Banyuwangi Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Banyuwangi dinilai berhasil mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program Banyuwangi Hijau.

Diterbitkan 23 Agustus 2026, 21:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Banyuwangi memiliki sistem pengelolaan sampah terbaik, layak jadi model nasional.
  • Program Banyuwangi Hijau didukung internasional, mencakup 73 desa.
  • Pengelolaan sampah berbasis masyarakat mengurangi ketergantungan TPA.

Liputan6.com, Jakarta - Banyuwangi Hijau dinilai memiliki sistem pengolahan sampah yang dapat menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia melalui Program Banyuwangi Hijau.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pengelolaan sampah di Banyuwangi termasuk yang terbaik sehingga layak dikembangkan sebagai model nasional. Penilaian tersebut disampaikan saat mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

“Jadi, Banyuwangi ini termasuk yang pengolahan sampahnya terbaik. Maka dari itu, banyak penyerahan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Austria, Norwegia, dan United Arab Emirates (UAE), karena dianggap pengelolaan sampahnya termasuk yang bagus,” kata Zulhas, melansir Antara, Minggu, (23/8/2026).

Program itu berkembang dari Proyek STOP yang telah berjalan di Kecamatan Muncar sejak 2018. Pengembangannya kemudian mendapat dukungan dari sejumlah mitra internasional untuk memperkuat infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah di Banyuwangi.

Program Banyuwangi Hijau Perkuat Sistem dari Hulu ke Hilir

Pada fase pertama dan kedua, Austria dan Norwegia mendukung pembangunan infrastruktur persampahan, termasuk TPST Blak yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 80 ton sampah per hari.

Memasuki fase ketiga pada 2024, dukungan dari Uni Emirat Arab diarahkan untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Sistem tersebut mencakup edukasi masyarakat, pemilahan sampah dari sumber, penyediaan sarana, pengangkutan terpilah, hingga proses pengolahan.

Hingga Mei 2026, Program Banyuwangi Hijau telah menjangkau 73 desa dengan cakupan layanan 23.410 rumah tangga atau sekitar 500.000 jiwa. TPS 3R Balak juga telah menerima lebih dari 14.145 ton sampah sejak mulai beroperasi.

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut menunjukkan bahwa penanganan sampah tidak hanya bergantung pada tempat pembuangan akhir, tetapi dapat dilakukan melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya. Model ini menjadi salah satu alasan Banyuwangi didorong untuk menjadi contoh pengelolaan sampah bagi daerah lain.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6