Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional yang jatuh pada tanggal 13 Oktober setiap tahunnya menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya ketahanan bencana. Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki potensi bencana alam cukup tinggi, perlu menaruh perhatian serius terhadap penguatan kapasitas masyarakat. Pengurangan risiko bukan sekadar aksi tanggap darurat saat bencana terjadi, melainkan serangkaian upaya pencegahan, edukasi, dan mitigasi berkelanjutan.
Sejarah mencatat bahwa mitigasi yang terencana dapat menekan jumlah korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta kerugian sosial-ekonomi. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga internasional, dan seluruh elemen masyarakat, budaya sadar bencana terus dibangun. Dalam konteks nasional, peringatan ini sejalan dengan upaya mitigasi berbasis komunitas yang terus digalakkan di berbagai wilayah tanah air.
Sebagai masyarakat, memahami potensi ancaman di sekitar tempat tinggal merupakan langkah awal yang sangat krusial. Dengan meningkatkan pemahaman mengenai tata cara evakuasi, penyediaan perlengkapan darurat, hingga penguatan bangunan, risiko bencana dapat diminimalkan. Berikut adalah pembahasan komprehensif mengenai Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional, ancaman bencana di Indonesia, serta peran aktif masyarakat, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (12/10/2026).
Advertisement
Sejarah Penetapan Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4458178/original/050647500_1686209005-earthquake-g477b52052_640.jpg)
Gagasan mengenai Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional pertama kali dicetuskan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989. Peringatan ini awalnya diinisiasi sebagai bagian dari Dekade Pengurangan Bencana Alam Internasional untuk mendorong budaya global dalam meminimalkan dampak bencana alam. Selanjutnya, pada tahun 2002, Majelis Umum PBB memutuskan untuk mempertahankan upaya mitigasi global ini secara rutin tahunan, hingga akhirnya menetapkan tanggal 13 Oktober secara resmi pada tahun 2009.
Setiap tahunnya, peringatan ini mengusung tema spesifik yang memfokuskan perhatian pada berbagai lini kesiapsiagaan. Misalnya, penekanan pada peran pendidikan generasi muda hingga penguatan pendanaan ketahanan bencana di tingkat lokal. PBB melalui instansi terkait terus mengimbau negara-negara anggota untuk memperkuat Kerangka Kerja Sendai, yang menekankan pencegahan risiko bencana berbasis manusia dan tindakan nyata di lapangan.
Momentum ini juga menegaskan bahwa bencana memberikan dampak paling berat pada tingkat lokal. Oleh karena itu, penguatan kapasitas di tingkat komunitas dan keluarga menjadi pilar utama dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana alam maupun buatan manusia.
Advertisement
Potensi Bencana Alam yang Mengancam Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345140/original/019988300_1789021509-1001648010.jpg)
Secara geografis dan geologis, Indonesia terletak di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) serta berada di titik pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif. Kondisi ini menyebabkan Indonesia menghadapi berbagai risiko bencana alam yang berulang, seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Gempa bumi dapat terjadi tanpa peringatan dini, sementara erupsi gunung api membawa ancaman berupa awan panas, lontaran material pijar, hingga lahar.
Selain bahaya geologis, kondisi iklim tropis dan perubahan cuaca juga memicu bencana hidrometeorologi. Bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem (angin kencang serta hujan lebat) kerap melanda berbagai wilayah permukiman. Tanah longsor umumnya mengancam daerah perbukitan saat curah hujan tinggi, sedangkan kekeringan berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan.
Memahami karakteristik dari setiap ancaman bencana, baik gempa bumi, tsunami, erupsi gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, maupun cuaca ekstrem, adalah kunci utama. Dengan mengenali tanda-tanda awal dan memantau pemetaan risiko wilayah, masyarakat dapat meminimalkan dampak buruk yang timbul.
Â
Peran dan Langkah Nyata Masyarakat dalam Mengurangi Risiko Bencana
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5404003/original/037895500_1762348042-1.jpg)
Masyarakat memiliki peran kunci dalam rantai kesiapsiagaan bencana. Langkah awal yang dapat dilakukan di tingkat keluarga dan tempat kerja adalah memastikan struktur bangunan terpasang aman, memperkuat perabot yang berisiko roboh, serta mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul darurat. Edukasi mengenai tata cara perlindungan diri, seperti teknik merunduk, berlindung, dan berpegangan (drop, cover, hold on) saat gempa, harus dipahami oleh seluruh anggota keluarga.
Selain itu, setiap rumah tangga disarankan menyiapkan Tas Siaga Bencana dan perlengkapan darurat dasar. Perlengkapan utama yang perlu selalu tersedia meliputi kotak P3K, senter atau lampu baterai, radio pemancar informasi, serta persediaan air dan makanan cadangan. Persiapan ini penting agar keluarga dapat bertahan dalam kondisi darurat sebelum bantuan tiba.
Langkah penting lainnya adalah memantau informasi dan peringatan dini dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB, dan BPBD. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi (hoaks) serta selalu mematuhi instruksi evakuasi dari petugas berwenang demi keselamatan bersama.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional
Q: Kapan Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional diperingati?
A: Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional diperingati setiap tanggal 13 Oktober. Peringatan ini pertama kali digagas oleh PBB pada tahun 1989 untuk membangun budaya kesiapsiagaan bencana secara global.
Q: Apa tujuan utama dari peringatan Hari Pengurangan Risiko Bencana Internasional?
A: Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap pentingnya upaya pencegahan, pengurangan risiko, dan kesiapsiagaan guna meminimalkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta kerugian ekonomi akibat bencana.
Q: Mengapa Indonesia tergolong wilayah yang rawan bencana?
A: Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan pertemuan lempeng tektonik aktif, serta memiliki kondisi iklim tropis yang memicu bencana geologis (gempa, tsunami, erupsi gunung api) dan bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, cuaca ekstrem).
Q: Perlengkapan dasar apa saja yang wajib disiapkan di rumah untuk menghadapi situasi darurat bencana?
A: Perlengkapan dasar yang wajib ada meliputi kotak P3K, senter atau lampu baterai, radio untuk memantau informasi resmi, serta cadangan air minum dan makanan secukupnya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371648/original/023919200_1791798014-Cek_fakta_-_Lesti_kejora_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371326/original/098310100_1791783590-cek_fakta_bonus_timnas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371262/original/060653500_1791780398-Your_paragraph_text__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371231/original/057982500_1791778126-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-12T110752.487.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309834/original/000754000_1785290138-jap9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348997/original/064877300_1789466017-Lip6g_2025_07_30_r_luna_maya_maxime-20250730-014-busan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347554/original/004187500_1789355038-IMG-20260914-WA0017.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345842/original/084126900_1789095905-426728.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345106/original/035003500_1789018588-WhatsApp-Image-2026-09-10-at-10.28.21-AM-768x502.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344310/original/091472900_1788941996-1001647835.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344005/original/096950000_1788930671-IMG-20260909-WA0019.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343970/original/080518600_1788928889-1001646936.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4249793/original/054194300_1670217653-sadiq-nafee-nrnd1-fTsdQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343488/original/095256100_1788858511-Generated_image_1__8___4_.jpg)