Jelang Rapat The Fed, Trump: AS Harus Punya Suku Bunga Terendah di Dunia

Presiden AS Donald Trump mengakui tak dapat menebak arah the Fed.

Diterbitkan 14 September 2026, 18:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Donald Trump mengatakan tak boleh ada negara yang suku bunganya lebih rendah dari Amerika Serikat (AS), Minggu, 13 September 2026, beberapa hari sebelum bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), menggelar rapat kebijakan.

Dikutip dari Channel News Asia, Senin, (14/9/2026), Trump dalam turnamen golf Irish Open mengaku tak bisa menebak The Fed selanjutnya terkait suku bunga di pertemuan nanti. Namun, ia menegaskan AS seharusnya memiliki suku bunga terendah di dunia, terlepas dari data inflasi dan kondisi perekonomiannya.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat, 11 September 2026 melaporkan indeks harga konsumen (CPI) naik pesat empat bulan terakhir, menjadikannya salah satu indikator utama inflasi. Data tersebut memperkuat perkiraan The Fed menaikkan kisaran target suku bunga federal funds, yang saat ini berada di level 3,5% hingga 3,75%, pada akhir rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Rabu, 16 September 2026.

Sementara itu, tekanan harga AS masih tinggi karena naiknya tarif impor yang diberlakukan Trump serta lonjakan harga energi akibat perang Iran. Sejumlah pejabat The Fed khawatir jika inflasi bertahan semakin lama di level tinggi, akan semakin besar biaya untuk menurunkannya kembali.

Para gubernur The Fed menggelar pertemuan ini beberapa pekan sebelum pemilu paruh waktu AS (midterm elections), yang akan menentukan apakah Partai Republik dapat mempertahankan mayoritas tipis mereka di kedua kamar Kongres AS. Menurut Reuters/Ipsos, kenaikan suku bunga dapat memperkuat kekhawatiran pemilih terkait tingginya biaya hidup.

 

 

Trump Tuntut The Fed Turunkan Suku Bunga

Tingkat kepuasan publik terhadap Trump juga menurun seiring bertahannya inflasi. Ia berulang kali berpendapat bahwa tingkat suku bunga The Fed justru menguntungkan negara lain, bukan AS.

"Saya tahu lebih banyak soal formula daripada siapa pun, dan dengan peringkat kredit terbaik di dunia, kita justru membuat negara-negara lain menjadi kaya," kata Trump, Minggu (13/9/2026).

Presiden yang kerap mengkritik mantan Ketua The Fed Jay Powell itu kini lebih mendukung bank sentral tersebut sejak orang pilihannya, Kevin Warsh, menjadi ketua awal tahun ini. Meski begitu, belakangan Trump makin gencar menyampaikan tuntutannya.

"TURUNKAN SUKU BUNGA ATAU SAYA AKAN BERHENTI BERDAGANG DENGAN NEGARA-NEGARA YANG MEMILIKI DEFISIT PERDAGANGAN DENGAN KITA," tulis Trump di media sosial dua pekan lalu.

Dalam pernyataan tambahan, Trump kembali mengulangi ancamannya sebelum kembali ke AS, "Kita tidak ingin mengalami defisit dengan negara lain. Kita ingin surplus, atau setidaknya perdagangan yang seimbang."

Di sisi lain, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett menyatakan kepada Fox News bahwa Trump akan membela independensi Kevin Warsh sepenuhnya, apa pun keputusan The Fed.

Namun, Hassett turut menegaskan adanya ketidakpuasan Trump jika suku bunga naik nanti.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6