7 Ciri Orang Tidak Pernah Minta Maaf Meski Jelas Bersalah, Bukan Sekadar Gengsi

Pernah menghadapi orang yang selalu merasa benar? Kenali 7 ciri orang tidak pernah minta maaf meski kesalahannya sudah jelas.

Diterbitkan 13 September 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meminta maaf mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang, mengucapkan kata tersebut justru terasa sangat sulit. Bahkan ketika kesalahan sudah terlihat jelas dan orang lain sudah menyampaikan rasa kecewanya, ada orang yang tetap memilih diam, menghindar, atau bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Sikap seperti ini tentu bisa membuat hubungan dengan pasangan, teman, keluarga, maupun rekan kerja menjadi semakin rumit.

Orang yang tidak pernah minta maaf juga tidak selalu semata-mata sedang mempertahankan gengsi. Cara seseorang menghadapi kesalahan dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari kebiasaan berkomunikasi, cara memandang konflik, kesulitan mengakui kelemahan, hingga pengalaman yang membentuk responsnya ketika melakukan kesalahan. Karena itu, satu perilaku saja tidak cukup untuk menyimpulkan karakter atau kondisi psikologis seseorang.

Meski begitu, ada sejumlah pola yang dapat terlihat ketika seseorang memang cenderung sulit mengakui kesalahan dan meminta maaf. Pola tersebut biasanya muncul berulang ketika menghadapi konflik atau ketika tindakannya dipertanyakan oleh orang lain. Lantas bagaimana saja ciri orang tidak pernah minta maaf meski jelas bersalah dan bukan sekadar gengsi? Melansir dari berbagai sumber, Minggu (13/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Selalu Mencari Alasan untuk Membenarkan Perbuatannya

Salah satu ciri yang cukup mudah terlihat adalah kebiasaan mencari alasan setiap kali tindakannya dipermasalahkan. Alih-alih mengakui bahwa dirinya melakukan kesalahan, orang tersebut justru menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu. Penjelasan sebenarnya tidak selalu buruk karena konteks memang penting, tetapi masalah muncul ketika alasan terus digunakan untuk menghindari tanggung jawab. Bahkan ketika bukti kesalahan sudah jelas, pembicaraan dapat berputar pada berbagai faktor lain agar dirinya tidak perlu mengatakan bahwa ia memang keliru.

Pola seperti ini membuat permintaan maaf menjadi semakin sulit karena orang tersebut merasa bahwa tindakannya masih dapat dibenarkan. Misalnya, ketika terlambat memenuhi janji, ia mungkin lebih sibuk menjelaskan kondisi jalan, pekerjaan, atau kesalahan orang lain daripada mengakui bahwa dirinya memang membuat orang lain menunggu. Dalam situasi seperti ini, fokus pembicaraan bergeser dari dampak perbuatannya menjadi alasan mengapa ia merasa tindakannya bisa dimaklumi.

Bukan berarti setiap orang yang memberikan penjelasan setelah melakukan kesalahan otomatis tidak mau bertanggung jawab. Perbedaannya terletak pada apakah penjelasan tersebut diikuti dengan pengakuan dan tanggung jawab. Seseorang masih bisa mengatakan bahwa ada faktor tertentu yang memengaruhi tindakannya sekaligus mengakui bahwa perbuatannya tetap berdampak buruk. Sebaliknya, jika alasan selalu digunakan untuk meniadakan kesalahan, pola tersebut dapat membuat permintaan maaf tidak pernah benar-benar terjadi.

2. Cenderung Membela Diri dan Menyalahkan Orang Lain

Orang yang sulit meminta maaf terkadang langsung masuk ke mode defensif ketika mendapatkan kritik. Daripada mendengarkan keluhan dan mencoba memahami dampak perbuatannya, ia justru merasa perlu mempertahankan dirinya. Responsnya bisa berupa membantah, mengungkit kesalahan orang lain, atau mengatakan bahwa dirinya diperlakukan secara tidak adil. Akibatnya, percakapan yang awalnya membahas satu kesalahan berubah menjadi pertengkaran mengenai siapa yang sebenarnya lebih bersalah.

Hal ini relevan dengan pembahasan dalam Psychology Today mengenai kesulitan meminta maaf. Salah satu penjelasan yang dibahas adalah bahwa mengakui kesalahan dapat terasa mengancam citra diri seseorang. Ketika seseorang ingin mempertahankan pandangan bahwa dirinya adalah orang yang baik atau benar, pengakuan bahwa dirinya telah menyakiti orang lain dapat terasa tidak nyaman. Karena itu, sebagian orang memilih mempertahankan argumen, meremehkan kesalahan, atau mengalihkan kesalahan kepada pihak lain daripada menghadapi rasa tidak nyaman tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, pola tersebut dapat terlihat dari kalimat seperti, “Kamu juga pernah melakukan hal yang sama,” atau, “Kalau kamu tidak melakukan itu, aku juga tidak akan begini.” Kalimat semacam ini tidak selalu membuktikan bahwa seseorang memiliki karakter buruk, tetapi dapat menjadi tanda bahwa ia sedang mengalihkan fokus dari tanggung jawabnya. Jika pola tersebut terus berulang dan tidak pernah disertai pengakuan atas kesalahan sendiri, hubungan dapat menjadi melelahkan karena setiap konflik selalu berubah menjadi ajang saling menyalahkan.

3. Menganggap Masalah yang Ditimbulkannya Tidak Seberapa

Ciri lainnya adalah kebiasaan mengecilkan dampak dari kesalahan yang telah dilakukan. Orang tersebut mungkin menganggap bahwa masalah sebenarnya tidak besar, sehingga menurutnya tidak ada alasan untuk meminta maaf. Ia dapat mengatakan bahwa orang lain terlalu sensitif, terlalu mempermasalahkan hal kecil, atau seharusnya bisa melupakan kejadian tersebut. Dengan begitu, ukuran masalah ditentukan dari sudut pandangnya sendiri, bukan dari dampak yang dirasakan orang yang terkena akibatnya.

Padahal, besar kecilnya dampak sebuah tindakan tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan niat orang yang melakukannya. Seseorang mungkin merasa bahwa ucapannya hanyalah candaan, sementara orang lain benar-benar merasa dipermalukan. Begitu pula sebuah janji yang dianggap sepele oleh satu pihak bisa sangat berarti bagi pihak lainnya. Ketika seseorang hanya berfokus pada niatnya sendiri dan mengabaikan akibat yang muncul, ia dapat kesulitan memahami mengapa orang lain mengharapkan permintaan maaf.

Kebiasaan meminimalkan masalah juga dapat membuat orang yang dirugikan merasa tidak didengarkan. Bukan hanya kesalahan awal yang menyakitkan, tetapi respons setelahnya juga dapat memperburuk keadaan. Karena itu, kemampuan melihat dampak dari tindakan sendiri menjadi bagian penting dalam menyelesaikan konflik. Seseorang tidak harus menganggap dirinya sebagai orang jahat hanya karena melakukan kesalahan, tetapi perlu mampu mengakui bahwa tindakannya mungkin memang membuat orang lain terluka atau dirugikan.

4. Menghindari Pembicaraan Ketika Kesalahannya Diungkit

Ada pula orang yang memilih menghindari pembicaraan ketika kesalahannya mulai dibahas. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mengganti topik, pergi dari percakapan, tidak membalas pesan, hingga bersikap seolah persoalan tersebut sudah selesai. Mengambil jeda ketika emosi sedang tinggi sebenarnya bisa menjadi cara yang sehat dalam konflik. Namun, jika seseorang selalu menghindar dan tidak pernah kembali untuk menyelesaikan masalah, pola tersebut justru dapat membuat konflik menggantung.

Penghindaran membuat kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan menjadi semakin kecil. Pihak yang merasa dirugikan mungkin sudah berusaha menjelaskan apa yang membuatnya terluka, tetapi tidak mendapatkan respons yang memadai. Akhirnya, masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan percakapan justru menumpuk menjadi kekecewaan. Dalam hubungan dekat, pola seperti ini juga dapat membuat seseorang merasa bahwa setiap konflik tidak pernah benar-benar mendapatkan penyelesaian.

Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konteksnya. Tidak semua orang yang meminta waktu untuk menenangkan diri berarti tidak bertanggung jawab. Ada kalanya seseorang memang membutuhkan waktu agar tidak mengatakan sesuatu secara impulsif. Perbedaannya adalah apakah setelah kondisi lebih tenang ia bersedia kembali membicarakan masalah tersebut. Jika setiap kesempatan untuk membahas kesalahan selalu dihindari tanpa ada upaya penyelesaian, hal itu dapat menjadi pola komunikasi yang kurang sehat.

5. Sulit Mengakui Kesalahan karena Merasa Pengakuan Itu Mengancam Dirinya

Kesulitan meminta maaf juga dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Dr. Karina Schumann, PhD, Associate Professor of Psychology di University of Pittsburgh yang meneliti konflik, permintaan maaf, dan forgiveness, menjelaskan bahwa salah satu hambatan penting dalam meminta maaf adalah ketika seseorang merasa kesalahannya mengancam citra dirinya. Dalam penelitian yang diterbitkannya, ia mengidentifikasi beberapa hambatan dalam memberikan permintaan maaf yang berkualitas, termasuk rendahnya kepedulian terhadap korban atau hubungan, ancaman terhadap citra diri, serta keyakinan bahwa permintaan maaf tidak akan efektif.

Ketika pengakuan salah terasa seperti bukti bahwa dirinya adalah orang buruk, seseorang bisa berusaha keras mempertahankan citra positif tersebut. Akibatnya, ia mungkin lebih mudah mengatakan, “Aku sebenarnya tidak bermaksud begitu,” daripada mengatakan, “Aku salah dan aku minta maaf.” Padahal, mengakui satu kesalahan tidak otomatis berarti seseorang adalah pribadi yang buruk secara keseluruhan. Kesalahan merupakan bagian dari interaksi manusia, sementara kemampuan bertanggung jawab justru dapat membantu memperbaiki hubungan.

Penelitian Schumann dan koleganya juga menunjukkan bahwa empati berkaitan dengan kualitas permintaan maaf. Dalam studi yang diterbitkan di European Journal of Social Psychology, individu yang melaporkan tingkat empati lebih tinggi terhadap pasangan atau teman cenderung memberikan permintaan maaf yang lebih komprehensif dan tidak terlalu defensif. Artinya, kemampuan memahami bagaimana tindakan sendiri memengaruhi orang lain dapat menjadi bagian penting dalam proses meminta maaf, meskipun tentu tidak cukup untuk menjelaskan perilaku setiap individu secara tunggal.

6. Menganggap Minta Maaf Berarti Kalah

Sebagian orang memandang permintaan maaf sebagai tanda kelemahan atau kekalahan dalam sebuah konflik. Pola pikir seperti ini membuat mereka merasa bahwa mengatakan “aku salah” berarti memberikan kemenangan kepada pihak lain. Akibatnya, mereka lebih memilih mempertahankan argumen daripada mencari penyelesaian. Bahkan ketika mereka menyadari bahwa ada bagian dari tindakannya yang keliru, pengakuan tersebut tetap terasa sulit karena konflik dipandang seperti pertandingan yang harus dimenangkan.

Padahal, meminta maaf tidak selalu berarti seseorang menerima seluruh kesalahan dalam sebuah konflik. Seseorang dapat bertanggung jawab atas bagian yang memang menjadi kesalahannya tanpa harus mengakui hal-hal yang tidak dilakukannya. Misalnya, seseorang bisa mengatakan bahwa ia menyesal telah berbicara dengan nada kasar, meskipun ia tetap merasa bahwa pokok persoalan yang dibicarakan memang penting. Pengakuan yang spesifik seperti ini justru lebih sehat daripada menolak seluruh tanggung jawab hanya karena takut terlihat kalah.

Pandangan bahwa permintaan maaf merupakan kekalahan juga dapat membuat konflik berlangsung lebih lama. Ketika kedua pihak sama-sama berusaha mempertahankan posisi, perhatian bergeser dari penyelesaian masalah menjadi pembuktian siapa yang paling benar. Dalam hubungan jangka panjang, pola seperti ini dapat menguras energi karena masalah kecil pun berpotensi berkembang menjadi pertengkaran besar. Kemampuan membedakan antara bertanggung jawab dan “mengalah total” dapat membantu seseorang melihat bahwa meminta maaf tidak harus menghilangkan harga dirinya.

7. Hanya Mengucapkan Maaf jika Sudah Terdesak, Itu Pun Tanpa Mengakui Kesalahan

Ciri terakhir adalah seseorang sebenarnya bisa mengucapkan kata “maaf”, tetapi hanya ketika situasi sudah sangat mendesak. Permintaan maaf tersebut terkadang muncul bukan karena ia benar-benar menyadari dampak perbuatannya, melainkan karena ingin menghentikan pertengkaran, menghindari konsekuensi, atau membuat orang lain segera berhenti marah. Akibatnya, kata maaf terdengar seperti formalitas dan tidak diikuti perubahan perilaku yang jelas.

Permintaan maaf yang berkualitas seharusnya tidak berhenti pada kata “maaf”. Dr. Karina Schumann, PhD, menjelaskan bahwa permintaan maaf yang efektif perlu menunjukkan tanggung jawab dan pengakuan terhadap dampak tindakan. Dalam penjelasannya kepada American Psychological Association, ia juga menekankan pentingnya mengakui bagaimana tindakan seseorang telah memengaruhi pihak yang dirugikan. Karena itu, kalimat seperti “maaf kalau kamu tersinggung” berbeda dengan pengakuan yang secara jelas menyebut tindakan apa yang salah dan dampaknya terhadap orang lain.

Meski demikian, seseorang yang pernah meminta maaf dengan buruk tidak otomatis berarti ia tidak mampu berubah. Yang lebih penting adalah melihat pola dari waktu ke waktu. Apakah setelah meminta maaf ia mencoba memperbaiki perilaku? Apakah kesalahan yang sama terus berulang? Apakah ia mampu mendengarkan ketika orang lain menjelaskan dampaknya? Jika permintaan maaf diikuti tindakan nyata dan perubahan, itu menunjukkan adanya upaya mengambil tanggung jawab. Sebaliknya, jika kata maaf terus digunakan tanpa perubahan apa pun, masalah sebenarnya mungkin bukan pada kemampuan mengucapkan “maaf”, melainkan pada kesediaan untuk bertanggung jawab.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang Tidak Pernah Minta Maaf Meski Jelas Bersalah

1. Mengapa ada orang yang tidak pernah minta maaf meski jelas bersalah?

Ada berbagai kemungkinan, seperti sulit mengakui kesalahan, merasa permintaan maaf membuat dirinya terlihat lemah, terbiasa defensif, atau tidak menyadari seberapa besar dampak tindakannya terhadap orang lain. Karena penyebabnya bisa berbeda pada setiap orang, satu perilaku saja tidak cukup untuk menentukan karakter seseorang.

2. Apakah orang yang tidak mau minta maaf selalu memiliki ego tinggi?

Tidak selalu. Ego atau gengsi memang bisa menjadi salah satu faktor, tetapi keengganan meminta maaf juga dapat berkaitan dengan cara seseorang menghadapi konflik, menjaga citra diri, pengalaman masa lalu, atau kesulitan mengekspresikan emosi.

3. Apa ciri orang yang sulit mengakui kesalahan?

Beberapa pola yang dapat terlihat antara lain selalu mencari alasan, membela diri ketika dikritik, menyalahkan orang lain, mengecilkan masalah, menghindari pembicaraan, dan merasa bahwa mengakui kesalahan berarti kalah.

4. Apakah orang yang sulit meminta maaf berarti tidak peduli dengan perasaan orang lain?

Belum tentu. Kesulitan meminta maaf tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki kepedulian atau empati. Namun, jika perilaku tersebut terus berulang dan tidak disertai usaha memahami dampak tindakannya, hubungan dengan orang lain memang dapat menjadi lebih sulit.

5. Apa bedanya orang yang butuh waktu dengan orang yang sengaja menghindari permintaan maaf?

Orang yang membutuhkan waktu biasanya masih memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalah setelah emosinya lebih tenang. Sementara itu, orang yang sengaja menghindari tanggung jawab cenderung terus mengalihkan pembicaraan, menghilang, atau bertindak seolah konflik tidak pernah terjadi.