IEA Prediksi Pasokan Minyak Dunia Merosot 5,7 Juta Barel

IEA menyebutkan, cadangan minyak memerankan peran penting menyeimbangkan pasar di tengah kondisi konflik AS-Iran.

Diterbitkan 11 September 2026, 19:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyebutkan, pasokan dan permintaan minyak global 2026 akan turun lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemajuan dalam mengakhiri perang Iran yang menunda pemulihan arus pasokan normal dari Timur Tengah hingga 2027. Selain itu memicu lonjakan harga bahan bakar.

Mengutip Channel News Asia, Jumat (11/9/2026), meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak di jalur pelayaran Timur Tengah turut mendorong harga minyak mentah mendekati US$ 110 per barel pekan ini, level tertinggi sejak Mei. Namun, kenaikan ini dibayangi oleh lonjakan harga bahan bakar seperti solar yang telah mencapai rekor tertinggi.

Pasokan minyak dunia pada 2026 kini diperkirakan turun sebesar 5,7 juta barel per hari (bph), atau sekitar 6%. Angka ini lebih besar dibandingkan perkiraan penurunan sebesar 4% sebelumnya. Akibat terbatasnya pasokan, dunia menguras cadangan minyak dengan laju yang memecahkan rekor. Stok global berkurang sebesar 3,1 juta bph pada Agustus, menurut data IEA.

"Selama ini, cadangan minyak memainkan peran krusial dalam menyeimbangkan pasar," ungkap IEA, lembaga penasihat bagi negara-negara industri dalam laporan bulanannya.

"Dengan semakin menipisnya cadangan penyangga dan sistem kilang global yang beroperasi hingga batas maksimal, kebutuhan akan kemajuan dalam penyelesaian konflik di Timur Tengah, serta perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima menjadi lebih mendesak dari sebelumnya guna mencegah pengetatan pasar lebih lanjut,” demikian seperti dikutip dari Channel News Asia.

Permintaan juga turun melebihi perkiraan, sebagian disebabkan oleh rekor tingginya harga bahan bakar. Permintaan minyak dunia akan turun sebesar 2,5 juta bph tahun ini, menurut IEA. Angka ini melampaui perkiraan sebelumnya yang memprediksi penurunan sebesar 1,6 juta bph.

IEA Prediksi Permintaan Minyak Bakal Turun 1,6 Juta Barel per Hari

Sebelumnya, Badan Energi Internasional atau the International Energy Agency (IEA) mengatakan, permintaan minyak dunia akan turun lebih dalam dari perkiraan sebelumnya pada 2026. Hal ini seiring semakin parahnya dampak penutupan Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Rabu (12/8/2026), IEA memprediksi permintaan minyak akan turun 1,6 juta barel per hari pada 2026. Angka ini 510.000 barel per hari lebih tinggi dibandingkan perkiraan bulanan terakhir pada Juli.

IEA menyebutkan, harga bahan bakar tinggi yang akan terus membebani tingkat konsumsi meskipun permintaan akan meningkat sepanjang tahun dan kembali tumbuh pada kuartal terakhir.

Situasi di Selat Hormuz masih diliputi ketidakpastian. Kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali jalur air vital tersebut belum juga tercapai karena kedua belah pihak terus melontarkan tuntutan secara terbuka.

"Munculnya kembali konflik dan gangguan pelayaran menghambat upaya peningkatan pasokan minyak global," ujar IEA pada Rabu pekan ini.

Adapun pasokan pada Juli tercatat 6,3 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini memicu volatilitas harga minyak mentah. Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, sempat melampaui angka US$100 per barel bulan lalu, namun juga sempat turun hingga mendekati US$ 70 per barel. Terakhir, harganya diperdagangkan sedikit di bawah US$ 90 per barel.

Kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan minyak yang dapat mengguncang stabilitas global akibat penutupan selat tersebut pada Maret ternyata tidak terbukti. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan tajam impor Tiongkok, penggunaan rute pelayaran alternatif, dan pengurangan cadangan minyak.

 

Cadangan Minyak Mentah AS Turun

Data minggu ini menunjukkan cadangan minyak mentah AS telah turun di bawah 300 juta barel, tingkat terendah dalam lebih dari empat dekade.

Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah relatif terkendali karena para pedagang terus bereaksi terhadap setiap sinyal yang mengindikasikan kemungkinan tercapainya kesepakatan, sebuah situasi yang menurut para analis tidak akan bertahan selamanya.

Konsumen turut merasakan dampaknya, mengingat kapasitas kilang, yang menentukan harga produk seperti bensin dan solar, mengalami kendala yang sangat berat.

Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi 3% dari sebelumnya 3,3% sejak pecahnya perang Iran pada Februari.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya menyatakan tahun ini segala arah kini menuju pada harga lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6