Tak Ikut AS, BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia ungkap alasan tahan suku bunga acuan meski The Fed naik. Inflasi aman dan modal asing terus masuk hingga US$ 6 miliar.

Diterbitkan 28 September 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memilih untuk menahan suku bunga acuan (BI Rate) meski bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunganya. Langkah ini diambil karena inflasi domestik dinilai masih terkendali dan perekonomian nasional masih memiliki ruang untuk terus tumbuh.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menjelaskan, BI senantiasa memanfaatkan assessment dan stress analysis guna mengukur dampak perubahan suku bunga terhadap inflasi maupun pertumbuhan ekonomi sebelum memutus kebijakan moneter.

"Kami melakukan asesmen, kami juga melakukan stress analysis, dan kita juga melihat setiap dampak dari kenaikan BI-Rate terhadap ekonomi itu seperti apa,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Destry memaparkan, perekonomian Indonesia saat ini masih bergerak di bawah kapasitas potensialnya sehingga output gap tercatat masih negatif. Kondisi ini memberi ruang bagi dorongan pertumbuhan ekonomi tanpa memicu tekanan inflasi yang berlebihan.

"Kami juga melakukan assessment bahwa ternyata ekonomi kita ini masih bergerak di bawah potensial level-nya. Atau kita biasa menyampaikannya output gap-nya masih negatif. Kalau dia masih negatif berarti masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi tanpa mengakibatkan kebanyakan inflasi," ujar Destry.

Ia menegaskan, inflasi tetap menjadi jangkar (anchor) utama kebijakan moneter BI. Saat ini, inflasi inti (core inflation) masih terjaga stabil di kisaran 2%, sementara inflasi umum berada di level 3,19% yang utamanya didorong oleh kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).

"Kami melihat bahwa anchor kita itu inflasi dan saat ini kami masih merasa nyaman dengan inflasi saat ini, apalagi kita lihat core inflation itu masih di sekitar 2%-an," kata Destry.

Hitung Dampak Pengetatan Moneter

Selain pertimbangan inflasi, BI turut memperhitungkan dampak pengetatan moneter terhadap laju ekonomi. Berdasarkan kalkulasi internal BI, kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1%.

"Kalau BI-Rate naik 25 basis point, pertumbuhan ekonomi itu akan turun 0,1%," ujar Destry.

Sebagai gantinya, BI memilih instrumen kebijakan yang lebih terarah melalui pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging) guna memikat aliran modal asing (inflow). Kebijakan ini difokuskan pada transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta transaksi swap.

Destry mengungkapkan, skema insentif hedging yang baru berjalan sekitar satu bulan tersebut terbukti efektif menyedot modal asing masuk sekitar US$6 miliar lewat instrumen DNDF dan swap.

"Tanpa kita menaikkan suku bunga ataupun menaikkan SRBI rate, kita berharap ada inflow yang masuk. Alhamdulillah dengan kebijakan hedging incentive ini, kita sudah melihat inflow sudah masuk sekitar US$ 6 miliar," tutur Destry.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6