50 Mercedes Jip Menyusuri Jawa-Bali, Ada Kisah Tak Biasa di Baliknya

sekitar 50 kendaraan Mercedes Jip dan 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, alam, sekaligus

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 06:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mercedes Jip Indonesia (MJI) menggelar touring panjang bertajuk Royal Heritage. Tak sekadar menjadi perjalanan dengan kendaraan jip, kegiatan ini mengajak sekitar 50 kendaraan Mercedes Jip dan 150 peserta dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, alam, sekaligus mempererat persaudaraan.

Selama sembilan hingga sepuluh hari perjalanan, rombongan menyusuri Pulau Jawa hingga Bali. Setiap destinasi dipilih untuk menghadirkan cerita berbeda tentang perjalanan panjang Nusantara, mulai dari jejak kerajaan, kehidupan masyarakat pesisir, kekayaan alam, hingga warisan budaya yang masih hidup sampai sekarang.

Perjalanan Royal Heritage diawali dengan menyambangi sejumlah situs bersejarah. Rombongan mengunjungi Keraton Cirebon, Keraton Yogyakarta, Keraton Mangkunegaran Surakarta, hingga Trowulan di Mojokerto.

Trowulan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Kawasan yang dikenal sebagai pusat penting Kerajaan Majapahit itu membawa peserta menyelami kembali kejayaan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara.

Di lokasi ini, peserta tidak hanya melihat candi, gapura, dan berbagai peninggalan sejarah. Mereka juga diajak memahami bagaimana Majapahit pernah menjadi kekuatan besar yang memiliki pengaruh luas di Nusantara.

Bagi MJI, Trowulan menjadi lokasi yang sangat relevan dengan tema Royal Heritage karena menawarkan kesempatan untuk menelusuri jejak kejayaan kerajaan yang telah berlangsung ratusan tahun silam.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Bondowoso yang dikenal sebagai Bumi Ki Ronggo. Di wilayah ini, komunitas MJI menjalani aktivitas light off road di sekitar Kawah Wurung.

Medan yang dilalui memberikan pengalaman berbeda bagi peserta setelah sebelumnya lebih banyak mengeksplorasi situs sejarah. Namun, perjalanan tidak berhenti pada kegiatan berkendara dan menikmati panorama alam.

 

MJI juga menggelar bakti sosial di kawasan Taman Galuh sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat setempat.

Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian penting dari Royal Heritage. Bagi komunitas MJI, touring bukan hanya tentang menikmati perjalanan menggunakan kendaraan, tetapi juga bagaimana kehadiran mereka dapat memberikan dampak positif bagi wilayah yang dikunjungi.

Memasuki Banyuwangi, perjalanan Royal Heritage dilanjutkan dengan mengunjungi De Djawatan di Benculuk. Kawasan ini dikenal dengan pepohonan trembesi berukuran besar yang menciptakan suasana sejuk dan rindang.

Berada di bawah naungan pepohonan tersebut, peserta seolah diajak melintasi lorong waktu. De Djawatan memiliki kaitan dengan sejarah pengelolaan hutan dan menjadi bagian dari narasi perjalanan sejarah Banyuwangi.

Dari kawasan hutan, rombongan kemudian bergerak menuju Pelabuhan Muncar. Suasana pun berubah drastis, dari teduhnya pepohonan menjadi kawasan pesisir yang ramai dengan aktivitas masyarakat.

Muncar memperlihatkan sisi lain dari sejarah Nusantara. Perjalanan sejarah tidak hanya dibangun oleh kerajaan dan kehidupan di lingkungan istana, tetapi juga oleh pelaut, nelayan, pedagang, serta masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan pada laut.

Di tengah aktivitas masyarakat dan berbagai peninggalan yang ditemui, peserta diajak memahami bahwa setiap tempat menyimpan cerita mengenai manusia, kekuasaan, perjuangan, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Royal Heritage kemudian memasuki bagian yang lebih menantang melalui kegiatan cross country di wilayah selatan Banyuwangi.

Jalur aspal perlahan berganti dengan medan berbatu, tanjakan terjal, turunan tajam, serta bentang alam yang masih alami. Di sinilah kemampuan kendaraan sekaligus peserta benar-benar diuji.

Namun, tantangan tersebut bukan semata-mata mengenai performa Mercedes Jip. Bagi peserta, medan berat menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa kebersamaan.

Kendaraan yang berada di depan membantu membuka jalan, sementara peserta lainnya memastikan tidak ada anggota rombongan yang tertinggal. Saling membantu menjadi bagian penting agar seluruh perjalanan dapat berlangsung dengan lancar.

Dengan sekitar 50 Mercedes Jip bergerak dalam satu konvoi, Royal Heritage sekaligus memperlihatkan bahwa semangat persaudaraan menjadi salah satu fondasi utama perjalanan MJI.

Dari Banyuwangi, rombongan kemudian menyeberang menuju Bali. Perjalanan memasuki babak baru dengan lanskap, sejarah, dan budaya yang berbeda.

Salah satu destinasi yang dikunjungi adalah kawasan Black Lava Gunung Batur. Hamparan lava hitam di kawasan tersebut menjadi pengingat tentang kekuatan alam yang turut membentuk kehidupan masyarakat Bali selama berabad-abad.

Perjalanan juga membawa peserta mengenal Ubud yang dikenal sebagai salah satu pusat seni dan kebudayaan Bali.

Di sini, peserta melihat bagaimana seni, tradisi, arsitektur, serta kehidupan masyarakat berpadu membentuk kebudayaan yang terus berkembang.

Bagi peserta Royal Heritage, pengalaman di Ubud menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Warisan tersebut tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kuta Jadi Penutup

Perjalanan Royal Heritage kemudian berlanjut ke Klungkung, salah satu wilayah penting dalam sejarah kerajaan di Bali.

Rombongan mengeksplorasi sejumlah jejak Kerajaan Klungkung, termasuk Kerta Gosa yang menjadi salah satu peninggalan penting kerajaan tersebut.

Kerta Gosa tidak hanya memiliki nilai dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan cerita mengenai pemerintahan dan sistem peradilan pada masa lalu.

Kawasan ini juga berkaitan dengan sejarah Puputan Klungkung 1908, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan perjuangan masyarakat Bali.

Kunjungan tersebut melengkapi perjalanan Royal Heritage yang sejak awal membawa peserta untuk melihat sejarah dari berbagai sudut pandang, baik kerajaan, masyarakat, alam, maupun kehidupan pesisir.

Setelah melalui perjalanan panjang selama sembilan hari, Royal Heritage ditutup dengan Malam Katana di Kuta, Bali.

Kuta menjadi penutup perjalanan yang merangkum berbagai pengalaman selama perjalanan. Mulai dari jejak sejarah di Banyuwangi, hutan De Djawatan, kehidupan masyarakat pesisir di Pelabuhan Muncar, petualangan di jalur selatan Banyuwangi, hingga warisan kerajaan dan budaya Bali.

Seluruh pengalaman tersebut dirangkai menjadi satu cerita perjalanan yang tidak hanya mengandalkan kendaraan sebagai sarana eksplorasi.

Ketua Touring MJI, Ngurah Firnanda, mengatakan Royal Heritage menjadi pengingat bahwa touring bukan sekadar menghitung jarak atau mengejar banyaknya destinasi.

Menurutnya, inti perjalanan justru terletak pada orang-orang yang berjalan bersama, pengalaman yang dibagikan, tantangan yang dihadapi, serta kenangan yang tercipta sepanjang perjalanan.

Pada akhirnya, Royal Heritage bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Touring ini menjadi perjalanan untuk menemukan kembali hubungan antara manusia, kendaraan, alam, sejarah, dan persaudaraan.

Bagi Mercedes Jip Indonesia, perjalanan panjang tersebut membuktikan bahwa sebuah touring dapat menjadi lebih bermakna ketika setiap kilometer yang ditempuh menghadirkan cerita dan setiap destinasi meninggalkan pengalaman bagi para pesertanya.