Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menargetkan jumlah agen pemasar bersertifikasi syariah mencapai 200 ribu orang dalam tiga tahun, dari posisi saat ini 113 ribu orang.
Ketua Umum AASI, Fauzi Arfan mengatakan, pangsa pasar asuransi syariah terhadap industri asuransi nasional yang saat ini masih sekitar 5% erat kaitannya dengan minimnya jumlah tenaga pemasar dibandingkan asuransi konvensional.
"Kita melihat yang pertama dari asosiasi, number of seller kita juga masih sangat sedikit dibandingkan dengan asosiasi yang lainnya," ujar dia, saat konferensi pers peluncuran AXA Sharia Life Insurance (ASLI), Jumat (18/9/2026).
Advertisement
Ia mencontohkan pengalaman Malaysia yang sekitar 20 tahun lalu menghadapi persoalan serupa. Jumlah tenaga penjual yang minim membuat pangsa pasar asuransi syariah tidak kunjung membesar. Begitu jumlah agen naik signifikan, dampaknya disebut sangat positif bagi pertumbuhan industri secara keseluruhan.
Fauzi menegaskan, Indonesia memiliki sekitar 255 juta penduduk muslim yang penetrasinya terhadap produk syariah masih jauh dari optimal, sementara preferensi anak muda terhadap produk berbasis syariah disebut terus meningkat satu dekade terakhir.
Sejalan, Presiden Direktur AXA Sharia Life Insurance, Bukit Rahardjo, mengungkapkan perusahaannya bakal mengandalkan jalur keagenan untuk distribusi utama, mengingat kekuatan AXA Financial Indonesia yang selama ini sudah sangat mapan di segmen tersebut.
"Kita akan tetap mencoba untuk me-leverage, menggunakan atau mengoptimalisasi distribusi keagenan," ujar dia.
Hal ini tak menutup kemungkinan membuka kemitraan bancassurance dan kolaborasi dengan ekosistem syariah lain ke depan.
Â
Peluang Meningkatkan Pasar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351920/original/055704100_1789719199-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_14.39.09.jpeg)
Saat ini, AXA Sharia Life Insurance (ASLI) sudah memiliki lebih dari seribu agen yang tersertifikasi untuk memasarkan produknya. Meski Bukit mengakui jumlahnya masih terbilang kecil dibandingkan agen asuransi konvensional, pertumbuhannya cukup signifikan dalam dua tahun terakhir.
Sebagai dorongan asosiasi untuk memperbanyak tenaga pemasar syariah, biaya pendaftaran lisensi keagenannya tengah didiskon dari Rp 250 ribu menjadi Rp 100 ribu.
Soal proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat bakal ada 35 perusahaan asuransi syariah full-fledged pada akhir 2026, Bukit menegaskan pihaknya tak memandang itu sebagai ancaman persaingan bagi ASLI, melainkan kesempatan membesarkan pasar yang porsinya saat ini masih sangat kecil.
"Sebetulnya yang kita harus pikirkan adalah kuenya. Jadi kuenya ini masih kecil. Jadi bagaimana kita bisa penetrasi kuenya ini supaya jadi lebih besar," ujarnya.
Ia pun mengoreksi istilah "berbondong-bondong" yang kerap dipakai menggambarkan masuknya pemain-pemain baru ke industri, dan menggantinya dengan "bahu-membahu".
"Bahu-membahu untuk bisa masuk ke ekonomi syariah yang lebih besar lagi, untuk bisa menawarkan lebih besar lagi, men-develop dan mem-build lebih besar lagi," ujar dia.
Bukit juga menampik anggapan bahwa maraknya pemain baru hasil spin-off memicu perang tarif di industri. "Saya tidak melihat adanya perang tarif, malah justru saya melihat adalah seluruh perusahaan menawarkan proposisi yang berbeda-beda. Jadi kuenya nanti makin besar," tutur Bukit.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5629728/original/027803900_1778227032-cek_fakta_-_pendamping_desa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372858/original/061241900_1612917784-Vaksin-Nakes-Lansia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4047359/original/024125100_1654749561-razia-Pajak-STNK-ARBAS-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5518693/original/087920200_1772516344-BLT_Ibu_Hamil_-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351921/original/007134200_1789719277-WhatsApp_Image_2026-09-18_at_14.39.11__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)