Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional, Ini 7 Bencana yang Mengancam Indonesia

Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional menjadi pengingat bahwa Indonesia dihadapkan pada berbagai ancaman bencana.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 14:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja. Indonesia termasuk negara yang memiliki beragam potensi bencana karena kondisi geografisnya berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik, memiliki banyak gunung api aktif, serta menghadapi pengaruh iklim tropis yang memicu hujan lebat dan cuaca ekstrem.

Peringatan yang dikenal secara internasional sebagai International Day for Disaster Risk Reduction ini diperingati setiap 13 Oktober. Momentum tersebut mengingatkan bahwa upaya mengurangi risiko bencana tidak cukup hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga perlu dimulai melalui pencegahan, kesiapsiagaan, edukasi, dan perencanaan yang matang.

Ada berbagai jenis bencana yang perlu diwaspadai di Indonesia, mulai dari gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api hingga banjir, tanah longsor, kekeringan, serta cuaca ekstrem. Memahami karakteristik setiap ancaman dapat membantu masyarakat mengenali risiko di lingkungan tempat tinggal dan mengetahui langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi diri. Lantas apa saja bencana yang mengancam Indonesia? Melansir dari berbagai sumber, Senin (12/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Gempa Bumi, Ancaman yang Dapat Terjadi Tanpa Peringatan

Gempa bumi menjadi salah satu bencana yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Aktivitas pergerakan lempeng tektonik dan sesar aktif di berbagai wilayah dapat memicu guncangan yang berpotensi merusak bangunan, memutus jaringan transportasi, serta mengganggu layanan listrik, air bersih, dan komunikasi.

Dampak gempa bumi sangat dipengaruhi oleh kekuatan guncangan, kedalaman sumber gempa, jarak dari pusat gempa, kondisi tanah, serta ketahanan bangunan. Gempa yang terjadi di wilayah padat penduduk dapat menimbulkan kerugian besar apabila bangunan tidak dirancang sesuai standar ketahanan gempa dan masyarakat tidak memahami prosedur penyelamatan diri.

Salah satu langkah penting untuk mengurangi risikonya adalah memastikan bangunan memiliki konstruksi yang memadai dan mengetahui lokasi aman di dalam maupun di luar rumah. Ketika guncangan terjadi, masyarakat dapat melakukan langkah drop, cover, and hold on, yaitu merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan berpegangan hingga guncangan berhenti. Setelah itu, segera menuju tempat terbuka dengan tetap mewaspadai reruntuhan dan bahaya lainnya.

2. Tsunami, Gelombang Berbahaya yang Mengancam Wilayah Pesisir

Tsunami merupakan rangkaian gelombang laut yang dapat terbentuk akibat gangguan besar pada massa air, terutama gempa bumi bawah laut yang menyebabkan pergeseran dasar laut. Dalam kondisi tertentu, tsunami juga dapat dipicu oleh aktivitas vulkanik atau longsoran bawah laut.

Indonesia memiliki banyak wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan zona subduksi dan aktivitas tektonik. Kondisi tersebut membuat sejumlah kawasan pantai berpotensi menghadapi tsunami, khususnya apabila terjadi gempa kuat yang berpusat di laut dan memicu perubahan dasar laut secara signifikan.

Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah pesisir perlu mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul, dan lokasi dataran tinggi yang aman. Jika merasakan gempa kuat atau berlangsung lama di daerah pantai, atau melihat tanda alam seperti air laut surut secara tidak biasa, segera menjauh dari pantai dan menuju tempat tinggi tanpa menunggu gelombang terlihat. Peringatan resmi dari pihak berwenang tetap perlu diperhatikan, tetapi evakuasi mandiri harus segera dilakukan ketika tanda bahaya alam tersebut muncul.

3. Letusan Gunung Api, Bahaya Abu Vulkanik hingga Awan Panas

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, wilayah yang memiliki aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi. Karena itu, letusan gunung api menjadi salah satu ancaman yang perlu diantisipasi, terutama oleh masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api aktif.

Bahaya letusan tidak hanya berupa lava. Material vulkanik dapat meliputi awan panas, lontaran batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan aliran lahar yang terbentuk ketika material vulkanik bercampur dengan air. Masing-masing memiliki karakteristik dan jangkauan bahaya berbeda, sehingga tingkat risikonya bergantung pada kondisi gunung api dan lokasi permukiman.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat perlu mengikuti informasi aktivitas gunung api dari lembaga berwenang dan mematuhi rekomendasi zona bahaya. Ketika terjadi hujan abu, gunakan masker yang sesuai dan pelindung mata, serta kurangi aktivitas di luar ruangan. Hindari mendekati kawah atau memasuki alur sungai yang berpotensi dilalui lahar, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan gunung.

4. Banjir, Bencana yang Mengancam Permukiman dan Aktivitas Warga

Banjir termasuk bencana yang dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama. Air sungai yang meluap, saluran drainase yang tidak mampu menampung debit air, berkurangnya daerah resapan, serta perubahan tata guna lahan dapat meningkatkan risiko banjir di kawasan permukiman.

Dampak banjir tidak hanya berupa rumah yang terendam dan kerusakan barang-barang. Bencana ini juga dapat mengganggu transportasi, melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak fasilitas umum, serta meningkatkan risiko penyakit akibat air yang tercemar. Pada kondisi tertentu, banjir dapat berkembang menjadi banjir bandang dengan aliran air yang deras dan membawa material seperti lumpur, kayu, serta bebatuan.

Upaya mengurangi risiko banjir dapat dimulai dari lingkungan rumah, seperti menjaga saluran air tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dan memperbanyak area resapan sesuai kondisi lahan. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir sebaiknya memantau informasi cuaca, mengetahui jalur evakuasi, serta menyimpan dokumen penting dan perlengkapan darurat di tempat yang aman. Jika air mulai masuk ke rumah dan terus meningkat, utamakan keselamatan penghuni daripada menyelamatkan barang.

5. Tanah Longsor, Ancaman di Lereng dan Kawasan Perbukitan

Tanah longsor terjadi ketika massa tanah atau batuan bergerak menuruni lereng akibat terganggunya kestabilan tanah. Bencana ini kerap mengancam wilayah perbukitan dan pegunungan, terutama ketika hujan deras membuat tanah semakin jenuh air. Kondisi lereng yang curam, perubahan tutupan lahan, pemotongan tebing, dan sistem drainase yang buruk juga dapat meningkatkan kerentanan suatu kawasan.

Longsor dapat terjadi secara tiba-tiba dan menimbun rumah, jalan, maupun fasilitas umum. Selain menimbulkan korban jiwa, kejadian ini dapat memutus akses antardesa, menghambat distribusi kebutuhan pokok, dan mengisolasi warga yang membutuhkan pertolongan. Material longsor juga berpotensi menyumbat aliran sungai sehingga menimbulkan ancaman tambahan apabila sumbatan tersebut jebol.

Masyarakat yang tinggal di sekitar lereng perlu mengenali tanda-tanda awal, seperti munculnya retakan baru di tanah atau dinding, pohon dan tiang yang mulai miring, serta rembesan air yang tidak biasa. Suara gemuruh atau pergerakan tanah juga harus diwaspadai. Jika terdapat indikasi longsor, segera menjauh dari lereng menuju lokasi yang lebih aman dan ikuti arahan petugas. Jangan menunggu sampai material tanah benar-benar bergerak untuk melakukan evakuasi.

6. Kekeringan, Ancaman terhadap Ketersediaan Air dan Pangan

Kekeringan merupakan bencana yang berkembang secara bertahap ketika ketersediaan air tidak mencukupi kebutuhan masyarakat dan lingkungan dalam periode tertentu. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh curah hujan yang rendah, musim kemarau berkepanjangan, berkurangnya cadangan air, serta pengelolaan sumber daya air yang kurang memadai.

Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sulitnya memperoleh air bersih hingga terganggunya kegiatan pertanian. Kekeringan yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan tanaman gagal panen, menurunkan produktivitas peternakan, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta lahan. Apabila berlangsung luas, kondisi tersebut bisa memengaruhi pasokan pangan dan penghasilan masyarakat.

Untuk mengurangi dampaknya, penggunaan air perlu dilakukan secara bijak, terutama ketika memasuki musim kemarau. Masyarakat dapat memperbaiki kebocoran saluran air, menampung air hujan jika memungkinkan, dan menjaga sumber air agar tidak tercemar. Di sektor pertanian, pemilihan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi setempat dan pengaturan jadwal tanam dapat membantu mengurangi kerugian. Pemerintah daerah dan masyarakat juga perlu menyiapkan langkah pemenuhan kebutuhan air bagi kelompok yang paling rentan.

7. Cuaca Ekstrem, Mulai dari Angin Kencang hingga Hujan Lebat

Cuaca ekstrem dapat berupa hujan lebat, angin kencang, hujan es, dan fenomena atmosfer lainnya yang berpotensi mengganggu keselamatan serta aktivitas masyarakat. Dampaknya dapat muncul dalam waktu singkat, misalnya ketika angin kencang merobohkan pohon, merusak atap rumah, atau menjatuhkan papan reklame. Hujan lebat juga dapat memicu banjir dan meningkatkan risiko tanah longsor di kawasan yang rentan.

Ancaman cuaca ekstrem perlu diperhatikan karena dampaknya tidak selalu terbatas pada satu jenis bencana. Hujan dengan intensitas tinggi dapat memperburuk kondisi sungai dan lereng, sedangkan angin kencang dapat membahayakan pengendara maupun warga yang berada di luar ruangan. Kawasan pesisir juga dapat menghadapi risiko gelombang tinggi dan angin kencang sesuai kondisi cuaca setempat.

Masyarakat dapat mengurangi risiko dengan memantau prakiraan dan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Periksa kondisi atap rumah, pangkas cabang pohon yang rapuh secara aman, dan hindari berteduh di bawah pohon besar ketika angin kencang atau petir terjadi. Saat cuaca memburuk, batasi perjalanan yang tidak mendesak dan jauhi papan reklame, tiang, serta benda-benda yang berpotensi roboh. Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi paparan terhadap bahaya cuaca ekstrem.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional

1. Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional diperingati setiap tanggal berapa?

Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional diperingati setiap 13 Oktober. Peringatan ini ditetapkan melalui inisiatif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya mengurangi risiko bencana.

2. Apa tujuan Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional?

Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko bencana, mendorong upaya pencegahan, dan memperkuat kesiapsiagaan agar dampak bencana terhadap manusia, lingkungan, dan perekonomian dapat dikurangi.

3. Mengapa Indonesia rawan bencana?

Indonesia memiliki kondisi geografis dan geologis yang kompleks, termasuk aktivitas tektonik, banyak gunung api aktif, serta iklim tropis yang memengaruhi pola hujan. Kondisi tersebut membuat berbagai wilayah menghadapi ancaman bencana dengan karakteristik yang berbeda-beda.

4. Apa saja 7 bencana yang mengancam Indonesia?

Tujuh jenis bencana yang perlu diwaspadai adalah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Tingkat risiko masing-masing bencana berbeda menurut kondisi geografis, lingkungan, dan kesiapan masyarakat di setiap daerah.

5. Bagaimana cara mengetahui apakah tempat tinggal berada di wilayah rawan bencana?

Masyarakat dapat memeriksa peta risiko melalui platform InaRISK milik BNPB, mengikuti informasi dari BPBD setempat, dan memperhatikan peringatan dari lembaga resmi seperti BMKG atau Badan Geologi sesuai jenis ancamannya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6