan menggunakan informasi pribadi untuk merugikan.

Bagaimana mengetahui teman yang menusuk dari belakang?

Perhatikan pola perilaku, bukan satu kejadian. Jika seseorang berulang kali menyebarkan cerita pribadi, merusak hubungan, atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepercayaan, hubungan tersebut perlu dievaluasi.

Apakah teman yang sering bergosip berarti tidak bisa dipercaya?

Belum tentu. Gosip memiliki banyak bentuk dan tujuan. Namun, jika seseorang menyebarkan informasi pribadi atau menggunakan cerita untuk merugikan orang lain, perilaku tersebut patut diperhatikan.

Apa yang harus dilakukan jika mengetahui teman membicarakan kita?

Sebaiknya periksa informasi terlebih dahulu, kemudian bicarakan langsung jika situasinya memungkinkan. Hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan cerita dari pihak ketiga.

Kapan sebaiknya menjauh dari teman?

Menjauh dapat dipertimbangkan ketika perilaku yang merugikan terus berulang, batasan tidak dihargai, dan hubungan tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Â