Jangan Kalap Ikuti Tren Fashion, Begini Cara Bijak Hadapi Micro-Trends yang Bikin Boros

Kehadiran TikTok dan Instagram membuat tren fashion menyebar lebih cepat dari sebelumnya.

Diterbitkan 24 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasa lemari pakaian sudah penuh, tapi tetap bingung memilih baju saat ingin keluar rumah? Jika iya, bisa jadi Anda sedang terjebak dalam fenomena micro-trends, yaitu tren fashion yang muncul dan berganti dalam waktu sangat singkat.

Kehadiran TikTok dan Instagram membuat tren fesyen menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Di Indonesia, perputaran gaya juga semakin dinamis berkat perpaduan pengaruh budaya lokal dan global.

Gen Z menjadi kelompok yang paling mendorong perubahan ini dengan gaya kasual yang nyaman, tapi tetap mampu mencerminkan karakter dan ekspresi diri. Di balik kreativitas tersebut, micro-trends juga memunculkan fenomena fear of missing out (FOMO).

Tak sedikit orang tergoda membeli pakaian yang sedang viral agar tidak ketinggalan tren. Akibatnya, lemari semakin penuh, tapi banyak koleksi hanya dipakai satu atau dua kali sebelum tergantikan oleh tren baru. Kebiasaan ini pada akhirnya membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari.

Fenomena tersebut turut disoroti kreator konten fesyen TikTok @faarsyazz. Melalui video edukatifnya, ia mengajak warganet lebih selektif mengikuti tren dan mempertimbangkan apakah suatu item benar-benar sesuai dengan gaya pribadi atau hanya sekadar tren sesaat.

Lantas, micro-trends apa saja yang sebaiknya tidak langsung diikuti? Simak tiga tren fesyen musiman yang disoroti Faarsyazz berikut ini.

1. Jebakan "Semua Barang Harus Polkadot"

Motif polkadot memang menjadi salah satu tren fesyen yang banyak digemari belakangan ini. Namun, bukan berarti semua koleksi harus mengikuti motif yang sama.

Motif Mencolok

Saat sebuah tren sedang viral, banyak orang tergoda membeli berbagai item serupa, mulai dari pakaian hingga aksesori, tanpa mempertimbangkan apakah benar-benar akan sering digunakan.

Melalui videonya, kreator konten @faarsyazz mengingatkan agar tidak berlebihan mengikuti tren. "Punya satu atau dua atasan atau bawahan polkadot itu udah cukup, guys. Enggak mesti sampai sepatu, tas, dompet, casing HP, hingga sprei semuanya harus dipolkadotkan," ujarnya.

Menurutnya, motif yang sangat mencolok seperti polkadot, garis-garis, animal print, atau corak ramai lainnya umumnya memiliki siklus tren yang singkat. Karena mudah dikenali, motif-motif tersebut juga lebih cepat terasa membosankan. Ketika tren berganti, barang-barang itu berisiko hanya tersimpan di lemari dan jarang dipakai lagi.

2. Tren Fringe atau Lace Layer yang Terlalu Niche

Luaran berbahan renda atau berumbai yang digunakan untuk teknik layering memang menjadi salah satu tren fesyen yang sedang populer. Tampilan ini terlihat unik, artistik, dan memberi kesan high fashion, sehingga banyak dikenakan oleh kreator konten maupun influencer.

Namun, kreator konten @faarsyazz menilai tren tersebut tidak cocok untuk semua orang. "Menurut gue, ini tuh fashion-nya niche banget. Kecuali kalau kamu bekerja di industri fashion atau seorang fashion content creator, kamu enggak butuh-butuh banget ini," ujarnya.

Menurutnya, model pakaian seperti ini cukup sulit dipadukan dengan outfit sehari-hari. Selain kurang praktis untuk aktivitas kasual, desainnya yang sangat spesifik membuat frekuensi pemakaiannya cenderung rendah. Karena itu, pertimbangkan kembali sebelum membelinya agar tidak hanya menjadi koleksi yang tersimpan di lemari.

3. Mengoleksi Kardigan Warna atau Bermotif

Cardigan bermotif unik memang mudah menarik perhatian karena mampu memberikan sentuhan baru pada penampilan. Dipadukan dengan berbagai inner, item ini dapat membuat gaya sehari-hari terlihat lebih rapi, elegan, dan tidak membosankan. Namun, bukan berarti setiap koleksi atau motif terbaru perlu dibeli.

Faarsyazz mengingatkan agar lebih bijak mengikuti tren cardigan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di Indonesia. "Apalagi di cuaca Indonesia, ya, cardigan tuh enggak sepenting lo harus punya basic item," ujarnya.

Menurutnya, dibanding terus mengoleksi cardigan dengan berbagai warna dan motif, lebih baik berinvestasi pada pakaian dasar yang lebih mudah dipadupadankan. Selain lebih fungsional, basic item juga lebih sering dipakai sehingga membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif akibat tren yang cepat berganti.

Kunci Bijak Fesyen untuk Item Last-Longer

Di akhir videonya, @faarsyazz mengajak para pencinta fesyen untuk lebih bijak sebelum membeli item yang sedang viral. Menurutnya, tidak semua tren harus diikuti, terutama jika hanya bertahan dalam waktu singkat.

"Tenangin diri lo. Kalau lo bisa nahan buat beli barang lucu polkadot ini dan menyimpannya buat beli barang lain yang lebih berharga nanti. Mending uangnya kita simpan dulu buat beli barang yang bisa tahan lama (last longer), daripada beli item yang trennya lagi overhype dan bikin dompet menangis," ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa berbelanja sebaiknya didasarkan pada kebutuhan dan nilai guna jangka panjang, bukan sekadar rasa takut ketinggalan tren. Dengan cara ini, koleksi pakaian akan lebih fungsional sekaligus membantu menjaga kondisi keuangan tetap sehat.