Kunci Proyek Sampah Jadi Listrik: MCP Hadirkan Sistem Operasional Terintegrasi

Menghadapi 189.000 ton sampah harian, PT Multicrane Perkasa (MCP) mengambil peran vital sebagai Integrated Waste Movement Partner.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memperkuat pengembangan Waste-to-Energy (WtE) atau sampah jadi listrik sebagai bagian dari strategi nasional. Khususnya, dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat bauran energi.

Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa (MCP), Adrianus Hadiwinata mengatakan, pihaknya bergerak sebagai Integrated Waste Movement Partner untuk proyek Waste-to-Energy di Indonesia. Pihaknya akan berperan dalam rantai penanganan limbah, mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi.

“Kami melihat bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan,” katanya dalam keterangan, Kamis (5/2/2026).

Dengan timbunan sampah nasional yang kini melampaui 189.000 ton per hari, kata dia, proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular serta ketahanan energi.

Menurutnya, keberhasilan proyek juga bergantung pada sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut. Tanpa sistem alat berat yang tepat, proyek WtE berisiko mengalami feeding yang tidak stabil, downtime tinggi, serta lonjakan biaya operasional yang berdampak langsung pada kelayakan ekonomi proyek.

 

WtE Sukabumi

Salah satu pengembangan yang saat ini berjalan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang sudah berjalan sejak Juli 2025. Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga memperlihatkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan.

Dalam konteks feeding limbah, MCP menghadirkan solusi berbasis crane, Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Saat ini, dua unit Hiab telah ditempatkan untuk mendukung operasional proyek di Sukabumi, sebagai bagian dari penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel.

Sementara itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty.

“Melalui penempatan dua unit Hiab di Sukabumi serta dukungan material handler Liebherr LH 40, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6