Liputan6.com, Jakarta - Seorang kolektor benda kuno bersama rekannya menemukan bom pesawat yang diduga peninggalan pendudukan Jepang di Dusun Pajalele, Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.
Bom yang tertimbun di dalam tanah itu ditemukan saat keduanya menyisir kawasan tersebut menggunakan alat pendeteksi logam pada Sabtu (10/10/2026).
Penemuan bermula ketika alat pendeteksi logam menangkap sinyal dari dalam tanah. Setelah digali, mereka menemukan benda berbahan besi berukuran besar yang bentuknya menyerupai bom.
Advertisement
Menyadari benda tersebut berpotensi membahayakan, keduanya melaporkan temuan itu kepada pemerintah desa dan aparat setempat. Pemeriksaan awal kemudian mengidentifikasi benda tersebut sebagai bom yang memerlukan penanganan khusus.
Wakil Komandan Subden Jibom Gegana Brimob Polda Sulawesi Selatan, Iptu Syahril, mengatakan benda tersebut merupakan bom pesawat atau aircraft bomb. Berdasarkan bentuk dan jenisnya, bom itu diduga berasal dari masa pendudukan Jepang.
"Dari jenisnya kita lihat itu memang untuk pesawat, bom aircraft namanya. Besar kemungkinan itu peninggalan Jepang," kata Syahril.
Bom tersebut ditemukan tertimbun tanah pada kedalaman sekitar 50 sentimeter. Berdasarkan data yang dihimpun, benda itu memiliki diameter sekitar 20 sentimeter dan panjang 60 sentimeter.
Syahril menjelaskan, bom tersebut tergolong unexploded ordnance (UXO), yakni munisi militer yang tidak meledak sebagaimana mestinya.
"Itu jenis bom pesawat, munisi militer. Jadi itu bom UXO namanya, bom yang sudah ditembakkan tapi tidak meledak," ujarnya.
Dia memperkirakan bom tersebut berasal dari sekitar 1945–1946, pada masa pendudukan Jepang. Namun, perkiraan itu belum memastikan secara pasti usia maupun asal bom yang ditemukan di Pinrang.
"Pendudukan Jepang tahun berapa di Pinrang? Sekitar tahun 1945–1946 lah," kata Syahril.
Syahril juga menyebut bom tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan dalam radius sekitar 200 meter apabila meledak.
"Itu sekitar 200 meter bisa menghancurkan bangunan di sekitar ketika ditembakkan," ungkapnya
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371588/original/004847100_1791795185-1256359.jpg)
Bom Dimusnahkan dengan Tiga Kali Peledakan
Temuan tersebut ditangani Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Brimob Polda Sulawesi Selatan. Petugas melakukan penanganan dan pemusnahan dengan mempertimbangkan potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar lokasi.
Tim Jibom memusnahkan bom itu pada Minggu (11/10/2026). Proses pemusnahan dilakukan melalui tiga tahap peledakan untuk memastikan bom tersebut telah hancur dan tidak lagi membahayakan.
Syahril menjelaskan, setiap tahap peledakan dilakukan untuk memastikan kondisi lokasi aman sebelum petugas meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP).
"Jadi tiga kali peledakan itu kita pastikan betul-betul aman. Dari peledakan pertama, kedua, sampai ketiga kita pastikan betul-betul aman, sehingga ketika kami pulang nanti tidak terjadi apa-apa di TKP," jelasnya.
Â
Advertisement
Jejak Sejarah Pendudukan Jepang
Kepala Desa Malimpung, Muhammad Sahrir, mengatakan wilayahnya dikenal sebagai kawasan yang kerap didatangi pencari benda antik yang diduga peninggalan Jepang.
Menurut dia, keberadaan benda-benda tersebut berkaitan dengan sejarah kawasan Malimpung pada masa perang. Wilayah itu disebut memiliki lapangan udara dan pangkalan yang diduga berkaitan dengan aktivitas militer Jepang.
"Ada lapangan udara di sini, itu katanya peninggalan Jepang. Makanya juga di kampung sebelah itu ada namanya Pangkalan, Kampung Pangkalan. Itu mungkin pangkalan waktu penjajahan Jepang," kata Sahrir.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371619/original/004076100_1791795972-FALSE__9_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348624/original/061599100_1789451727-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-15T125442.652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371648/original/023919200_1791798014-Cek_fakta_-_Lesti_kejora_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371326/original/098310100_1791783590-cek_fakta_bonus_timnas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371587/original/077348700_1791795184-1256360.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371738/original/091792900_1791802371-IMG-20261012-WA0081.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371735/original/003459600_1791801964-1256826.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371692/original/080681300_1791799974-IMG_20261012_170304.jpg)