Ekonom Ungkap Tantangan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan

Sejumlah ekonom menilai Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara, akan menghadapi tantangan yang cukup berat di awal masa jabatannya.

Diterbitkan 14 September 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah ekonom menilai Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara, akan menghadapi tantangan mulai dari perubahan peran hingga tekanan ekonomi global.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai tantangan terbesar Suahasil justru datang dari perubahan posisinya. Hal ini dari yang sebelumnya membantu pengambilan keputusan sebagai Wakil Menteri Keuangan, kini menjadi pengambil keputusan utama di Kementerian Keuangan.

"Ia harus mampu menjaga jarak yang sehat antara kebutuhan politik jangka pendek dengan kesehatan fiskal jangka menengah," ujar Josua melalui pesan singkat Senin (14/9/2026).

Dia menuturkan, kredibilitas Menkeu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga keberanian untuk menolak program yang terlalu mahal, kurang produktif, atau menimbulkan risiko fiskal yang tidak sebanding.

Di sisi lain, Josua memperkirakan arah besar kebijakan fiskal tidak akan berubah drastis di bawah kepemimpinan Suahasil, mengingat kebijakan fiskal 2027 telah ditetapkan secara ekspansif tetapi terarah dan terukur. Hal ini dengan target defisit turun menjadi 2,40% Produk Domestik Bruto  (PDB) dari outlook 2026 yang sekitar 2,85%.

Josua menilai, hal yang mungkin berbeda adalah penekanan gaya kebijakan. Ia menerangkan, Purbaya sebelumnya lebih kuat membawa pesan percepatan pertumbuhan dan penggunaan instrumen fiskal sebagai pendorong ekonomi, sementara Suahasil diperkirakan lebih menekankan kualitas belanja, kesinambungan pembiayaan, serta konsistensi antara target pertumbuhan dan kemampuan penerimaan negara.

"Menurut saya kombinasi keduanya justru yang dibutuhkan: tetap mendorong ekonomi, tetapi setiap tambahan belanja harus mempunyai ukuran hasil dan sumber pembiayaan yang jelas," ujar Josua.

Hadapi Tantangan Fiskal Menuju 2027

Ia menganggap tantangan fiskal menuju 2027 bukan hanya menjaga defisit di bawah 3%, melainkan membiayai agenda pemerintah yang semakin besar di tengah ruang fiskal yang tidak bertambah cepat.

Nota Keuangan mencatat rasio utang pemerintah naik moderat menjadi sekitar 40,5% PDB pada 2025, sehingga menjaga profil jatuh tempo, suku bunga, dan risiko pasar dinilai penting agar kesinambungan fiskal tetap terjaga.

Sementara itu, target perpajakan 2027 yang cukup ambisius sangat bergantung pada perluasan basis pajak, pemanfaatan data, peningkatan kepatuhan, dan penyempurnaan administrasi perpajakan, termasuk menjangkau ekonomi digital dan sektor informal yang selama ini belum sepenuhnya terjamah.

"Suahasil harus menghindari jalan pintas berupa kenaikan tarif secara luas karena dapat menekan konsumsi dan investasi. Strategi yang lebih sehat adalah memperbesar basis penerimaan, menutup kebocoran, mengevaluasi insentif yang tidak efektif, dan meningkatkan kualitas pelayanan serta penegakan hukum," kata Josua.

Senada, Ekonom Bank BCA David Sumual menilai tantangan Suahasil Nazara ke depan cukup besar, terutama dari faktor eksternal.

"Jelas tantangan ke depan lumayan besar terkait masih tingginya harga minyak, inflasi akibat El Nino berkepanjangan, dan tren suku bunga global yang meningkat," ujar David melalui pesan singkat Senin (14/9/2026).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6