Ray Dalio: Bitcoin dan Emas Bisa Jadi Lindung Nilai dari Krisis Utang AS

Ray Dalio memperingatkan krisis utang AS bisa terjadi dalam lima tahun dan menyarankan investor mempertimbangkan emas serta Bitcoin.

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Investor sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, memperingatkan Amerika Serikat (AS) berpotensi menghadapi krisis utang dalam lima tahun ke depan. Ia menyarankan investor lebih mempertimbangkan emas dan Bitcoin (BTC) dibandingkan obligasi sebagai langkah menghadapi risiko tersebut.

Dikutip dari CoinMarketCap, Senin (24/8/2026), Dalio menyampaikan peringatan tersebut pada 21 Agustus 2026, setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pembelian kembali obligasi jangka panjang dapat melebihi US$ 4 miliar dalam setiap operasi.

Menurut Dalio, langkah tersebut justru menjadi sinyal adanya tekanan di pasar utang AS, bukan solusi jangka panjang untuk mengatasi kenaikan biaya pinjaman.

Ia memperkirakan pendapatan pemerintah federal AS tahun ini mencapai sekitar US$ 5,5 triliun, sementara pengeluaran berada di kisaran US$ 7,5 triliun. Artinya, pengeluaran pemerintah sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan pendapatannya.

Dalio juga memperkirakan sekitar US$ 10 triliun pokok utang akan jatuh tempo, ditambah sekitar US$ 1 triliun pembayaran bunga. Dengan demikian, kebutuhan pembayaran utang tahunan AS mencapai sekitar US$ 11 triliun, atau hampir dua kali lipat pendapatan pemerintah.

Ia menilai kondisi tersebut dapat menjadi masalah serius jika tidak segera ditangani. Menurutnya, akumulasi utang bisa mencapai tingkat yang sulit dikelola tanpa menimbulkan gangguan ekonomi yang berat.

Bitcoin dan Emas Jadi Pilihan Lindung Nilai

Dalio mengusulkan pemerintah AS memangkas defisit anggaran menjadi sekitar 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan melalui tiga langkah secara bersamaan, yakni mengurangi pengeluaran, meningkatkan penerimaan pajak, dan menurunkan tingkat suku bunga.

Ia menilai hanya mengandalkan salah satu kebijakan tersebut dapat membuat proses penyesuaian ekonomi menjadi lebih mengganggu.

Bagi investor, Dalio menyarankan untuk mengurangi porsi aset berbasis utang seperti obligasi. Sebaliknya, ia menyarankan meningkatkan kepemilikan emas serta mempertahankan porsi Bitcoin yang lebih kecil.

Dalio merekomendasikan alokasi 10-15 persen portofolio dalam bentuk emas. Menurutnya, porsi tersebut berpotensi menurunkan risiko sekaligus meningkatkan imbal hasil.

Meski demikian, Dalio mengakui waktu terjadinya krisis utang tersebut belum dapat dipastikan.

Ia menambahkan, perubahan kebijakan, perang, maupun guncangan lainnya dapat mempercepat atau menunda waktu terjadinya krisis.

 

Siklus Utang

Peringatan ini melanjutkan pandangan Dalio mengenai siklus utang. Dalam pandangannya, kenaikan biaya bunga dapat mengurangi ruang belanja pemerintah, melemahkan permintaan terhadap obligasi, dan pada akhirnya mendorong bank sentral menciptakan lebih banyak uang.

Dalam kondisi tersebut, aset yang jumlahnya terbatas dan tidak diterbitkan pemerintah, seperti emas dan Bitcoin, dapat menjadi lebih menarik ketika kepercayaan terhadap utang serta mata uang pemerintah mengalami penurunan.