Prediksi Musim Hujan 2026, BMKG Beberkan Tentang Penghambatnya

Prediksi musim hujan 2026 mundur di 61,08% wilayah Indonesia. BMKG ungkap penyebab, jadwal awal dan puncaknya.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prediksi musim hujan 2026/2027 dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan awal musim hujan di 61,08 persen wilayah Indonesia mundur dari jadwal normal. 

Sebagaimana terpantau di Yogyakarta dan sejumlah wilayah, kondisi cuaca masih terasa terik bahkan sejak pukul 08.00 WIB, pagi. Menurut BMKG, terdapat dua fenomena yang menghambat datangnya curah hujan, sehingga kemarau berlanjut dan musim hujan datang terlambat di banyak daerah.

Lalu, wilayah mana yang lebih dulu mendapat hujan, kapan puncaknya tiba, dan apa yang perlu disiapkan warga? Berikut penjelasan selengkapnya, dirangkum Liputan6, Senin (12/10).

Memasuki Pertengahan Oktober Masih Terasa Panas

Hingga pertengahan Oktober 2026, BMKG mencatat 556 zona musim atau 61,91 persen daratan Indonesia masih berada dalam musim kemarau. Kondisi ini membuat hujan jarang turun di banyak daerah.

Hari tanpa hujan di banyak titik pengamatan melampaui 60 hari dan tersebar di 25 provinsi. Catatan terpanjang berada di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 131 hari atau lebih dari empat bulan.

Adapun penyebab utamanya adalah fenomena El Niño dengan intensitas yang sangat kuat dan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD). Masyarakat pun diminta waspada, mengingat potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan berpotensi terjadi pada September hingga Oktober, selama hujan belum turun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman resmi BMKG.

Terjadi Anomali Suhu Muka Air Laut

BMKG menyebut El Niño sebagai penyebab utama. Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada Agustus 2026 mencapai +2,83, masuk kategori El Niño sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun. Kedua fenomena tersebut memperpanjang kekeringan, sehingga musim hujan mundur dan durasinya berkurang.

El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027. BMKG meminta pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat menyusun langkah antisipasi. El Niño 2026 memunculkan kemarau di beberapa zona musim bertipe hujan sepanjang tahun.

Musim Hujan Diprediksi Mulai Masuk November

Prediksi musim hujan BMKG menyebut 185 zona musim atau 24,66 persen daratan Indonesia masuk musim hujan pada November 2026, diawali dari Sumatera bagian utara lalu bertahap ke wilayah lain.

Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, Maluku Utara, dan Maluku, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Barat bagian utara, serta sebagian Papua Selatan.

Pada Desember 2026, musim hujan menyusul di 266 zona musim atau 17,31 persen daratan, mencakup sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi, serta sebagian Lampung, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, dan Maluku.

Kapan Puncak Musim Hujan 2026

Prediksi musim hujan BMKG menyebut puncaknya terjadi pada Desember 2026 di 36,94 persen daratan, Januari 2027 di 25,68 persen, dan Februari 2027 di 16,79 persen.

Desember dialami sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, dan Papua bagian utara. Januari mencakup sebagian Jawa, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Bali bagian tengah. Februari mencakup sebagian besar Jawa, Bali, NTT, dan Papua, serta sebagian Sulawesi Selatan.

Puncak di 50,76 persen daratan diprediksi mundur dari normal, sedangkan 39,69 persen sama dengan normal. Durasi musim hujan di 51,90 persen daratan diprediksi di bawah normal.

Hal yang Harus Dipersiapkan untuk Menghadapi Musim Hujan

Selama hujan belum turun, BMKG menyarankan penghematan air dan penambahan kapasitas tampung air di rumah. Petani disarankan memakai jadwal dan jenis tanaman bersiklus tanam singkat. Pemerintah daerah diminta memetakan cekungan air tanah dan lokasi sumur bor.

Saat hujan datang, bersihkan saluran drainase dan siapkan jalur evakuasi karena banjir dan longsor berpotensi terjadi pada awal dan puncak musim hujan. Jaga sirkulasi udara agar kelembapan ruangan turun.

Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk untuk menekan demam berdarah dan penyakit akibat genangan. Informasi ini bisa menjadi acuan, dan warga dapat berkonsultasi dengan kantor BMKG terdekat.

Pertanyaan Seputar Musim Hujan 2026

Kapan musim hujan 2026 dimulai?

BMKG memprediksi musim hujan mulai pada November 2026 di sebagian wilayah dan Desember 2026 di wilayah lain. Awal musim hujan mundur dari normal di 61,08 persen daratan Indonesia.

Mengapa musim hujan 2026 mundur?

El Niño berintensitas sangat kuat dan IOD yang terjadi bersamaan mengurangi curah hujan, sehingga kekeringan berlanjut dan musim hujan datang setelah jadwal normal.

Apakah curah hujan musim hujan 2026/2027 normal?

Curah hujan di 69,76 persen daratan Indonesia diprediksi normal. Sebanyak 18,55 persen daratan diprediksi di atas normal dan 11,69 persen di bawah normal.

Berapa lama musim hujan 2026/2027 berlangsung?

Durasinya diprediksi di bawah normal di 51,90 persen daratan, di atas normal di 8,58 persen, dan sama dengan normal di 5,06 persen.

Apa yang perlu dilakukan selama hujan belum turun?

Hemat pemakaian air, tambah tempat penampungan air di rumah, dan waspadai kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, terutama pada Oktober.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6