Bromo Ditutup, 2.056 Wisatawan Ajukan Pengembalian Tiket

Kebijakan ini diambil untuk prioritas keselamatan dan penanganan kebakaran Bromo.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 06:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jawa Timur Imbas meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat sebanyak 2.056 wisatawan mengajukan refund atau pengembalian biaya tiket masuk.

Kebijakan ini menyusul penutupan total seluruh akses wisata Gunung Bromo demi keselamatan pengunjung dan efektivitas pemadaman api.

​Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, mengungkapkan bahwa lonjakan pengajuan refund tersebut terhitung sejak Minggu 9 Agustus 2026 sampai Rabu 12 Agustus 2026.

​"Jumlah wisatawan yang sudah mengajukan refund terdiri dari 1.944 Wisatawan Nusantara (wisnus) dan 112 Wisatawan Mancanegara (wisman)," ujar Endrip, Kamis (13/8/2026).

​Selain refund, sebanyak 32 wisnus memilih opsi reschedule atau penjadwalan ulang kunjungan. Sementara itu, tidak ada wisman yang mengambil opsi reschedule.

​Secara keseluruhan, Balai Besar TNBTS mencatat ada 3.062 calon pengunjung (2.671 wisnus dan 391 wisman) yang terdaftar untuk periode kunjungan 9–15 Agustus. 

"Saat ini, masih ada 974 wisatawan yang belum menentukan sikap terkait tiket mereka, terdiri dari 695 wisnus dan 279 wisman," tambahnya.

 

Melalui Daring

​Bagi wisatawan yang terdampak penutupan ini, proses pengembalian dana maupun penjadwalan ulang dapat dilakukan secara daring melalui formulir resmi di tautan: https://bit.ly/form-refund-reschedule-karhutla-bromo.

​Penutupan total seluruh pintu masuk kawasan Bromo telah diberlakukan sejak Sabtu (8/8/2026) pukul 22.00 WIB.

Akses yang ditutup meliputi, Pintu Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, pintu Wonokriti di Kabupaten Pasuruan, pintu Kemplang dan Boban Trisula di Kabupaten Malang dan pintu Senduro di Kabupaten Lumajang.

​Langkah tegas ini diambil setelah kobaran api meluas hingga menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dari arah Bukit Jantur dan membakar kawasan savana. 

"Penghentian aktivitas wisata dilakukan secara menyeluruh guna memprioritaskan keselamatan publik serta mempermudah tim gabungan dalam menaklukkan titik api di lapangan," kata  Endrip.