BNPB Sebut Listrik Sudah Pulih 100 Persen di NTT

Khusus untuk wilayah Pulau Palue, proses pemulihan layanan listrik terus dilakukan secara bertahap.

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 23:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jaringan listrik dan sinyal komunikasi di wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah pulih 100 persen.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, kondisi pemulihan infrastruktur kelistrikan tersebut disampaikan PT PLN (Persero).

"Untuk layanan sosial listrik, ini informasi dari PLN, secara umum untuk Pulau Flores ini sudah pulih 100 persen," ujar Suharyanto dalam konferensi pers yang digelar secara daring di Jakarta, Senin (24/8/2026).

Dia menjabarkan, khusus untuk wilayah Pulau Palue, proses pemulihan layanan listrik terus dilakukan secara bertahap dan kini telah menyentuh angka 84,59 persen.

"Selain sektor energi, akses komunikasi melalui Base Transceiver Station (BTS) serta distribusi bahan bakar di 56 SPBU juga dipastikan telah beroperasi penuh untuk melayani kebutuhan masyarakat," papar Suharyanto.

Tak hanya soal energi dan komunikasi, Suharyanto juga memastikan, akses transportasi darat yang sebelumnya terhambat longsor kini telah terbuka kembali.

"Hal ini menjadi prioritas utama guna memastikan distribusi bantuan ke lokasi terdampak berjalan tanpa kendala," ucap dia.

"Kami laporkan bahwa sekarang tidak ada lagi jalan yang tidak bisa dilalui karena longsor atau gara-gara jembatannya rusak. Tidak pulih seperti sebelum terjadi bencana, tetapi secara fungsional ini semuanya sudah bisa dilalui," pungkas Suharyanto.

Perkuat Layanan Medis

Sebelumnya, BNPB terus bergerak cepat dalam menangani ribuan korban luka akibat gempa yang mengguncang Flores, NTT.

Salah satu strategi medis darurat yang dikerahkan adalah dengan mendirikan tenda perawatan di 122 Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) di wilayah tersebut.

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan, langkah ini diambil untuk memastikan seluruh masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dapat segera tertangani.

"Semua Puskesmas yang ada di Flores, ini ada 122 puskesmas, ini pun kita dukung dengan tenda-tenda perawatan sementara di mana masyarakat atau pasien yang memerlukan penanganan kesehatan, ini bisa juga dirawat di tenda-tenda yang dibangun di depan puskesmas," ujar Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin (24/8/2026).

Dia mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan dari Kementerian Kesehatan, gempa tersebut dilaporkan berdampak pada 19 puskesmas.

Meski demikian, Suharyanto menyebutkan, sebanyak 101 unit puskesmas masih beroperasi penuh, sementara 49 unit lainnya tetap melayani warga meski dalam kondisi terbatas.

Dia mengatakan, guna memperkuat layanan kesehatan yang sudah ada, pemerintah juga melibatkan armada bantuan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut melalui rumah sakit terapung.

"Kemudian untuk bantuan fasilitas kesehatan, dari TNI/Polri, ini juga membantu dari TNI Angkatan Laut (yang) mengirimkan dua kapal laut yang berfungsi sebagai fasilitas kesehatan," ucap Suharyanto.

"Yang pertama adalah KRI dr. Soeharso, ini merupakan rumah sakit Angkatan Laut yang terapung dari Surabaya, ini sudah melakukan kegiatan di Pelabuhan Reok. Kemudian satu lagi adalah Rumah Sakit Kapal Airlangga, ini juga sudah melakukan kegiatan di Manggarai Timur," sambung dia.

Dukungan dari Kemenkes

Menurut Suharyanto, selain dukungan dari unsur militer, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah mengoperasikan dua unit rumah sakit lapangan. Fasilitas ini dikhususkan bagi pasien dalam kondisi kritis yang berada di wilayah Ruteng (Manggarai) dan Kabupaten Nagekeo.

Di sisi lain, lanjut dia, BNPB juga memberikan perhatian serius terhadap situasi di Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Wilayah kepulauan ini sempat mengalami isolasi total pada hari-hari pertama pascagempa akibat terputusnya akses transportasi laut.

"Di awal bencana, satu hari pertama, hari kedua, hari ketiga, yang di Palue ini belum tersentuh, tetapi sekarang sudah diberikan bantuan. Saya, Kepala BNPB juga sudah menginjak di sana, sudah alat berat dikirimkan ke sana untuk membuka akses," tutur Suharyanto.

Saat ini, lanjut dia, proses evakuasi pasien kritis dari Pulau Palue menuju pulau utama telah berjalan dengan lancar, dibarengi dengan pasokan logistik dan obat-obatan yang mulai stabil.

"Kendati demikian, tim di lapangan kini tengah berfokus menangani persoalan krusial lainnya, yakni pemulihan sarana penampungan air bersih bagi warga setempat," kata dia.

"Ternyata masyarakat atau saudara-saudara kita di Pulau Palue itu mengandalkan air hujan untuk kehidupan sehari-hari. Kebetulan sarana untuk menampung air hujannya rusak, ini juga sedang dalam perbaikan," pungkas Suharyanto.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6