Liputan6.com, Jakarta - Estetika “coquette” telah menjelma menjadi fenomena global dalam dunia mode, menghadirkan kembali pesona feminin yang romantis, genit, dan lembut. Gaya ini didominasi oleh pita, renda, serta detail-detail halus lainnya yang secara kolektif merayakan atribut kewanitaan. Lebih dari sekadar tren berpakaian, coquette merupakan sebuah pernyataan budaya yang menentang narasi yang kerap meremehkan atau menganggap enteng feminitas.
Istilah “coquette” sendiri berasal dari bahasa Prancis, yang secara harfiah berarti “genit” atau “menggoda dengan ringan”. Estetika ini secara apik merangkum esensi pesona, kepolosan, dan daya pikat yang halus melalui berbagai detail seperti renda, pita, dan ruffles, dipadukan dengan siluet feminin yang lembut.
Popularitas estetika coquette meroket di platform TikTok antara tahun 2020 hingga 2022, dan kemudian menjadi salah satu istilah estetika yang paling banyak dicari di Pinterest dan TikTok sepanjang tahun 2023. Gaya ini menawarkan kontras yang mencolok terhadap tren-tren sebelumnya yang didominasi oleh gaya androgini, minimalis, power suit, dan fesyen tomboy.
Advertisement
Elemen Kunci dan Palet Warna Coquette yang Khas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5449261/original/015610300_1766052281-IMG_2053.jpeg)
Jika ada satu elemen yang paling mendefinisikan estetika coquette, itu adalah pita. Pita rambut, ikatan pita pada pakaian, perhiasan berbentuk pita, hingga pita pada sepatu dan tas menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari gaya ini. Selain itu, penggunaan renda dan kain halus seperti sutra, satin, tulle, dan sifon juga memberikan sentuhan feminin yang lembut, terlihat pada kerah renda, hiasan renda, kamisol berenda, hingga gaun slip.
Perhiasan mutiara juga menjadi aksesori penting yang menambah kesan klasik dan mewah pada gaya coquette. Kalung mutiara, anting menjuntai, dan kalung berlapis, serta kancing mutiara pada pakaian, seringkali melengkapi tampilan. Siluet romantis menjadi esensial, mencakup rok satin atau tulle, kardigan berpotongan pendek dengan kancing mutiara, blus lengan puff dengan kerah renda, rok tenis berlipit, dan gaun slip berenda.
Palet warna estetika coquette didominasi oleh nuansa pastel yang lembut, mulai dari merah muda (seperti baby pink hingga dusty rose), krem, gading, dan putih. Warna-warna ini diperkaya dengan aksen merah, seperti ribbon red atau cherry red, serta sentuhan hitam sebagai kontras, dan juga biru muda serta ungu muda.
Advertisement
Jejak Sejarah dan Inspirasi Modern Estetika Coquette
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5271951/original/ver_running_fashionably_late_for_an_event_without_a_touch_of_luxury_to_elevate_my_style______Breitling_Chronomat_32_is_the_key_to_my_precision_in_time_and_style_____breitling_breitling_indones__1_.jpg)
Meskipun label “coquette” tergolong baru dalam konteks media sosial, akar visualnya telah tertanam dalam sejarah berabad-abad. Estetika ini banyak mengambil inspirasi dari feminitas era Rococo dan Victoria, termasuk gaya Marie Antoinette pada abad ke-18, yang dikenal dengan gaun mewah, aksesori berlebihan, dan sikap genitnya. Budaya balet dari tahun 1800-an juga menjadi jangkar visual yang kuat, terlihat dari penggunaan ballet flats, ikatan pita, dan rok tulle.
Referensi mode lain yang turut membentuk coquette adalah citra “gadis Prancis” vintage yang telah diidealkan selama beberapa dekade. Dalam perkembangannya yang lebih modern, coquette juga dipengaruhi oleh fesyen Lolita Jepang, meskipun gaya coquette cenderung lebih longgar dan kasual. Estetika soft grunge dan “nymphet” dari era Tumblr awal 2010-an turut berkontribusi pada pembentukan gaya ini.
Dua film karya Sofia Coppola, yakni Marie Antoinette dan The Virgin Suicides, juga menjadi referensi visual penting bagi estetika coquette. Selain itu, musik dan gaya visual Lana Del Rey yang melankolis, feminin, dan romantis sering dianggap sebagai “pelindung” dari estetika ini.
Reinterpretasi Feminitas: Kekuatan dan Kritik di Balik Coquette
Estetika coquette seringkali dipandang sebagai bentuk reklamasi feminitas. Kara Erwin, seorang penata gaya yang berbasis di New York City, menggambarkan estetika coquette sebagai “bahasa visual kelembutan, kesadaran diri, dan kekuatan.” Ia menambahkan bahwa di balik permukaan yang romantis dan ultra-feminin, terdapat “pemberontakan yang tenang.” Liz Teich, penata gaya komersial dan editorial, juga menyatakan bahwa tren ini “mewujudkan estetika ultra-feminin” dan merupakan “reklamasi feminitas, kewanitaan, dan masa gadis meskipun hal-hal tersebut dianggap lemah—sebuah langkah kekuatan tertinggi.”
Devin Apollon, seorang kreator Gen Z, mendefinisikan coquette sebagai “Girlycore dengan sentuhan keanggunan Old English yang sensual,” dengan penekanan besar pada pita, renda, pastel, dan mutiara. Pandangan ini menunjukkan bagaimana estetika coquette menjadi antitesis dari tren sebelumnya yang lebih maskulin atau minimalis, menegaskan kembali nilai-nilai feminin yang lembut namun kuat.
Namun, estetika coquette juga tidak luput dari kritik. Beberapa pihak mengkritiknya karena berpotensi mereproduksi peran gender yang merugikan dan daya tarik terhadap male gaze. Selain itu, representasi coquette di media sosial cenderung berpusat pada wanita berkulit terang dan bertubuh ramping, yang dapat mengecualikan individu dengan tipe tubuh dan etnis yang lebih beragam. Perdebatan muncul apakah tren ini berisiko menginfantilisasi wanita atau justru menjadi sarana bagi wanita untuk merebut kembali kekuatan feminin.
Advertisement
Desainer Global yang Mengusung Gaya Coquette
Beberapa desainer dan merek telah menjadi garda terdepan dalam menginterpretasikan dan mempopulerkan estetika coquette di panggung mode global. Simone Rocha, desainer Irlandia yang berbasis di London, dikenal dengan koleksinya yang sangat feminin dan romantis. Siluetnya yang bervolume, tembus pandang, dan dekoratif, seringkali menampilkan pita, telah menjadi ciri khasnya. Koleksi Musim Gugur/Dingin 2024-nya menampilkan gaun berenda, korset berhias bunga, dan model dengan pita di bawah mata, menegaskan hubungannya yang kuat dengan estetika coquette. Rocha sendiri menganggap pita sebagai “bagian dari ciri khasnya” dan senang melihat estetika ini menyebar melampaui high fashion.
Cecilie Bahnsen, desainer asal Kopenhagen, menciptakan pakaian mewah dengan gaya yang santai dan tak lekang oleh waktu. Ia dikenal dengan siluet pahatan dan bervolume, detail yang rumit, serta pendekatan khasnya terhadap feminitas yang memadukan romansa dan fungsionalitas, dengan penekanan pada gaun yang lapang dan keahlian tangan. Merek Miu Miu juga telah memasukkan detail coquette ke dalam koleksinya, seperti yang terlihat pada runway tahun 2024 dengan pita dan Mary Janes.
Desainer lain yang turut merayakan estetika ini termasuk Sandy Liang, yang dikenal dengan desain terinspirasi nostalgia seperti mary janes satin, rok skort berlipit, rok bertingkat, dan aksesori rambut ultra-feminin. Shushu/tong, label yang berbasis di Shanghai, menjadikan ruffles, gingham, pita, dan rok peplum sebagai ciri khasnya, dengan kontribusi seperti ballerina brogues, kardigan berenda, dan gaun mini berkerah pelaut. Chopova Lowena berhasil membuat rok berlipat terasa segar dengan memadukan cetakan rumahan dan lipatan dengan eyelet dan perangkat keras perak, memberikan sentuhan grit yang diperlukan pada tampilan coquette. Sementara itu, Fanci Club, label Vietnam, kaya akan gaya coquette, terutama dalam gaun tipis berbulu dan pilihan korset yang luas.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437454/original/043826500_1765253574-SnapInsta.to_588956506_18503034052073687_6144185795590962308_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573696/original/046051200_1777950194-AFP__20260504__A9TR4EQ__v1__MidRes__MetGala2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3246734/original/049171200_1600849645-photo-1554672723-d42a16e533db.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328195/original/045488900_1787141668-IMG_7795.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5209764/original/085031000_1746442261-Sakit_pinggang_saat_bekerja.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328104/original/031253500_1787135522-WhatsApp_Image_2026-08-19_at_8.46.56_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328005/original/001994800_1787132625-10291615545211990275.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328021/original/038419500_1787132885-a0625e7d-8b11-43d8-a0cc-7f11622098d1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326920/original/091355300_1787134467-SAN09120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327989/original/052355200_1787132188-033201d1-98d9-4cfa-b58b-a31d8134ebf1.jpeg)