Liputan6.com, Jombang - Pesantren menjadi salah satu fokus utama yang ditawarkan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gagasan itu berangkat dari pandangan bahwa pesantren bukan sekadar bagian dari ekosistem pendidikan Nahdlatul Ulama, tetapi juga menjadi salah satu akar utama yang menopang keberlangsungan organisasi dan tradisi keilmuan NU.
Bagi Gus Rozin, pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga kesinambungan kaderisasi ulama, pembentukan karakter santri, sekaligus pewarisan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Karena itu, penguatan pesantren dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masa depan NU.
"Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan," kata Gus Rozin, yang juga Ketua PWNU Jawa Tengah, Senin (24/8/2026).
Advertisement
Menurutnya, perhatian terhadap pesantren tidak cukup berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana. Pesantren membutuhkan dukungan yang lebih menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan, pengembangan pendidikan, pemanfaatan teknologi hingga penguatan ekonomi pesantren.
"Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh," ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan panjang Gus Rozin dalam dunia kepesantrenan. Pengasuh Pesantren Maslakul Huda-Kajen, Pati, Jawa Tengah, itu telah menjalani berbagai peran dalam penguatan pesantren dan pendidikan NU jauh sebelum mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.
Rekam Jejak Panjang di Dunia Pesantren
Gus Rozin pernah dipercaya sebagai Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah periode 2013-2015. Setelah itu, ia dipercaya memimpin RMI PBNU pada periode 2015-2021.
Sebelum memimpin RMI, Gus Rozin juga pernah menjadi Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013. Pengalaman tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan pendidikan yang berkembang di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Selama berkhidmah di RMI, sejumlah agenda penguatan pesantren dan santri turut menjadi bagian dari kiprahnya. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Hari Santri Nasional dan Apel Akbar Santri Nusantara.
Selain itu, terdapat pula Gerakan Pesantrenku Bersih, Pesantren Keren yang diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas lingkungan dan tata kelola kehidupan pesantren.
Pengabdian Gus Rozin di bidang kepesantrenan juga mencakup program-program yang menyentuh kehidupan santri dan masyarakat. Beberapa di antaranya Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia hingga program beasiswa LPDP untuk santri.
"Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi dan komitmen bersama," kata Gus Rozin.
Komitmen tersebut kemudian berlanjut melalui berbagai peran yang dijalaninya, termasuk sebagai Ketua Majelis Masyayikh. Posisi itu memperluas keterlibatannya dalam persoalan mutu, tata kelola dan pengembangan pendidikan pesantren.
Paling mutakhir, PWNU Jawa Tengah juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren 2026 bagi santri asal Jawa Tengah.
Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pesantren bukan isu yang baru muncul dalam agenda Gus Rozin menjelang Muktamar ke-35 NU. Pesantren telah menjadi bagian dari perjalanan khidmahnya selama bertahun-tahun, baik melalui RMI, pendidikan NU, maupun Majelis Masyayikh.
Â
Pesantren sebagai Akar NU
Â
Gagasan tentang penguatan pesantren juga muncul dalam berbagai pertemuan Gus Rozin dengan jajaran NU di daerah. Salah satunya dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 19 Agustus 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan pentingnya pembangunan NU yang tetap bertumpu pada akar utamanya, yakni pesantren.
Dalam forum itu pula, muncul pertanyaan mengenai komitmen konkret Gus Rozin apabila memperoleh amanah memimpin PBNU, khususnya dalam memperkuat dan mengembangkan pesantren.
Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pesantren menjadi salah satu agenda yang dinilai penting oleh struktur NU di daerah. Penguatan pesantren tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga menyangkut kaderisasi, keberlangsungan lembaga, kemandirian ekonomi hingga kemampuan pesantren beradaptasi dengan perubahan zaman.
Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, menilai pengalaman Gus Rozin di dunia pesantren menjadi salah satu modal penting untuk memahami persoalan pendidikan, pembinaan generasi muda dan tantangan yang dihadapi pesantren.
Faisal menyebut Gus Rozin memiliki pengalaman panjang sebagai pimpinan pondok pesantren sekaligus dalam berbagai organisasi yang berkaitan dengan pendidikan dan kepesantrenan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa isu pesantren mendapatkan porsi cukup besar dalam gagasan yang dibawa Gus Rozin menjelang Muktamar ke-35 NU.
Â
Advertisement
Memperkuat Pesantren, Memperkuat NU
Bagi Gus Rozin, masa depan pesantren tidak dapat dipisahkan dari masa depan Nahdlatul Ulama. Karena itu, PBNU ke depan dinilai perlu hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui pelayanan, pendampingan dan penguatan kapasitas pesantren yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut dia, pesantren memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui kerja sama dan pertukaran pengalaman. Pesantren yang telah berhasil mengembangkan program tertentu dapat menjadi rujukan bagi pesantren lain sehingga tidak perlu berjalan sendiri-sendiri.
"Kita harus membangun ekosistem. Kekuatan yang sudah dimiliki satu pesantren atau satu cabang harus bisa menjadi kekuatan bagi yang lain. Dengan begitu, pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling belajar dan saling menguatkan,"Â tuturnya.
Gagasan tersebut juga mencakup perhatian terhadap pesantren di daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap berbagai sumber daya. Termasuk pesantren di wilayah pedalaman dan luar Jawa yang membutuhkan pendampingan serta dukungan agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Gus Rozin berpandangan bahwa membesarkan NU tidak semata-mata berbicara tentang membesarkan struktur organisasi. Lebih jauh, NU perlu memperkuat kemampuan jamaah dalam membangun berbagai lembaga yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
"Kalau kita ingin membesarkan NU, maka yang harus diperkuat adalah kemampuan jamaah. Jamaah harus mampu membangun dan mengembangkan pesantren, sekolah, rumah sakit, usaha dan berbagai lembaga yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," katanya.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan pesantren ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk membangun NU dari bawah, melalui kekuatan jamaah dan lembaga-lembaga yang tumbuh di tengah masyarakat.
Pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kaderisasi, pemberdayaan masyarakat dan penjaga tradisi keilmuan NU.
Menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026, rekam jejak tersebut menjadi bagian dari tawaran Gus Rozin kepada para muktamirin.
Ia membawa pengalaman panjang di RMI, pendidikan pesantren, penguatan kebijakan kepesantrenan hingga Majelis Masyayikh sebagai modal untuk menawarkan agenda penguatan pesantren sebagai salah satu fondasi kepemimpinan PBNU ke depan.
Bagi Gus Rozin, pesantren bukan sekadar salah satu program yang perlu diperhatikan. Pesantren merupakan bagian dari akar sejarah, kaderisasi dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311576/original/011498300_1785406882-kemenhaj_petugas_haji_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4409778/original/074363200_1682745589-PPATK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321954/original/029124100_1786512297-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-12T122336.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331866/original/068972800_1787575793-IMG-20260822-WA0010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331682/original/003098900_1787558723-IMG-20260823-WA0040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331625/original/093215900_1787553934-arif_Hidayat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331530/original/003367600_1787548867-WhatsApp_Image_2026-08-24_at_11.38.18_AM.jpeg)