Bos Freeport: Produksi Emas 26 Ton pada 2026 Siap disuplai ke Antam

Manajemen PT Freeport Indonesia menyatakan, produksi yang berjalan saat ini dari zona deep mill level zone dan Big Gossan.

Diterbitkan 26 November 2025, 16:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas pada 2026 mencapai sekitar 26 ton emas dan dipastikan seluruh volume tersebut akan dialokasikan khusus untuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

"Jadi, rencana produksi emas kita tahun 2026 itu kira-kira 26 ton. Itu seluruhnya direncanakan untuk Antam," kata Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, saat ditemui usai menghadiri PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025).

Sebagian besar kapasitas produksi yang akan digunakan untuk memasok Antam berasal dari fase pemulihan operasi tambang yang direncanakan mulai kembali normal pada 2026.

Ia menjelaskan, Freeport saat ini baru mengoperasikan sekitar 30% kapasitas produksi dari zona Deep Mill Level Zone dan Big Gossan, sementara 70% sisanya baru akan aktif kembali setelah GBC memulai produksi pada Maret 2026.

"Yang sekarang produksi yang berjalan itu adalah deep mill level zone dan juga Big Gossan. Itu hanya 30%. Yang 70% itu kan belum produksi. Dia baru akan produksi mulainya di bulan Maret 2026 rencananya. Dan ramp up atau akan bertahap, dia meningkat secara bertahap sampai akhir 2026," ujarnya.

Freeport Indonesia memastikan komitmen suplai emas untuk PT Antam Tbk tetap berjalan di tengah tekanan produksi yang menurun akibat penghentian operasional di area Grassroots Block Cave (GBC).

Antam Tetap Jadi Prioritas Freeport

Tony menambahkan bahwa sekalipun gangguan produksi terjadi lebih dari 50 hari, Freeport tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan Antam.

Keputusan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan pasokan bagi industri hilir mineral nasional. Ia menegaskan bahwa isu pasokan belum sepenuhnya selesai, namun prioritas penyaluran tetap berlaku.

"Tetap. Yang emas yang kita produksi itu kita utamakan untuk disuplai ke Antam," ujarnya.

 

 

 

Insiden Longsor

Sebelumnya Freeport menyebut insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.

Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.

Sebagai informasi, tragedi longsor PT Freeport Indonesia (PTFI) di area tambang bawah tanah, tepatnya di GBC Extraction 2830 Panel menelan sejumlah jiwa. Peristiwa itu terjadi pada Senin malam 8 September 2025.

Tambang Bawah Tanah GBC Freeport Beroperasi lagi Maret 2026

Sebelumnya, PT Freeport Indonesia memastikan akan mengoperasikan kembali tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC)  pada Maret 2026. Tambang ini berhenti operasi karena ada tragedi longsong yang menjebak beberapa pegawai pada September lalu.  

"Mulai bulan Maret 2026, baru kita akan mulai. Dan memerlukan waktu untuk bisa meningkat ke tingkat penuh di akhir 2026. Makanya kalau dilihat dari koreksinya, di 2027 angka produksi kita sudah langsung naik," ujar Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (FI) Tony Wenas dikutip dari Antara, Senin (24/11/2025).

Tony mengatakan tambang bawah tanah GBC tersebut belum bisa produksi penuh dikarenakan insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu. Tambang bawah tanah GBC merupakan tambang bawah tanah yang paling besar dalam kompleks tersebut.

"Jadi, porsi yang paling besar ini harus kita hentikan dulu sebentar. Sampai dia betul-betul aman," ujar Tony.

Sebelumnya Freeport menyebut insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.

Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6