Liputan6.com, Jakarta - Adab seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Setiap nikmat yang diterima, baik berupa kesehatan, rezeki, keluarga, ilmu maupun kemudahan dalam kehidupan, pada hakikatnya merupakan karunia-Nya.
Oleh sebab itu, seorang muslim tidak cukup hanya menikmati pemberian tersebut, tetapi juga perlu menyikapinya dengan rasa syukur dan tanggung jawab.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa nikmat mencakup setiap kebaikan, kelezatan, kebahagiaan, hingga terpenuhinya keinginan seseorang. Pandangan ini menunjukkan bahwa nikmat dalam Islam memiliki cakupan yang luas dan tidak terbatas pada harta atau materi. Setiap kebaikan yang dirasakan manusia merupakan karunia yang semestinya disikapi dengan penuh kesadaran kepada Allah sebagai sumber segala nikmat.
Advertisement
Salah satu landasan utama dalam memahami adab menerima nikmat terdapat dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 152. Allah SWT berfirman, “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menerima berbagai nikmat, tetapi pada saat yang sama justru lalai terhadap pemberi nikmat tersebut. Bahkan, ada yang menggunakan karunia Allah untuk melakukan perbuatan yang dilarang. Karena itu, syukur dalam Islam tidak sekadar menjadi ungkapan verbal, melainkan harus tercermin dalam sikap dan perilaku.
Adab Ketika Mendapatkan Nikmat dari Allah
1. Mengakui dan Meyakini bahwa Segala Nikmat Berasal dari Allah (Syukur dengan Hati)
Adab pertama dan yang paling fundamental adalah kesadaran batin bahwa segala nikmat, tanpa kecuali, berasal dari Allah SWT. Syukur dengan hati berarti kepuasan batin atas anugerah, disertai keyakinan bahwa tidak ada satu pun nikmat yang terwujud tanpa kehendak Allah.
Al-Qur'an menegaskan dalam Surat An-Nahl ayat 53: "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)." Ayat ini menjadi dasar ontologis bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan nikmat dari ketiadaan.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa syukur dengan hati adalah menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi, yang akan mengantarkan seseorang untuk menerima dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
Sementara itu, Syekh Ibnu Ajibah dalam Tafsir al-Bahr al-Madid menegaskan bahwa dzikir dengan hati melahirkan bashirah, yaitu kemampuan melihat dengan mata hati yang dapat mengenali sumber segala nikmat.
Nabi Sulaiman AS memberikan teladan sempurna dalam hal ini ketika beliau berkata: "Ini adalah karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur" (QS. An-Naml: 40).
Ketiadaan syukur hati akan melahirkan kesombongan spiritual, di mana seseorang merasa bahwa nikmat yang diperoleh adalah hasil usahanya semata. Padahal, bahkan kemampuan untuk berusaha pun merupakan nikmat dari Allah.
Ibnu Qayyim menegaskan bahwa mengucapkan "Alhamdulillah" itu sendiri adalah nikmat dari Allah, dan nikmat yang diucapkan syukur untuknya juga merupakan nikmat dari Allah. Kesadaran berlapis ini menghancurkan setiap benih kesombongan dan menumbuhkan kerendahan hati yang sejati.
2. Memuji Allah dengan Lisan (Syukur dengan Lisan)
Adab kedua adalah mengejawantahkan kesadaran hati ke dalam pujian lisan kepada Allah SWT. Syukur dengan lisan berarti mengakui secara verbal bahwa segala nikmat berasal dari Allah, disertai pujian dan sanjungan kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan dalam Surat Adh-Dhuha ayat 11: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya."
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: "Sebarkanlah apa yang Allah SWT kurniakan kepada kamu dengan perasaan syukur dan pujian kepada Allah. Menyebut-sebut pelbagai nikmat Allah dan mengiktiraf nikmat tersebut adalah satu bentuk kesyukuran".
Dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa syukur dengan lidah adalah mengakui anugerah dan memuji Pemberinya. Lisan menyucikan dan memuji Allah, sementara pikiran dan hati melalui perhatian terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya. Praktik ini bukan sekadar mengucapkan "Alhamdulillah" secara mekanis, tetapi menghadirkan makna terdalam dari pujian tersebut.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa yang mencerminkan syukur lisan yang sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim: "Ya Allah, nikmat apapun yang ada padaku di waktu pagi ini atau pada selainnya, maka dari-Mu, Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, maka bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu segala syukur."
Syukur lisan juga mencakup tahadduts bin ni'mah, yaitu menceritakan nikmat Allah kepada orang lain dengan tujuan yang benar. Hadis Nabi SAW menyebutkan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah dia berkata baik atau diam."
Dalam konteks nikmat, menceritakan nikmat Allah merupakan bentuk syukur, sementara menyembunyikannya adalah bentuk pengingkaran. Namun, menceritakan nikmat ini harus dilakukan dengan niat yang bersih, bukan untuk pamer atau menyombongkan diri.
3. Menggunakan Nikmat Sesuai Tujuan Penganugerahannya (Syukur dengan Perbuatan)
Adab ketiga, dan yang paling menantang, adalah menggunakan setiap nikmat sesuai dengan tujuan Allah menganugerahkannya. Syukur dengan perbuatan berarti mengarahkan nikmat kepada apa yang diredhai Allah, bukan kepada apa yang dimurkai-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Saba' ayat 13: "Beramallah kamu wahai keluarga Daud untuk bersyukur!" Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah ini mengandung makna: "Beramalah kamu sebagai tanda bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada kamu dalam agama dan dunia".
Syekh Ibnu Ajibah dalam Tafsir al-Bahr al-Madid menegaskan bahwa syukur dengan perbuatan adalah memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya, serta menuntut penerima nikmat untuk merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memperkuat hal ini dengan menjelaskan bahwa syukur dalam arti melakukan aktivitas yang mengandung penghormatan kepada Pemberi nikmat, seperti memuji-Nya.
Secara praktis, syukur dengan perbuatan terwujud dalam berbagai bentuk sesuai jenis nikmat yang diterima. Nikmat harta disyukuri dengan menginfakkannya di jalan Allah dan menggunakannya untuk kebaikan, bukan untuk berfoya-foya.
Nikmat kesehatan disyukuri dengan menggunakan tubuh untuk beribadah dan beramal soleh, bukan untuk berbuat maksiat. Nikmat ilmu disyukuri dengan mengajarkannya kepada orang lain dan mengamalkannya, bukan untuk menipu atau merendahkan sesama. Nikmat waktu disyukuri dengan mengisinya dengan amal yang bermanfaat, bukan menyia-nyiakannya dalam kelalaian.
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan tertinggi dalam syukur perbuatan. Meskipun beliau telah dijamin masuk surga, beliau tetap melaksanakan shalat malam hingga kakinya bengkak. Ketika Aisyah RA bertanya, "Mengapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?" Nabi menjawab: "Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?" (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa syukur perbuatan bukanlah respons atas dosa yang diampuni, melainkan ekspresi cinta dan penghambaan kepada Allah.
4. Menjaga Nikmat agar Tidak Digunakan untuk Kemaksiatan
Adab keempat merupakan kelanjutan dari adab ketiga, yaitu komitmen untuk menjaga nikmat agar tidak digunakan dalam kemaksiatan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menegaskan bahwa salah satu rukun syukur adalah menjaga nikmat agar tidak dipakai dalam kemaksiatan.
Ini berarti seorang muslim harus memiliki kesadaran aktif untuk mengawasi penggunaan setiap nikmat yang diterimanya. Nikmat harta tidak boleh digunakan untuk membeli barang haram atau menyuap. Nikmat kekuasaan tidak boleh digunakan untuk menindas atau berbuat zalim. Nikmat kecerdasan tidak boleh digunakan untuk menipu atau merancang kejahatan.
Al-Qur'an memperingatkan dalam Surat Ibrahim ayat 7: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kufur dalam ayat ini berarti menutupi nikmat, bukan mendustakan Allah. Menutupi nikmat dapat berupa menggunakan nikmat untuk hal-hal yang tidak diredhai Allah. Pelanggaran terhadap adab ini berakibat pada pencabutan nikmat dan azab yang pedih.
Rasulullah SAW mengajarkan doa yang mencerminkan kesadaran menjaga nikmat: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesehatan yang Engkau berikan kepadaku, datangnya azab-Mu secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu."
Doa ini mengajarkan bahwa menjaga nikmat adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar kehati-hatian duniawi. Umar ibn Abdul Aziz pernah berkata: "Ikatlah nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah. Kesyukuran penambat nikmat dan pintu membuka tambahan rezeki".
5. Bersabar dalam Menghadapi Ujian yang Menyertai Nikmat
Adab kelima yang sering dilupakan adalah kesabaran dalam menghadapi ujian yang menyertai nikmat. Setiap nikmat pada hakikatnya mengandung ujian, karena nikmat adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Surat Al-Baqarah ayat 152-153 secara berurutan menyebutkan perintah bersyukur dan perintah bersabar, menunjukkan keterkaitan erat antara keduanya.
Dalam Jurnal Nilai-Nilai Pendidikan dari Q.S Al-Baqarah Ayat 152-153, dijelaskan bahwa syukur dan sabar adalah dua sikap yang harus dimiliki setiap muslim untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidupnya. Allah berjanji dengan bersyukur akan menambah kenikmatan, dan dengan bersabar akan memberikan kebaikan, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Sabar dalam konteks nikmat berarti menahan diri dari kesombongan, tidak melampaui batas dalam menikmati nikmat, dan tetap teguh dalam ketaatan meskipun nikmat dapat melalaikan. Nabi SAW bersabda: "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Semua urusannya baik. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu baik baginya" (HR. Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa syukur dan sabar adalah dua sayap yang membawa seorang mukmin terbang menuju kebaikan dalam setiap keadaan.
Sabar juga berarti tidak terburu-buru dalam menikmati nikmat yang belum waktunya, dan tidak membanding-bandingkan nikmat yang dimiliki dengan nikmat orang lain. Sikap qana'ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, merupakan manifestasi sabar dalam menerima nikmat. Nabi SAW bersabda: "Jadilah orang yang qana'ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur" (HR. Ibnu Majah).
Hikmah Mengamalkan Adab Ketika Mendapatkan Nikmat dari Allah
1. Nikmat akan Semakin Bertambah dan Berkah
Hikmah pertama dan paling langsung dari mengamalkan adab menerima nikmat adalah janji Allah untuk menambah nikmat. Surat Ibrahim ayat 7 menegaskan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." Ini adalah janji ilahi yang pasti, bukan sekadar harapan.
Dalam Jurnal Makna Syukur dalam Al-Qur'an, dijelaskan bahwa orang yang bersyukur akan diberikan tambahan kenikmatan, sementara orang yang mengingkari nikmat akan mendapatkan azab atau siksaan yang pedih. Penambahan nikmat ini tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga kualitatif, berupa keberkahan yang membuat nikmat yang sedikit terasa cukup dan bermanfaat.
2. Ketenangan Jiwa dan Kesehatan Mental
Hikmah kedua adalah diperolehnya ketenangan jiwa dan kesehatan mental. Penelitian yang dilakukan oleh Nasution (2021) menemukan bahwa praktik dzikir dan syukur yang teratur secara signifikan mengurangi stres dan kecemasan pada masyarakat urban. Dalam Tafsir al-Bahr al-Madid, Syekh Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa dzikir dengan hati melahirkan bashirah yang membuka mata hati untuk melihat hikmah di balik setiap nikmat, sehingga seseorang tidak mudah gelisah atau kecewa.
Adab menerima nikmat mengajarkan penerimaan yang lapang, tidak iri terhadap keberhasilan orang lain, dan fokus pada apa yang dimiliki.
3. Terhindar dari Kufur Nikmat dan Kesombongan Spiritual
Hikmah ketiga adalah perlindungan dari kufur nikmat dan kesombongan spiritual. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa orang yang mendurhakai Allah berarti telah melupakan Allah, meskipun ia banyak bertasbih dan membaca Al-Qur'an.
Adab menerima nikmat menjaga seseorang dari jebakan merasa bahwa keberhasilan adalah hasil usahanya semata. Dalam Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab menekankan bahwa dengan mengenal Allah, seseorang akan kagum dan patuh kepada-Nya, dan dengan mengenal fungsi anugerah-Nya, seseorang akan melakukan amal yang tepat.
4. Terbangunnya Kesadaran Sosial dan Empati
Hikmah keempat adalah terbangunnya kesadaran sosial dan empati terhadap sesama. Adab menerima nikmat mengajarkan bahwa nikmat adalah amanah yang harus dibagikan, bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Dalam Jurnal Nilai-Nilai Pendidikan dari Q.S Al-Baqarah Ayat 152-153, dijelaskan bahwa nilai pendidikan dari ayat ini meliputi kesadaran sosial yang mendorong siswa untuk berkontribusi positif bagi masyarakat, melatih empati, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial.
Syukur dengan perbuatan mendorong seseorang untuk berbagi nikmat dengan orang lain, sehingga tercipta solidaritas dan keadilan sosial.
5. Terbukanya Pintu Transformasi Spiritual yang Berkelanjutan
Hikmah kelima adalah terbukanya pintu transformasi spiritual yang berkelanjutan. Dalam Tafsir al-Bahr al-Madid, Syekh Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa dzikir yang konsisten akan membentuk karakter dan mengubah orientasi hidup.
Dzikir dengan sirr, tingkatan tertinggi, membawa seorang hamba larut dalam kesadaran ilahi, sehingga segala sesuatu selain Allah kehilangan daya tariknya. Adab menerima nikmat yang diamalkan secara konsisten akan melahirkan kesadaran ilahi yang kuat, melembutkan jiwa, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan ketakwaan. Ini adalah perjalanan spiritual seumur hidup yang tidak pernah berhenti.
Pertanyaan Seputar Adab Muslim
1. Apa saja adab seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah?
Adab seorang muslim ketika mendapatkan nikmat dari Allah meliputi: mengakui dan meyakini bahwa segala nikmat berasal dari Allah (syukur dengan hati), memuji Allah dengan lisan, menggunakan nikmat sesuai tujuan penganugerahannya, menjaga nikmat agar tidak digunakan untuk kemaksiatan, dan bersabar dalam menghadapi ujian yang menyertai nikmat.
2. Apa dalil Al-Qur'an tentang perintah bersyukur atas nikmat Allah?
Dalil utamanya adalah Surat Al-Baqarah ayat 152: "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." Selain itu, Surat Ibrahim ayat 7: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
3. Apa perbedaan syukur dengan hati, lisan, dan perbuatan?
Syukur dengan hati adalah kepuasan batin dan keyakinan bahwa semua nikmat berasal dari Allah. Syukur dengan lisan adalah mengakui anugerah dan memuji Allah secara verbal. Syukur dengan perbuatan adalah menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan penganugerahannya dan menjaganya dari kemaksiatan.
4. Apa hikmah mengamalkan adab menerima nikmat dari Allah?
Hikmahnya meliputi; nikmat akan semakin bertambah dan berkah, diperolehnya ketenangan jiwa dan kesehatan mental, terhindar dari kufur nikmat dan kesombongan spiritual, terbangunnya kesadaran sosial dan empati, serta terbukanya pintu transformasi spiritual yang berkelanjutan.
5. Bagaimana cara mengamalkan adab menerima nikmat dalam kehidupan sehari-hari?
Amalkan dengan selalu mengucapkan "Alhamdulillah" dengan kesadaran penuh, menggunakan nikmat untuk ketaatan dan kebaikan, menjaga nikmat dari kemaksiatan, bersikap qana'ah dan tidak membanding-bandingkan nikmat dengan orang lain, serta bersabar dalam menghadapi ujian yang menyertai nikmat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371326/original/098310100_1791783590-cek_fakta_bonus_timnas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371262/original/060653500_1791780398-Your_paragraph_text__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371231/original/057982500_1791778126-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-12T110752.487.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371204/original/095998100_1791775708-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-12T102632.397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4199341/original/055639700_1666344669-bacaan-doa-untuk-orang-meninggal-latin-dan-artinya.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371662/original/066552600_1791798516-Desain_Tanpa_Judul__18_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4827867/original/095704100_1715333137-IMG_0128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371568/original/022975400_1791794667-1001754213.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371587/original/077348700_1791795184-1256360.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371271/original/095952400_1791781012-IMG-20261012-WA0037.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327986/original/040976600_1787131973-20260819_111314.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371460/original/094720800_1791790611-IMG_4530_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371270/original/092807600_1791781012-IMG-20261012-WA0035.jpg)