Ada Target Besar di Balik Lonjakan Truk Listrik China

Pemerintah China semakin serius untuk mempercepat transisi menuju transportasi ramah lingkungan

Diterbitkan 18 Juni 2026, 16:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah China semakin serius untuk mempercepat transisi menuju transportasi ramah lingkungan. Melalui rencana yang dirilis oleh 11 kementerian, dan lembaga pemerintah, Negeri Tirai Bambu menargetkan kendaraan berat berbasis energi baru atau new energy heavy-duty trucks (NE-HDT) menguasai 40 persen pasar pada 2030.

Pada akhir dekade ini, jumlah truk berat energi baru di China diproyeksikan menembus 1,6 juta unit atau sekitar 20 persen dari total populasi truk berat yang beroperasi di negara tersebut.

Pemerintah juga berharap kendaraan-kendaraan tersebut dapat menangani sekitar 18 persen volume angkutan barang di jalan raya.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar China untuk menekan emisi karbon dari sektor transportasi. Truk berat diketahui menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar karena penggunaan mesin diesel yang dominan.

Dengan memperluas penggunaan kendaraan energi baru, pemerintah berharap dapat mempercepat dekarbonisasi industri logistik dan transportasi nasional.

Untuk mendukung target tersebut, China juga akan mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung.

Salah satu fokus utamanya adalah penambahan stasiun pengisian daya berdaya tinggi dan fasilitas penukaran baterai khusus kendaraan komersial.

Infrastruktur ini dinilai penting agar operasional truk listrik tetap efisien, terutama pada sektor logistik jarak menengah dan pendek.

Perkembangan pasar sebenarnya sudah menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, penetrasi truk berat energi baru di China terus meningkat.

Bahkan pada Desember 2025, penjualan kendaraan jenis ini mencapai lebih dari 45 ribu unit dan untuk pertama kalinya menguasai lebih dari 53 persen pasar truk berat bulanan.

Biaya Operasional yang Murah

Peningkatan tersebut tidak lepas dari keuntungan operasional yang ditawarkan kendaraan listrik.

Biaya penggunaan tahunan truk energi baru disebut lebih rendah dibandingkan model diesel konvensional, sehingga semakin menarik bagi operator armada dan perusahaan logistik yang ingin menekan biaya operasional.

Dengan target 40 persen pada 2030, China kembali menunjukkan ambisinya sebagai pemimpin global dalam elektrifikasi kendaraan.

Jika realisasinya berjalan sesuai rencana, pasar truk berat energi baru di negara tersebut akan menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dan berpotensi mengubah peta industri transportasi komersial global dalam beberapa tahun ke depan.