Sukses

Lebaran, Kisah Sukses Proses Melokalkan Idul Fitri

Liputan6.com, Semarang - Hari raya Idul Fitri seringkali disebut sebagai hari Lebaran. Penyebutan ini menjadi bukti tentang kelenturan budaya Nusantara sekaligus menunjukkan bahwa Islam adalah berkah bagi dunia dan bisa dimaknai menyesuaikan kearifan lokal.

Almarhum Umar Khayam, budayawan asal Yogyakarta menyebutkan bahwa kosakata lebaran memang hanya ada dalam tradisi Indonesia. Lebaran pula yang kemudian erat dengan ketupat atau kupat (: Jawa).

Berpijak pada penjelasan almarhum Umar Khayam, budayawan Semarang Djawahir menyebutkan bahwa kosakata lebaran sebenarnya merupakan penjabaran dari makna ketupat atau kupat.

"Kupat atau ketupat lebaran bukan sekadar makanan. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa diberi pengertian ngaku lepat (mengaku salah) dan laku papat (empat laku)," kata Djawahir.

Saat ini Djawahir Muhammad sedang dalam tahap pemulihan dari stroke. Namun, ia sangat antusias dan bersemangat.

Ngaku lepat atau mengaku bersalah kemudian sering diwujudkan dalam tradisi sungkeman. Bersimpuh di hadapan orang tua dan meminta maaf. Ini adalah wujud menghormati orang tua, sikap rendah hati.

"Dalam budaya Jawa, orang tua sering dimaknai sebagai Gusti Allah katon. Tuhan yang tampat. Tuhan yang berwujud. Di sanalah manusia bisa menunjukkan baktinya. Sungkeman lebaran adalah salah satu momen," kata Djawahir.

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 3 halaman

Melokalkan Secara Budaya

Sedangkan laku papat adalah empat perilaku. Ini meliputi lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Djawahir menyitir penjelasan Umar Khayam bahwa tradisi dan pemaknaan ini merupakan bagian dari strategi dakwah Sunan kalijaga.

"Lebaran itu akar katanya lebar yang berarti usai. Sebagai penanda berakhirnya waktu puasa," kata Djawahir.

Sedangkan luberan memiliki kata dasar luber atau berlimpah. Luberan bisa dimaknai keberlimpahan, bisa pula melimpahkan atau sengaja membuat luber. Maksudnya adalah agar melimpahnya rezeki bisa diimbangi dengan melimpahkan rezeki dengan wujud sedekah.

"Ini langkah melokalkan perintah membayar zakat. Namun, bagi masyarakat Jawa, maknanya menjadi lebih dalam karena selain menjalankan perintah, juga wujud memahami perintah agar peduli kepada sesama," katanya.

Laku ketiga adalah leburan. Ini dimaksudkan sebagai proses saling melebur. Pada momen Idul Fitri, semua dosa dan kesalahan sebaiknya memang dilebur dengan saling memaafkan satu sama lain.

Berikutnya adalah laburan. Berasal dari kata labur atau kapur. Kapur adalah zat yang secara tradisional difungsikan sebagai penjernih air dan pemutih dinding. Ini adalah simbol pengingat agar manusia selalu menjaga kejernihan hati satu sama lain.

3 dari 3 halaman

Saksikan video menarik berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Dai Kondang AA Gym Pimpin Salat Idul Fitri di Swiss
Artikel Selanjutnya
Nuansa Jawa Barat Meriahkan Perayaan Idul Fitri 2019 WNI di London