Potret Sebaran Kebakaran Hutan, Kalteng Dikepung 3.268 Titik Panas

Kondisi ini membuat kualitas udara berada di titik sangat berbahaya.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 13:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Karhutla dan asap masih mengancam banyak wilayah Indonesia.
  • Titik panas melonjak sejak Agustus 2026, mencapai 12.183 di 33 provinsi.
  • Kualitas udara di Palangka Raya dan Palembang sangat buruk, kategori berbahaya.

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi ancaman asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Titik tak kunjung mereda, juga kian tersebar.

Di sejumlah wilayah, kualitas udara juga memburuk, menambah kekhawatiran masyarakat di tengah karhutla yang belum mereda.

 

Titik Panas Melonjak Sejak Agustus

Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan, jumlah titik panas melonjak sejak Agustus 2026. Berdasarkan data satelit Terra/Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi, jumlah titik mencapai sekitar 16.000 titik pada periode Agustus-September.

Memasuki Oktober, titik panas masih terdeteksi di berbagai wilayah. SiPongi mencatat 12.183 deteksi titik panas berkepercayaan tinggi di 33 provinsi selama 1-12 Oktober 2026.

Sebaran tersebut menunjukkan bahwa indikasi karhutla masih ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, bahkan ketika tahun ini mendekati penghujungnya.

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan deteksi titik panas terbanyak pada 1-12 Oktober 2026, yakni 3.268 titik. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat 719 titik, Kalimantan Selatan 368 titik, dan Kalimantan Timur 312 titik.

Jika digabungkan dengan Kalimantan Utara, jumlah deteksi di lima provinsi di Pulau Kalimantan mencapai 4.674 titik atau sekitar 38 persen dari total nasional pada periode tersebut.

Di luar Kalimantan, titik panas juga tersebar di wilayah lain. Pada periode 1-12 Oktober 2026, Papua Selatan mencatat 2.921 deteksi titik panas, sedangkan Sumatera Selatan mencapai 2.376 titik. Keduanya termasuk tiga provinsi dengan jumlah deteksi tertinggi secara nasional.

Di Sumatera Selatan, kondisi kualitas udara juga mengkhawatirkan. Pada 12 Oktober 2026, pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sejumlah titik di Palembang menunjukkan konsentrasi PM2.5 dalam kategori berbahaya.

Persebaran titik panas dan kondisi kualitas udara itu menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan di Kalimantan. Sejumlah wilayah lain juga menghadapi indikasi kebakaran dan kualitas udara yang perlu diwaspadai.

 

Kualitas Udara Sangat Buruk

Tingginya deteksi titik panas itu juga menjadi alasan untuk mencermati kondisi kualitas udara di kawasan tersebut. Berdasarkan pemantauan IQAir pada 12 Oktober 2026, indeks kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencapai 180 atau masuk kategori tidak sehat (unhealthy).

Sementara itu, Pangkalan Bun, Pontianak, dan Banjarmasin turut menunjukkan indeks kualitas udara pada kisaran di atas 170 dengan kategori tidak sehat.

Data-data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan perlu mendapat perhatian, bersamaan dengan masih tingginya deteksi titik panas.

Besarnya persoalan karhutla juga terlihat dari luas lahan yang terbakar. SiPongi mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 202.004,30 hektare sepanjang Januari-Juli 2026.

Angka tersebut meningkat sekitar 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Artinya, luas lahan yang terbakar selama tujuh bulan pertama tahun ini saja sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Data tersebut belum mencakup luas kebakaran pada Agustus hingga Oktober, ketika jumlah titik panas justru melonjak. Dengan demikian, angka itu belum menggambarkan keseluruhan luas lahan yang terbakar sepanjang 2026.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6