Iran dan Rusia Kritik Sanksi Ekonomi, Bidik Penguatan Perdagangan BRICS

Presiden Rusia Vladimir Putin menuturkan, BRICS menyediakan platform yang tangguh dan layak bagi pertumbuhan global.

Diterbitkan 12 September 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Iran Masoud Pezeshikian dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat, 11 September 2026 mengkritik sanksi barat terhadap ekonomi negaranya. Dua pemimpin ini juga mendesak negara-negara global Selatan untuk mempererat hubungan perdagangan.

"BRICS harus menciptakan lingkungan di mana tidak ada negara yang dapat menganggu perdagangan sah negara lain melalui monopoli instrument keuangan atau teknologi,” ujar Pezeshkian di New Delhi, dikutip dari CNBC, Sabtu, (12/9/2026).

Ia juga mendesak blok tersebut yang berupaya memperkuat pengaruh global selatan untuk memperluas pemakaian mata uang nasional dalam perdagangan antarnegara anggota.

Ia menambahkan, tekanan terhadap Iran telah memasuki tahap berbahaya, beralih dari sanksi menjadi agresi militer oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia mengatakan, dampak perang melawan Teheran terasa hingga ke luar perbatasannya, serta memengaruhi stabilitas kawasan dan global.

Konflik-konflik tersebut juga telah mengganggu pasar energi global dan mendorong lonjakan tajam harga bahan bakar.

Harga solar di AS mencapai US$ 6 per galon pada Jumat untuk pertama kalinya, seiring gangguan pasokan bahan bakar akibat perang Ukraina dan Iran yang meningkatkan biaya transportasi di seluruh sektor ekonomi.

Sejak dimulainya perang Iran, harga energi global melonjak karena konflik tersebut sangat mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur air penting bagi pengangkutan minyak mentah dan gas dari Timur Tengah.

Pada Kamis, harga minyak mentah berjangka AS melampaui US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sebagai respons terhadap eskalasi tajam pertempuran antara AS dan Iran bulan ini.

"Ketahanan pangan dan energi adalah dua pilar fundamental ketahanan ekonomi," kata pemimpin Iran tersebut pada Jumat pekan ini.

Ia menambahkan, negaranya, dengan cadangan energi yang melimpah, siap menjadi mitra strategis.

Rusia, produsen energi besar lainnya, juga menghadapi sanksi Barat yang luas akibat perangnya melawan Ukraina. Moskow kembali melancarkan serangan udara ke kota-kota besar Ukraina setelah jeda singkat terkait kunjungan negosiator perdamaian AS pada akhir pekan.

 

 

 

Klaim Putin

Namun, meskipun Presiden AS Donald Trump pada Rabu menyatakan keyakinannya, penyelesaian cepat perang Ukraina dapat membuka jalan bagi pemulihan penuh hubungan perdagangan dan ekonomi antarnegara, Putin mengecam keras Barat atas taktik penekanannya terhadap Moskow.

"Lebih dari 30.000 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia; jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan total sanksi yang dikenakan terhadap semua negara lain di dunia jika digabungkan," ujar Putin dalam Forum Bisnis BRICS.

Presiden Rusia tersebut menyatakan, negara-negara yang "menghadapi kemunduran industri dan defisit anggaran" berupaya melindungi "keunggulan kompetitif" mereka dengan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan Iran.

Putin juga mengklaim, selama lima tahun terakhir, lebih dari 40% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia disumbangkan oleh negara-negara BRICS, sementara negara-negara G7 hanya menyumbang 29%.

"BRICS menyediakan "platform yang tangguh dan layak bagi pertumbuhan global," kata Putin.

Ia menambahkan, Moskow berkeinginan untuk menjalankan "inisiatif menjanjikan" di bidang pariwisata, perdagangan, dan investasi sektor swasta yang melibatkan negara-negara Global South.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6