Iran Ungkap Arab Saudi Minta Pertemuan di Oman Dibatalkan

Pembatalan ini terjadi di tengah upaya diplomasi regional untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Diterbitkan 14 September 2026, 19:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Iran pada Senin (14/9/2026) mengatakan rencana pertemuan di Oman yang akan dihadiri para menteri luar negeri negara-negara Teluk dan Iran dibatalkan atas permintaan Arab Saudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei mengatakan Riyadh meminta agar pertemuan tersebut untuk sementara tidak digelar.

"Laporan bahwa Arab Saudi meminta agar pertemuan itu tidak digelar untuk saat ini memang benar," kata Baqaei dalam konferensi pers, seperti dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Ia membantah upaya mengaitkan Iran dengan perkembangan terbaru yang melibatkan Arab Saudi dan Yaman. Menurut Baqaei, persoalan di Yaman memiliki akar yang sudah berlangsung lama.

Baqaei dengan tegas membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa Iran terlibat dalam serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi yang dilancarkan dari wilayah Irak. Ia menuding Washington berusaha memperdalam perpecahan di antara negara-negara di kawasan.

Arab Saudi belum memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut.

Menurut Baqaei, pertemuan yang direncanakan di Oman itu sedianya menjadi kesempatan bagi Iran dan Oman untuk memaparkan kesepahaman yang dicapai setelah berminggu-minggu berunding mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz dan peran kedua negara sebagai negara yang berbatasan langsung dengan selat tersebut.

Teheran, kata dia, berharap negara-negara di kawasan dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk membahas upaya menciptakan kawasan yang aman tanpa campur tangan pihak luar.

Meski pertemuan tersebut batal digelar, Baqaei mengatakan kesepahaman antara Iran dan Oman telah dirampungkan.

"Kami akan memutuskan, melalui konsultasi dengan Oman, langkah selanjutnya serta bagaimana kesepahaman ini akan diumumkan atau didaftarkan," ujarnya.

Ia mengatakan keamanan Selat Hormuz merupakan kepentingan Iran dan Oman sebagai dua negara yang berbatasan langsung dengan jalur perairan tersebut. Baqaei menuding tindakan AS dan Israel sebagai penyebab kondisi tidak aman yang saat ini terjadi di Selat Hormuz.

Ia menuduh AS merusak keamanan maritim setelah menyerang sebuah kapal Iran di dekat Pulau Hengam. Menurutnya, satu warga Iran tewas, sementara beberapa orang lainnya terluka, termasuk dua warga Pakistan.

Iran dan Oman telah menggelar perundingan mengenai pengaturan sementara untuk mengelola pelayaran melalui Selat Hormuz sejak memorandum kesepahaman yang disepakati Washington dan Teheran pada Juni, yang ditujukan untuk mengakhiri perang yang pecah pada Februari, gagal bertahan.

AS dan Iran sebelumnya sepakat memperpanjang gencatan senjata yang dicapai pada April. Keduanya juga sepakat secara bertahap mengembalikan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang sambil melanjutkan perundingan untuk mencapai penyelesaian akhir.

Pada Minggu (13/9), Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengumumkan bahwa demi tercapainya konsensus, pertemuan regional yang dijadwalkan berlangsung besok di Salalah telah ditunda.

"Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami," ungkap Albusaidi.

Terkait ketegangan dengan AS, Baqaei mengatakan Washington harus menghentikan tindakan yang disebutnya ilegal dan intervensionis, termasuk blokade maritim dan tekanan ekonomi. Ia memperingatkan Iran akan terus merespons jika langkah-langkah tersebut berlanjut.

Baqaei menepis laporan mengenai kemungkinan adanya aktivitas nuklir di Kuh-e Kolang (Pickaxe Mountain) sebagai “kehebohan media”. Ia mengatakan Iran telah memenuhi kewajibannya terkait pengawasan nuklir atau safeguards kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Ketika ditanya soal laporan bahwa Iran menyita sebuah kapal selam AS, Baqaei menjawab, "Kapal itu tidak disita; kapal itu diambil sebagai rampasan perang dan rampasan perang itu sah."

Dalam isu diplomasi regional, Baqaei menyambut upaya China untuk mendukung stabilitas kawasan. Namun, ia menegaskan persoalan Iran dengan AS bukan terletak pada kurangnya mediator, melainkan apa yang disebutnya sebagai tidak adanya kemauan politik yang sungguh-sungguh dari Washington untuk menempuh jalur diplomasi.

Baqaei juga mengatakan hubungan Iran dan Turki tidak sebatas pertukaran pesan antara Iran dan pihak-pihak lain. Menurutnya, Iran dan Turki memiliki kekhawatiran yang sama terhadap tindakan Israel di berbagai wilayah di kawasan.