Investasi Singapura di Indonesia Sentuh Rp 80,97 Triliun dalam 10 Tahun

BKPM menyatakan, selama 10 tahun terakhir, kontribusi Singapura untuk investasi di Indonesia berada di posisi pertama.

Diterbitkan 15 Januari 2026, 17:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Singapura kembali mencatatkan diri sebagai negara penyumbang realisasi investasi terbesar di Indonesia dengan porsi mencapai 30,1 persen atau setara USD 4,8 miliar atau Rp 80,97 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.870). Capaian ini menegaskan posisi Singapura yang secara konsisten menempati peringkat pertama selama lebih dari 10 tahun terakhir dalam kontribusi investasi asing ke Tanah Air.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, dominasi Singapura dalam realisasi investasi memang sudah berlangsung lama dan relatif stabil. 

"Ini memang secara konsisten, Singapura lebih dari 10 tahun terakhir selalu berada di nomor satu dengan kontribusi sekitar 30,1 persen atau USD 4,8 miliar,” ujar Rosan di BKPM, Kamis (15/1/2026).

Di posisi berikutnya, Rosan menjelaskan bahwa Indonesia masih memisahkan pencatatan investasi antara Hong Kong dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT/China). Jika digabungkan, nilai investasi dari kedua wilayah tersebut sebenarnya melampaui Singapura.

"Kalau Hong Kong dan Tiongkok ini digabung, totalnya sekitar USD 5 miliar. Angkanya pasti melewati Singapura,” katanya.

Secara terpisah, realisasi investasi dari Hong Kong tercatat sebesar USD 3,4 miliar, sementara investasi dari Tiongkok mencapai USD 2,1 miliar. Kedua negara tersebut menjadi kontributor penting dalam mendorong arus penanaman modal asing, terutama pada sektor-sektor strategis nasional.

Selain itu, Malaysia juga masuk dalam jajaran lima besar negara penyumbang investasi dengan nilai mencapai USD 1,7 miliar atau sekitar 10,9 persen dari total realisasi investasi. 

"Malaysia ini juga cukup besar kontribusinya dan terus menunjukkan peningkatan,” ucap Rosan.

Sementara itu, Jepang masih menjadi salah satu mitra utama investasi Indonesia, meski posisinya kerap bergantian dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan. 

"Jepang ini biasanya bolak-balik posisinya, kadang dengan Amerika Serikat, kadang dengan Korea, atau juga dengan Malaysia. Kita harapkan semuanya bisa terus meningkat secara baik,” ucap Rosan.

Realisasi Investasi Triwulan IV 2025 Tembus Rp 496,9 Triliun, Serap 754 Ribu Tenaga Kerja

Sebelumnya, realisasi investasi Indonesia pada triwulan keempat 2025 menunjukkan penguatan yang signifikan dengan total nilai mencapai Rp 496,9 triliun. Capaian ini mencerminkan kinerja investasi nasional yang tetap solid di tengah dinamika global dan sekaligus menjadi fondasi penting dalam mengejar target investasi tahunan sebesar Rp 1.950,6 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan, capaian triwulan IV tersebut meningkat 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 452,8 triliun.

“Kalau kita lihat dari yoy, kurang lebih ada peningkatan 9,7 persen. Ini merefleksikan sekitar 26,1 persen dari target investasi nasional,” ujar Rosan di BKPM, Kamis (15/1/2026).

Selain dari sisi nilai, investasi juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Pada triwulan keempat ini, total tenaga kerja yang terserap mencapai 754.196 orang. Angka tersebut meningkat hampir 30 persen atau tepatnya 29,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penyerapan tenaga kerjanya meningkat sangat baik, hampir 30 persen. Ini menunjukkan investasi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

 

 

PMA dan PMDN

Rosan merinci, kontribusi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) relatif seimbang. PMA tercatat sebesar Rp256,3 triliun atau 51,6 persen, sementara PMDN mencapai Rp240,6 triliun atau 48,4 persen.

“Perbedaannya tidak terlalu besar. PMA sedikit lebih tinggi, tapi pertumbuhan PMDN secara yoy justru lebih besar, yakni 16,2 persen,” katanya.

Menurut Rosan, investor asing tetap menjaga kepercayaan terhadap Indonesia karena stabilitas politik dan ekonomi yang terjaga, terutama pada kuartal keempat.

“Mereka melihat stabilitas politik, ekonomi, serta kebijakan pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi. Ini direspons positif oleh para investor,” ujarnya.

Dari sisi sebaran wilayah, realisasi investasi di luar Pulau Jawa sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa. Investasi di luar Jawa mencapai Rp249,4 triliun, sedangkan di Jawa sebesar Rp247,5 triliun atau sekitar 49,8 persen.

“Perbandingannya seimbang, hampir sama. Ini menunjukkan pemerataan investasi terus berjalan,” kata Rosan.

Untuk provinsi, Jawa Barat masih menjadi tujuan utama investasi dengan nilai Rp78,7 triliun, disusul DKI Jakarta Rp66,8 triliun, Jawa Timur, Banten, serta Sulawesi Tengah yang secara konsisten masuk lima besar.

“Masuknya Sulawesi Tengah dan Maluku Utara membuktikan bahwa program hilirisasi berjalan berkesinambungan,” ungkapnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6