Dari Suriah, Netanyahu Blak-blakan Ingin Jatuhkan Rezim Iran

Netanyahu percaya diri bahwa rezim Iran dan porosnya akan runtuh.

Diterbitkan 11 September 2026, 16:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Republik Islam Iran berada di ambang kehancuran saat mengunjungi pasukan Israel di Suriah selatan pada 9 September. 

"Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tugas utama adalah menjatuhkan rezim teror di Iran. Kita sudah sangat dekat dengan tujuan itu. Kita tahu bahwa seluruh poros ini pada akhirnya akan runtuh," kata Netanyahu seperti dilaporkan The Straits Times saat mengunjungi kawasan Gunung Hermon di sisi Suriah, dekat perbatasan dengan Israel, bersama Menteri Pertahanan Israel Katz.

Pasukan Israel telah ditempatkan di sebuah "zona keamanan" di Suriah selatan sejak pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.

Mereka menduduki wilayah yang sebelumnya merupakan zona penyangga di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Zona itu sejak 1974 memisahkan pasukan Israel dan Suriah di wilayah Golan yang dikuasai Israel.

"Kami tidak akan membiarkan pasukan teroris mana pun membangun kekuatan di perbatasan kami," ujar Netanyahu dalam kesempatan yang sama.

Katz sebelumnya mengunjungi pasukan Israel yang ditempatkan di Suriah selatan dua pekan lalu. Kunjungan itu dikecam Suriah, yang menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah negara.

Israel telah melancarkan ratusan serangan di Suriah sejak jatuhnya Assad dan berulang kali memasuki wilayah Suriah.

Para pejabat Israel juga berkali-kali menegaskan bahwa pasukan mereka akan tetap berada di zona keamanan tersebut. Israel bahkan menginginkan wilayah demiliterisasi yang lebih luas di kawasan itu.

Ancaman Netanyahu terhadap Iran disampaikan ketika Iran dan Amerika Serikat (AS) masih terlibat kebuntuan terkait Selat Hormuz. Kedua pihak saling melancarkan serangan dalam sepekan terakhir, enam bulan setelah AS dan Israel memulai perang Iran pada akhir Februari.