Harga Tembaga Tembus Level Tertinggi Sepanjang Masa

Memiliki daya hantar listrik yang tinggi, tembaga digunakan secara luas dalam industri elektronik, perumahan, dan otomotif. Harga tembaga sedang melambung.

Diterbitkan 11 September 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga tembaga menembus level tertinggi sepanjang masa. Pemicunya, pengetatan pasokan tembaga global, tingginya permintaan akibat booming kecerdasan buatan (AI), serta ketidakpastian tarif perdagangan memicu lonjakan minat terhadap logam merah tersebut. 

Melansir laman CNN, Jumat (11/9/2026), kontrak berjangka tembaga yang diperdagangkan di New York ditutup pada level US$ 6,89 per pon pada Rabu waktu setempat, menjadi harga tertinggi yang pernah tercatat. Di London, kontrak berjangka tembaga yang diukur berdasarkan metrik ton juga mencatat rekor tertinggi.

Dikenal memiliki daya hantar listrik yang tinggi, tembaga digunakan secara luas dalam industri elektronik, perumahan, dan otomotif.

Logam merah ini merupakan komponen penting dalam sektor industri dan konstruksi. Kenaikan harga hingga mencapai rekor berpotensi mendorong peningkatan biaya yang kemudian merembet ke berbagai sektor usaha.

Meski kemudian harga tembaga turun 5% pada Kamis waktu setempat, terkoreksi dari rekor tertingginya. Namun, para analis menilai sejumlah faktor fundamental masih mendukung potensi kenaikan harga tembaga lebih lanjut.

Sepanjang tahun ini, harga tembaga telah melonjak lebih dari 15%, mengungguli emas, perak, bitcoin, maupun indeks S&P 500. Dalam 12 bulan terakhir, bahkan harga tembaga bahkan telah meningkat sekitar 40%.

Permintaan terhadap tembaga sangat kuat, mulai dari kebutuhan manufaktur kendaraan listrik (EV) hingga pembangunan infrastruktur untuk memasok energi ke pusat data AI.

Harga tembaga sebenarnya telah mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir seiring melonjaknya popularitas kendaraan listrik di Asia dan Eropa.

Kini, booming AI semakin memperkuat permintaan terhadap tembaga, sehingga memperlebar ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

 

Produksi Justru Turun

 

Pada saat yang sama, terdapat kekhawatiran terhadap produksi tembaga yang masih lesu. Berdasarkan data awal dari International Copper Study Group (ICSG), produksi tambang tembaga global turun 1,1% pada paruh pertama 2026.

Cuaca buruk dan penurunan kualitas tambang turut menjadi faktor yang menghambat produksi. Chile, yang merupakan produsen tembaga terbesar di dunia, mencatat penurunan produksi sebesar 6,6% pada paruh pertama tahun ini, menurut ICSG.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti terjadi kelangkaan tembaga olahan. Pasokan tembaga olahan global justru masih mengalami surplus.

Namun, penurunan produksi dari tambang mulai memicu kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan, terutama ketika permintaan tetap kuat.

Faktor Tarif

Presiden Donald Trump pada tahun lalu menerapkan tarif sebesar 50% terhadap produk tembaga setengah jadi. Namun, para pelaku pasar kini mencermati kemungkinan penerapan tarif 15% terhadap produk tembaga olahan, yang dinilai akan memberikan dampak lebih langsung terhadap pasar.

Kekhawatiran mengenai potensi tarif tersebut turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga tembaga, di tengah ketidakpastian perdagangan global.

“Pelaku pasar menimbun logam karena mereka tidak yakin apakah Trump akan menerapkan tarif terhadap tembaga atau tidak,” kata Edward Meir, Analis Komoditas di Marex.

“Jika tarif tembaga diberlakukan, mereka ingin memastikan memiliki persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karena itu, terjadi aksi pembelian besar-besaran," jelas dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6