Liputan6.com, Jakarta - Di era kontemporer yang penuh dengan dinamika ketidakpastian ini—atau yang secara populer di media sosial sering diistilahkan dengan frasa “in this economy”—masyarakat dihadapkan pada realitas pahit berupa lonjakan harga berbagai komoditas dan kebutuhan hidup pokok yang kian tidak terkendali.
Tekanan finansial tersebut terasa semakin mencekik karena tidak hanya mengikis daya beli masyarakat terhadap bahan pangan dan kebutuhan domestik sehari-hari, melainkan juga merembet pada pos pengeluaran krusial lainnya, seperti biaya pendidikan anak hingga transportasi harian, yang jumlahnya terus membengkak dan menyedot sebagian besar porsi pendapatan bulanan.
Hal itu yang dirasakan Mario (34), warga Bekasi, Jawa Barat. Dia mengeluhkan biaya pengeluaran yang terus meningkat, bahkan untuk biaya transportasi saja. Mengingat, setelah sempat kena PHK, di pekerjaan barunya Mario harus mobile, berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain.
Advertisement
"Banyaklah pengeluaran. Apalagi pas abis PHK, keluar terus kan uang tapi pemasukannya gak ada," ucap Mario kepada Liputan6.com, Kamis (20/8/2026).
Dia menilai, pengeluaran yang terasa meningkat adalah kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan biaya bensin, karena semuanya semakin mahal.
"Kebutuhan harian, buat makan, bensin, bayar listrik, bensin aja naiknya lumayan," kata Mario.
"Terus tagihan bulanan, kayaknya masih ada terus. Tagihan yang mungkin tahun lalu masih harus dibayar, ternyata jadinya numpuk kan sama tahun ini," sambung dia.
Lantaran banyaknya kebutuhan, Mario juga mau tidak mau menggunakan uang tabungannya. Sebab, dia yang memiliki rencana menikah beberapa tahun lagi, mau tidak mau memakai uang tabungannya itu untuk DP rumah bersama pasangannya.
"Duit tabungan jadinya kepakai buat DP rumah itu, kan gue sama pacar gue mau beli rumah. Jadinya yaudah uang tabungan gw keluar," ucap Mario.
Tak Lagi Bisa Menabung
Mario juga memakai uang tabungannya untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi ketika belum kembali bekerja. Menurutnya, hal itu jadi bukan pilihan karena memang butuh.
Mario mengaku karena uang tabungannya kerap dipakai, jumlahnya pun jauh berkurang. Dia juga belum bisa mulai menabung lantaran juga masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Enggak, susah (buat nabung) karena kondisinya juga kayak gini. Apa ya, gue mungkin agak kaget habis kena PHK kan. Jadi kemarin jedanya kan lama (sampai kembali bekerja), enggak ada pemasukan itu, berasa banget," kata Mario.
Selain itu menurut Mario, meski saat ini sudah kembali bekerja sejak sekitar Maret 2026, penghasilan yang didapat juga tak beda jauh dengan kantor lama.
"Kan awalnya freelance-freelance dulu gue, terus maksud gue sekarang yang gue terima itu nggak beda jauh sama di tempat kerja dulu, d itu enggak ada benefit sama sekali. Jadi ya susah aja, ngepas aja buat kebutuhan sehari-hari," ucap dia.
Meski begitu, Mario enggan melakukan pinjaman baik online atau pun ke keluarga dan teman juga paylater. Dia hanya memakai kartu kredit untuk kebutuhan tertentu saja.
"Gue paylater enggak ada, enggak mau. Sebenarnya gini, tabungan ditarik, jadi sekarang kita belum bisa nabung lagi. Akhirnya alternatif yang dipakai ya pakai CC. Tapi di situ kita juga bingung muter uangnya gimana lagi karena dnggak ada simpanannya," cerita Mario.
Dia mengaku memiliki kekhawatiran jika kondisi ini terus berlangsung. Namun, Mario masih belum memikirkan bagaimana ke depannya jika sampai uang tabungannya benar-benar habis.
"Takutnya sih enggak bisa nabung, enggak punya dana darurat. Belum tahu lagi sih gue kalau kayak gitu (tabungan habis), belum kepikiran. Terus sekarang tuh udah enggak bisa senang-senang banget beneran," tutup Mario.
Mario pun saat ini tak hanya bekerja di perusahaan media. Dia juga menggeluti profesi sampingan sebagai Stand Up Comedy setelah sempat mengikuti kelasnya untuk menambah pemasukan.
Uang Tabungan Kian Habis, Pemasukan Menipis
Hal tak jauh berbeda juga dialami Sula. Sula dan Mario terkena PHK dari sebuah perusahaan media pada Juni 2025 lalu. Berbeda dengan Mario, Sula saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan pasti.
Sula kini berprofesi sebagai pengajar atau coach yoga. Namun menurut dia, menjadi coach yoga belum bisa menutupi kebutuhan sehari-hari yang kian meningkat.
"(Kondisi keuangan) saat ini jauh banget turun. Paling penghasilan saat ini cukup enggak cukup aja buat memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sula.
Dia mengakui, saat ini uang tabungannya semakin menipis karena mau tidak mau diambil dan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Sama dengan Mario, Sula tidak pernah meminjam uang maupun paylater.
"Ya paling pakai CC (kartu kredit) aja buat kebutuhan tertentu. Cuma kan itu juga harus dibayar, jadi mau gak mau pake lagi uang tabungan yang udah diambil mau gak mau," cerita Sula.
Dia mengatakan, ketika dulu bekerja dan ada pemasukan rutin, masih terasa aman. Karena saat ada pengeluaran, sudah ada lagi pemasukan pasti yang rutin setiap bulannya.
"Dulu mungkin kita dapat rutin jadi ngerasa aman (secure). Kalau sekarang kan enggak ada pemasukan rutin. Itu yang bikin kena ke mental, ngerasa enggak aman," kata Sula.
Hal senada juga diceritakan Yulia. Yulia, Mario, dan Sula sama-sama terkena PHK dari sebuah perusahaan media pada Juni 2025 lalu. Menurut Yulia, kondisi keuangannya juga turun drastis.
Yulia saat ini tinggal di Bali dan sedang merintis usaha clothing line bersama temannya. Dia pun mengakui, uang tabungannya ada yang terpakai untuk memenuhi kebutuhannya.
"Banyak pengeluaran tuh buat kebutuhan sehari-hari, makan, bensin buat motor kemana-mana juga naiknya lumayan," kata Yulia.
Menurut dia, tabungannya juga mulai menipis dan belum bisa untuk menabung lagi karena uangnya juga terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.
Sama dengan Mario dan Sula, Yulia juga tidak pernah meminjam uang maupun menggunakan paylater.
"Enggak pernah pakai paylater, minjem-minjem juga gak pernah. Paling pakai CC (kartu kresdit) aja buat kebutuhan-kebutuhan lain, cuma gak banyak, karena kan bulan depannya harus dibayar," tutup Yulia.
Yulia mengaku khawatir jika kondisi ini terus terjadi, mengingat juga dia masih merintis usaha sehingga penghasilan yang didapat pun tidak pasti.
"Khawatir aja, uang tabungan terus kepake, terus belum bisa nabung lagi apalagi buat nyisihin buat dana darurat," tutup Yulia.
Yulia pun saat ini sedang fokus untuk terus mengembangkan bisnis clothing line-nya di Bali.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308641/original/099343100_1785153624-Generated_image_2__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330999/original/078626100_1787469154-L1000229.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331212/original/089262500_1787505663-10a51960-6aea-4d78-9ea3-3597e89ef4d0.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331170/original/000578000_1787498070-IMG_9368.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307718/original/087615600_1754476754-1000380229.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331135/original/048241100_1787486135-1001591263.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325924/original/009439300_1786946543-daf890bc-f16f-4de0-b410-a8a70b284ece.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331150/original/098363200_1787491916-kadet-mahasiswa-unhan-hibur-warga-jakarta-2801123.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321823/original/039525400_1786505831-pal3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2914761/original/068552600_1568789374-20190918-Kabut-Asap-Malaysia-Singapura-5.jpg)