6.409 Gempa Susulan Guncang NTT, Warga Masih Takut Pulang

Angka itu merupakan data yang dihimpun berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 19:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 6.409 gempa susulan mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Senin (24/8/2026) pukul 05.00.

"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitude, kemudian yang terkecil 1,1 yang sama dengan atau lebih besar dari 5 Magnitude ada 33 kali," ujar Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin (24/8/2026).

Dari ribuan gempa susulan tersebut, 139 kali di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Suharyanto mengatakan, angka itu merupakan data yang dihimpun berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Tetapi dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat," ucap Suharyanto.

Suharyanto menjelaskan, frekuensi gempa susulan yang masih terjadi membuat sebagian masyarakat tetap diliputi rasa takut. Banyak warga memilih bertahan di luar rumah dan mengungsi, meski rumah mereka tidak mengalami kerusakan atau hanya rusak ringan.

"Dua hari terakhir menurut penjelasan BMKG, ini kondisinya sudah mulai menurun. Dalam 24 jam terakhir ada 1 kali gempa yang dirasakan masyarakat. Memang kondisi ini akan berlangsung terus sampai 3 atau 4 minggu ke depan, di mana menurut penjelasan BMKG kondisinya akan lebih stabil," papar Suharyanto.

Posko Bantuan

Suharyanto mengatakan, distribusi logistik dan komando pengendalian pada hari ini, Senin (24/8/2026) sudah semakin lancar karena terbentuknya posko-posko baik nasional maupun daerah.

"Untuk nasional terkait logistik, ada Posko Halim Perdanakusuma. Di sana semua logistik yang akan dikirimkan ke Labuan Bajo dan ke Maumere bisa dihimpun di Halim Perdanakusuma," kata dia.

Suharyanto menyebut, di Labuan Bajo terdapat personel BNPB. Bantuan yang datang bisa segera dikirimkan ke Posko Aju 1.

"Posko 1 Labuan Bajo ini untuk melayani dan memenuhi kebutuhan logistik di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, dan Kabupaten Ngada," terang dia.

Tak hanya itu, untuk memudahkan distribusi logistik ke masyarakat, dibentuk Posko Aju 2 di Maumere.

"Yaitu posko untuk mengendalikan kegiatan termasuk pendistribusian logistik ke tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Nagekeo. Tentu saja ini termasuk kebutuhan logistik bagi masyarakat di Pulau Palue yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sikka," papar Suharyanto.

Bantuan Sudah Didistribusikan

Suharyanto menjabarkan, data per hari ini, laporan logistik yang masuk ke Flores sudah mencapai 1.225 ton. Bantuan tersebut terbagi dua, di Labuan Bajo 869 ton dan untuk Maumere 356 ton.

"Sekarang yang nyata ada di Posko Labuan Bajo untuk logistik ada 1.624,23 ton yang hari ini terdistribusi totalnya ke Manggarai, Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Ngada. Kemudian yang ke Maumere melalui Posko Aju 2, masuknya 375,9 ton dan keluarnya 258,5 ton," kata dia.

Menurut Suharyanto, ada juga stok cadangan atau buffer stock. Stok tersebut sudah diperiksa dan menjadi bagian dari prosedur tetap agar tidak terlalu lama tersimpan di gudang posko di Maumere maupun Labuan Bajo, melainkan segera didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

"Kemudian tentu saja di samping logistik ini dikirimkan dari Halim, ada juga bantuan-bantuan baik dari pemerintah, swasta, perorangan, atau dari unsur-unsur lain yang langsung ke daratan Flores tanpa melalui posko nasional di Halim Perdanakusuma. Itu juga diperbolehkan sehingga datanya dengan yang dikirimkan dari posko Halim tentu saja berbeda," jelas Suharyanto.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6